Berkesempatan berkunjung ke Jawa Tengah akhir tahun lalu merupakan pengalaman berkesan buat saya. Maklumlah, sudah lebih dari 20 tahun hidup di Indonesia, tapi hanya di Jakarta atau Bandung aja, itupun sesekali saja. Mo bagi2 dikit ah apa yang saya lihat.Nasi Tumpenggg, ini bener2 khas Jateng deh. Isinya tuh selain nasi putih/kuning yang dibentuk kerucut, ada rempeyek, gudeg, mendoan, ayam, tempeh pedes macam2 deh. Waktu itu saya makin nasi tumpeng pas lagi selamatan rumah baru teman saya. Yang memimpin acara nya itu ketua satpam di kompleks perumahannya. Beberapa tetangga juga hadir di acara ini. Yep, budaya silahturami masih kental disini. Acara ini diadakan di Purwokerto, Jateng.
Seriously, nanas Purwokerto itu manis abis. Bukan hanya kulit nya yang lunak dan gampang dikupas, daging buahnya juga ranum dan juicy banget. Waktu itu kami sempat memborong nanas si bapak yang lagi duduk jaga nanas2 panenannya. Si bapak penjual manen nanas, kita kebagian juga deh. Terima kasih banyak, Pak, laen kali kami mampir lagi.
Kalo sudah omongin makanan, susah untuk berhenti. Apalagi, kalo belum masuk ke makanan khas daerah tersebut. Raja soto lama, gudeg, martabak manis "bandung", telor, jagung bakar, dan roti bakar memenuhi hasrat lidah sewaktu saya menghabiskan hari2 di Purwokerto. Engga ketinggalan jugaaa, masakan Warung Djawa yang khas dengan macem2 sayur ala Djawa. Maaf, engga gitu inget nama2 nya nih. Yang pasti ada pete. Ini saya bagi foto2 nya aja deh. Yum... yum... Oops, coba baca tulisan menarik yang dipasang di dinding kayu kamar kecil warung nya deh =p.
Hayo, bagi pembaca yang lagi nunggu waktu makan pagi, siang, atau malam, silakan ambil cemilan untuk menahan liur yang udah diujung tuh =). Ya, sebelum saya cerita lebih banyak lagi Yogya yang tentu lebih bervariasi jenis makanannya, saya mau cerita tentang keindahan kota (atau desa) Purwokerto dan sekitarnya dulu.
Salah satu tempat pariwisata terkenal di daerah situ, Baturaden dan pancuran tujuh nya. Berkendara mobil kira2 setengah jam an dari Purwokerto, kita masuk ke hutan (ga jelas jenis kayunya), yang pasti rindang sekali. Kita parkir dekat situ, dan melewati jalan setapak naek turun. Engga seperti tempat pariwisata yang pernah saya kunjungi, tempat ini terlihat bersih sekali dan pedagang kaki lima dikanan kiri juga lebih teratur. Yak, itu deh gambar pancuran tujuhnya. Alami loh. Dan, tidak masuk didalam foto, di sisi kanan pancuran tujuh itu sebenernya ada satu pohon kecil mirip bonsai gitu. Dipercaya pohon itu sebagai penjaga pancuran itu. Yak, terbukti sih, air nya masih terus mengalir dan bubuk belerangnya dipercaya bisa meng-ayu-kan kulit kalo di oleskan ke kulit. Yak, buat para kaum hawa, bisa dicoba nih.Dari Baturaden, Jateng, kita ke Purbalingga, Jateng. Owabong, salah satu tempat main air disini yang mayan asik. Terlihat tempatnya seperti kolam renang dengan seluncuran yang biasa2 aja. Tapi coba lihat pohon beringin besar dibelakangnya. Dibawah pohon beringin ini ada sumber mata air abadi. Mata air ini engga hanya beri kehidupan ke pohon beringin yang umurnya udah ratusan tahun, tapi juga menghidupi masyarakat disitu. Ditempat itu, moment2 keluarga biasanya terlihat. Nginep semalam atau dua di salah satu cottage nya yg harganya terjangkau, orang tua bisa istirahat sejenak dari pekerjaan rutin nya, dan anak2 bisa main2 air.
