17 Agustus, 63 tahun yang lalu, Bung Karno dan Bung Hatta membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. 63 tahun sudah kita menikmati hidup merdeka dari penjajahan bangsa lain. Sebuah perjalanan yang cukup panjang, dan telah kita lalui dengan banyak airmata dan darah. Di era 1940-an bangsa kita memanggul bambu runcing, parang, dan senjata tradisional lainnya untuk mengusir penjajah Belanda, Jepang, dan antek-antek mereka. Mereka berjuang dengan motto "merdeka atau mati", dengan harapan generasi berikutnya dapat menikmati hidup merdeka dan sejahtera. Satu pertanyaan mengusik benakku: sudahkan bangsa Indonesia benar-benar merdeka?
Saya teringat pada satu kejadian menarik saat masih tinggal di Surabaya. Waktu itu saya perlu ke kantor pos besar Surabaya di daerah Jembatan Merah untuk mengambil paket kiriman dari mantan pacar (sekarang suami, red.). Saat antri, di depan saya berdiri seorang bapak paruh baya dengan pakaian batik yang warnanya sudah memudar, bersandal jepit, dan menggenggam sepucuk surat panggilan. Saat namanya dipanggil, wajahnya yang semula tampak lelah berubah sumringah. Tak lama kemudian, petugas menyerahkan sebuah bungkus kardus yang sudah terbuka, isinya (well, saya bisa melihat dengan jelas saat itu) ada sejumlah pakaian, celana jeans, kotak lampu neon, dan sepucuk surat beserta sejumlah foto. Bapak itu kemudian mencocokkan isi surat (yang ternyata dari anaknya yang menjadi TKW di Singapore) dengan barang-barang di kotak kardus. Kemudian dia berkata,"Maaf pak, kok handphone nya tidak ada disini? Anak saya bilang dia kirim handphone, dan dibungkus rapi di kotak bekas lampu neon. Tapi kok nda ada ya pak?" Si petugas mengecek ulang, dan memang si hp ini tidak bisa ditemukan. "Lha di label kirim tidak disebutkan kalau ada handphone. Salah anak bapak sendiri, mestinya dia sebutkan disini. Kalau hilang begini ya bukan tanggungjawab kantor pos pak." Setelah diceramahi mengenai "tata tertib" berkirim barang, si petugas minta bapak itu mengkontak anaknya, lalu kembali lagi lain hari. Giliran saya, paket (seperti juga paket si bapak itu) sudah terbuka, di "periksa" (bahasa jawanya di odhel-odhel) dan di rewrapped (dengan ongkos dibebankan ke penerima). Tapi, nasib saya lebih baik, karena isi paket utuh, meski sejumlah CD cover pecah. Saat saya berbalik, saya lihat bapak lugu itu duduk di lantai, dengan paket terbuka disisinya, menggenggam foto dan surat anaknya, dengan pandangan menerawang jauh, dan... airmata berlinang. Saya jadi iba. Saya ikut duduk disisinya dan mencoba mengajaknya bicara. Dan meluncurlah kisahnya: anaknya terpaksa jadi TKW di Singapore, karena si bapak tak lagi punya lahan untuk bercocok tanam. Seorang pengusaha, dengan backing aparat desa, memaksa sejumlah pemilik lahan untuk menjual tanahnya dengan harga dibawah rata-rata, dengan alasan akan dibangun jalan dan fasilitas umum. Ternyata yang dibangun adalah kawasan pertokoan dan pasar. Istrinya mengalami tekanan batin dan sakit. Anak gadisnya akhirnya menerima tawaran seorang agen untuk menjadi TKW. Selama setahun dia tak bisa menerima gaji penuh, karena sebagian besar untuk membayar fee si agen. Dan sekarang, saat dia sudah bisa menabung dan mengirimi orangtuanya handphone, dengan harapan akan memudahkan komunikasi, mimpinya hancur. Saya ikut prihatin dan sedih. Betapa teganya orang yang berbuat demikian terhadap keluarga miskin ini. Dengan memanfaatkan celah "pemeriksaan bea cukai", mereka "sortir" barang-barang yang tidak "diklaim" dalam "shipping declaration". Lalu apa gunanya kita punya mesin X-ray di port dan bandara ya, kalau ternyata akhirnya kita masih pakai teknologi "manual checking" begitu? Heran deh!
Nah, sekarang, bisakah kita mengaku diri merdeka di tengah-tengah saudara-saudara sebangsa yang hak-haknya terabaikan? Tertindas? Teraniaya? Terbungkam oleh karena sistem yang dibuat oleh bangsa kita sendiri? Saya sendiri malu mengaku diri merdeka, sementara saudara-saudara kita di Papua sana masih memakai koteka, padahal sumber daya alamnya sungguh besar. Tapi kemana gerangan hasil olah sumber daya alam nasional ini? Sudahkah pemerintah kita mendistribusikannya secara adil?
Kembali ke bapak lugu tadi, saya hanya bisa memberi direction kemana dia bisa mengadu. Termasuk nomer telpon saya dan telpon seorang rekan wartawan yang mungkin bisa meliput kisahnya. Tapi, sebagaimana sosok lugu rakyat jelata umumnya, dia menerima kejadian ini sebagai "nasib". "Saya sudah lega, anak saya baik-baik saja di negeri seberang", demikian ujarnya. Setelah ucap salam berpisah, dia menuntun sepeda tuanya, dengan paket terikat di belakang, kembali mengayuh perjalanan kembali ke desa berpuluh kilometer jauhnya.
Selamat Hari Proklamasi, pak...



0 comments:
Post a Comment