Owabong ini salah satu hasil pemikiran bupati disitu, Bupati Triono. Bapak Triono ini orangnya menarik, dia memikirkan rakyat nya. Dari tahun ke tahun penghidupan rakyatnya meningkat. Owabong ini contohnya, diantara pilihan bentuk entertainment site seperti trend mall2 yang ada dikebanyakkan kota besar, dia punya pemikiran kalo tempat hiburan selain menjadi sumber pemasukkan, perlu juga mendidik. Maka dibuatlah Owabong. Contoh pemikiran lainnya, dengan promosi nya yang gencar tentang kabupatennya yang kondusif untuk dijadikan daerah investasi, lantas aja investor pada berdatangan. Tapi, eits... sebelum investor2 itu masuk, dia menyaring mereka dengan beberapa kriteria, diantaranya: bentuk investasi itu perlu bisa menampung tenaga kerja yang banyak, dan ada program untuk mendidik tenaga kerjanya. Jadi lucu juga, kabupaten nya boleh dibilang desa, tapi orang2 disitu udah kenal ama yang namanya tepat waktu, organisasi, hubungan pekerja dan supervisor nya.
Haiz, ya gitu deh... sekarang mari kita ke Yogyakarta. Nyetir 3 jam an dari Purwokerto ke Yogya engga kerasa karena ditemani sawah2 yang hijau. Engga ketinggalan juga pemandangan yang terlihat baru, SPBU Pertamina yang keren2 dan sepertinya ada setiap 10 kilometer. Yoi, disetiap komplek nya, selain berjejer 6 buah pompa, sekarang ada supermarket kecil, juga mushola lengkap dengan tempat wudu yang berderet.
Di Yogya, banyak sekali yang bisa dilihat dan disantap. Menginap di Wisma UGM merupakan pilihan paling pas, kemana2 dekat. Keraton, Malioboro, museum Affandi, rumah makan2. Yoi, kalo pembaca sempat berkunjung ke kota yang canggih sewer systemnya ini, mesti pergi ke satu restoran Iga bakar sih. Uenak rek. Engga ketinggalan pula komunitas pengrajin disini. Mulai dari batik, perak, sampai sutera, tempat ini terkenal jadi pusat belanja kerajinan2 ini.
Belom terasa perjalanannya kalo lom sempet pergi ke salah satu candi besar di Yogya. Ada dua pilihan, candi Prambanan atau Borobudur. Kami pilih Borobudur. Borobudur yang dulunya termasuk 7 keajaiban dunia, sekarang ini kondisinya memprihatinkan. Banyak yang rusak dan hilang beberapa bagiannya, paling banyak kepala patung Buddha nya. Orang dulu percaya kalo didalam kepala patung Buddha itu ada emas. Yah, jadi banyak yang hilang deh kepalanya. Beberapa perbaikan juga direncanakan dikedepan nanti. Kebanyakkan rencana ini bakal dilakukan pihak luar, salah satunya UNESCO. Entah, apa karena hilang kepercayaan ama departemen kebudayaan Indo atau lainnya, saya kurang tahu.
Sekian saja catatan perjalanan yang saya lakukan sembilan bulan lalu. Where to go next? =)
Wednesday, September 17, 2008
Jawa Tengah...
Posted by
Handi Chandra
at
9:30 AM
1 comments
Labels: indonesia
Tuesday, September 16, 2008
Masalah
Aku ngerasa kawan-kawan di komunitas Kopi Susu banyak yang sangat berkompeten berbicara tentang isu diskriminasi dan krisis identitas. Kompeten bukan karena telah mempublikasikan berbagai artikel tentangnya, tetapi, lebih dari itu, mengalaminya; menjadi “obyek penderita”. Demikian pula dengan aku, aku merasa sebagai orang yang paling berkompeten dengan isu kemiskinan di komunitas ini. Karena aku adalah bagian dari masalah itu, hidup dan tinggal didalamnya. Merenungi dualisme ini, mengatrkanku hingga sampai pada pemikiran bahwa: “masalah” selalu datang pada manusia, dalam posisi seperti apapun mereka adanya.
Pertengahan bulan September, yang juga pertengahan bulan puasa sebuah tragedy kembali terjadi. 21 orang meninggal dunia di Pasuruan Jawa Timur akibat mengantri pembagian zakat (pemberian uang pada orang miskin) dari seorang kaya di kota itu. Ribuan orang berdesakan berebut uang Rp. 30 ribu perak yang disediakan sang dermawan untuk mereka. Lautan massa bak gelombang tsunami memadati gang sempit tempat uang US$ 3 dibagikan. Mereka saling himpit, sedikit ruang untuk bernapas, lalu mereka pingsan, terinjak-injak. Lalu mati.
Mendengar berita ini hatiku terasa tercabik-cabik. Jumlah uang yang di US bahkan tidak cukup untuk membeli makanan seekor anjing! Di negeriku membuat nyawa manusia melayang.
Siapa yang salah?
Berbagai kalangan dan pengamat telah memaparkan berbagai perspektif mereka di beberapa hari terakhir. Salah satu kelompokmengatakan bahwa ini merupakan bentuk ketidakperayaan masyarakat terhadap institusi-insitutsi yang ada. Ketimbang memberikan uang itu pada lembaga-lembaga resmi seperti Dinas Sosial, Panti Asuhan, masjid, dll si dermawan lebih memilih membagikan sendiri uangnya, yang kemudian berakibat fatal akibat tidak profesionalnya dia dalam mengelola distribusi dana. Kelompok lain menyalahkan factor budaya yang dialamatkan pada budaya tidak tertibnya masyarakat kita dalam mengantri. Serta tidak ada rasa toleransi dan rasa saling mengalah yang berakibat pada gelombang massa yang erangsek maju tak terkedali. Semua orang ingin mendapatkan bagiannya segera: sekarang juga: aku duluan! Yang juga, ujungnya berakibat kematian massal. Ada juga yang menyalahkan pemerintah dan aparat setempat (termasuk kepolisian) yang tidak menyediakan bantuan cukup guna menertibkan kerumunan massa yang sebenarnya sangat mudah diantisipasi kemungkinan terburuk ini akan terjadi. Lebih parah lagi, ada juga yang menyalahkan si dermawan yang cenderung “show off” dalam menunjukkan kedermawanannya, bahkan bisa jadi, kekayaannya.
Apapun itu, tragedy ini telah membuktikan, sekali lagi, potret kemiskinan masyarakat Indonesia yang teramat-sangat parah.
“Ah itukan bukan masalah gue, masalah guwe itu adalah diskriminasi” mungkin pemikiran seperi ini sempat terlintas di benak kita. Beberapa keluarga dan kawan-kawanku juga mati, bukan karena antri uang 30 perak, tapi dibunuh dalam sebuah konflik etnis. Apa bedanya? Toh sama-sama ada yang mati. Kelompok mereka mati karena “masalah” mereka, kelompok ku mati karena “masalah” ku, jadi kenapa kita tidak memikirkan masalah kita masing-masing saja.
Aku tidak akan menyalahkan pikiran-pikiran seperti itu, sebab mungkin memang ada benarnya. Tiap orang punya masalahnya masing-masing dan mereka haru menemukan solusinya sendiri. Analoginya, bagaimana mungkin kita dapat memberikan saran pada seorang juru masak tentang apakah masakannya kurang asin atau tidak kalau kita tidak mencicipinya, tidak merasakannya. Adalah konyol kalau kemudian kita berkata “menurut imajinasiku sepertinya masakanmu kurang garam”. Sehingga,hanya orang-orang yang sudah merasakan masakan itu yang “berkompeten” untuk memberikan solusi untuk perbaikan rasa masakan tersebut. Sebaliknya, bagi yang nggak memakannya atau setidaknya mencicipinya, jangan sekali-kali kasih komentar. Ini adalah sebuah analogy tentang hipotesa: “masalah gue itu urusan gue, masalah lu itu urusan lu”.
Tetapi bagi mereka yang punya idealisme tentu pendapat tentu terasa kurang pas. Karena pikran seperti itu adalah gaya berpikirnya orang-orang ignorant. Tapi kalau dikembalikan ke analogi tadi, siapa sih orang yang nggak ignorat di muka bumi ini. toh orang-orang miskin di Pasuruan itu juga ignorant pada orang kelompok minoritas yang di diskriminasi. Mereka tak pernah peduli betapa sulitnya mencari identitas diri dan identitas ke “Indonesiaan” bagi para warga keturunan. Maka apa salahnya kalau warga keturunan juga ignorat pada mereka? Ignorant di balas dengan ignorant, adil bukan?
Terlebih lagi, hingga detik ini aku pun belum nemuin sebuah “pohon masalah” yang komprehensif yang bisa menjelaskan secara sistematis dan struktural terhadap kesalingterkaitan atas berbagai masalah tersebut. Semua pihak mengklaim bahwa akar amsalah dari semua itu adalah sektornya. Para aktifis lingkungan menganggap persoalan lingkugnan hidup diatas segalanya, aktifis anti-diskriminasi, gender, anti-korupsi, ekonom, politik semua pun demikian. Alih-alih menemukan “pohon masalah” yang didapt justru kompartementalisasi. Yaitu sebuah sikap yang menganggap sektornyalah yang paling penting.
Membuat pohon masalah atas sebuah entitas yang bernama “Indonesia” adalah tantangan terbesarku. Menemukan mana akar, batang dan ranting-ranting masalah. Dengan demikian kita dapat menarik ranting-rnting masalah yang ada menuju satu “batang masalah” yang bersumber dari berbagai akar masalah yang tetapi juga terangkum dalam sebuah simpul disuatu titik tepat diantara akar dan batang masalah.
Kembali kapada pencarian biang kerok tragedi meninggalnya 21 orang di Pasuruan. Pertanyaan “siapa yang salah” tidak menjadi relevan bukan karena pertimbangan moral, tetapi pertimbangan epistemologis. Sebab,pertanyaan tentang “siapa” tidak dapat memberikan solusi secara permanen. Tetapi seharunya adalah “apa masalahnya?” semakin dalam pertanyaan ini diajukan terus menerus akan membawa kita dalam sebuah ranah yang disebut “filsafat”. Karena dalam fisafat akan ditemukan “apa” dari “segala apa”. Pada level itu, sanggahan kuat atas argumentasi-argumentasi pro-ignorancy akan ditemukan. Saat itulah akan muncul anti-thesa atas kompartementalisme yang sama dengan solidarisme dan kolektivisme yang konkret dan material. Karena hanya kesadaran yang materiallah yang dapat diejawantahkan dalam aksi-aksi problem solving yang nyatadan sistemik.
Pentingnya aksi problem solving yang nyata dan sistemik itu penting sebab gerakan charity terbukti tidak menyelesaikan masalah. Kasus Pasuruan, BLT (Bantuan Langsung Tunai) dan bahkan di US dengan program Rebate Checks (US$ 600 per orang dan US$ 300 per anak) sudah di kritik mayoritas pakar ekonomi dan studi pembangunan. Sekali lagi hal-hal yang bersifat charity adalah sama dengan memberi ointment dipermukaan kulit pada penderita kanker kulit. Mungkin akan menyejukkan sesaat, tapi seriously, hal itu nggak akan pernah menyelesaikan masalah sesungguhnya.
Hhmmhh.... ketika seorang anak bangsa tengah gelisah memikirkan “pohon masalah” bagi bangsanya, atau sedang sedih meratapi saudara-saudara miskinnya yang matidi Pasuruan. Para politisi hari ini tengah berhambur uang miliaran rupiah untuk pasang iklan politik di TV dan “membeli” nomor urut di partai mereka masing-masing. Sementara para pengusaha, ah.. entah apayang sedang mereka pikirkan saat ini...
[fdl]
Posted by
Vidia Paramita
at
1:33 PM
3
comments
Thursday, September 11, 2008
9/11 Anniversary

"Seven years ago at this hour
a doomed airliner plunged from the sky,
split the rock and steel of this building
and changed our world forever."
"The years that followed have seen justice
delivered to evil men
in battles fought in distant lands.
But each year on this day,
our thoughts return to this place."
George W. Bush
9/11/2008
Pentagon
Posted by
Vidia Paramita
at
4:17 PM
0
comments
Saturday, September 6, 2008
Tan Hong Ming: Jatuh Cinta
Hari ini saya diingatkan tentang isu perbedaan suku dan ras. Menurut saya, ras saya agak aneh, sehingga kadang-kadang saya suka krisis identitas. Dibilang Cina, ya bukan, dibilang Melayu, tidak bisa juga, karena besarnya mata saya dan warna kulit saya berkata lain.
Dulu, waktu masih tinggal di Jakarta, kebanyakan tetangga-tetangga saya dan teman-teman di sekolah memanggil saudaranya dengan cici dan koko. Saya pernah ditanya, kenapa kok saya panggil saudara saya "kakak". Waaah, kenapa ya, saya juga ga tau tuh. Memang sejak dulu sudah terbiasa panggil kakak, mau diapain lagi. Tapi pernah, mungkin karena bingung dan ingin tidak terlihat lain dari yang lain, saya coba-coba panggil kakak saya dengan "cici". Yang pasti, saya sendiri langsung berasa aneh, malu, dan tidak berani lagi ganti-ganti panggilan.
Kemudian, pas kelas 4 SD, saya pindah ke Riau. Sempat harus adaptasi lagi, karena di sana, kalau kakak perempuan dipanggil kakak, tapi kalau laki-laki, harus dipanggil abang. Tidak boleh Mas, Kang, apalagi Kak, pokoknya harus Abang. Jadilah saya memanggil semua kakak kelas yang laki-laki dengan Abang. Sedikit lega juga, karena kalau saya beneran ganti panggilan kakak saya jadi cici, saya akan jadi satu-satunya orang aneh di sana. Sekitar SMP kelas 1 atau 2, baru saya mengenal konsep Cina dan Pribumi. Ketika itu juga baru saya sadar, kalau saya ini benar2 minoritas: hanya 3 orang Cina saja di SMP saya. Di umur-umur segitu, mulai ada beberapa orang yang menanyakan, "Kamu Cina, ya?" Termasuk salah satu guru saya. Tidak ada yang salah sama sekali dengan itu, saya pun tidak pernah tersinggung dan tidak merasakan diskriminasi sama sekali. Masa SMP adalah masa-masa yang membahagiakan buat saya. Cuma satu aja pertanyaan yang saya tujukan kepada mereka yang kepengen tau ras saya: Emang penting ya???
Tapi ternyata setelah saya tambah besar dan tinggal di Singapur, saya menyadari bahwa ras itu lumayan penting! Saya suka gondok ketika supir-supir bus atau taksi dengan cueknya mengajak saya berbicara dengan bahasa Mandarin... Sering kali dengan suara kecil dan terbata-bata karena takut salah, saya membalas,"Wo bu hui zhang huayi." Sampai sekarang saya kurang tau bagaimana cara tulisnya, tapi pokoknya saya bilang begitu. Satu-satunya jurus Mandarin yang yang paling sering saya keluarkan: Saya tidak berbicara bahasa Mandarin. Lalu, biasanya mereka bilang dengan bahasa Inggris, "Wah, kamu orang Cina kan? Harus bisa ngomong Mandarin! Kok bahasa ibu sendiri tidak tau... bla bla bla.." Intinya memberitahu bahwa saya ini adalah anak yang lepas dari kebudayaan nenek moyang, seperti kacang lupa kulitnya, seperti buah yang entah kenapa jatuh jauh dari pohonnya. Biasanya, generasi tua yang sering menceramahi begitu. Kalau lagi mood, ya saya ladeni sebisanya, memberikan gambaran latar belakang, yang intinya Cina saya sudah kelunturan. Kalau lagi malas, ya saya iya iya-in aja, dengan harapan dia bosen ngoceh.
Meskipun sedikit jadi krisis identitas seperti itu, saya secara pribadi belum pernah disakiti hati dan fisik gara-gara masalah perbedaan ras ini. Dan mudah-mudahan saya juga tidak menyakiti orang lain dengan memakai isu ini. Berada ditengah-tengah, tidak benci, tidak juga cinta, membuat saya bisa mengabaikan ras dan tidak terlalu mempunyai afiliasi dan kedekatan dengan ras saya (apapun itu). Dengan tidak mengertinya saya tentang ras saya, lebih mudah bagi saya untuk berkata bahwa saya manusia Indonesia dan penduduk dunia. Bukan berarti menurut saya mengerti dan dekat dengan ras itu tidak bagus, tapi ketika itu menjadi halangan untuk mengenal dan bersahabat dengan penduduk dunia yang lain, ada baiknya kita berhenti sebentar dan berpikir tentang cara kita menggunakan latar belakang kita di dunia ini.
Apa yang membuat saya berbagi tentang ini? Hehe lihat saja iklan dari Malaysia di bawah ini...
PS. Ada lagi yang jatuh cinta sama giginya?
Posted by
Vidia Paramita
at
9:45 PM
3
comments
Monday, September 1, 2008
Friday, August 29, 2008
Blog Action Day '08
Yak! Apa itu blog action day? Menurut websitenya:
First and last, the purpose of Blog Action Day is to create a discussion. We ask bloggers to take a single day out of their schedule and focus it on an important issue. By doing so on the same day, the blogging community effectively changes the conversation on the web and focuses audiences around the globe on that issue.
Blog Action Day 2008 Poverty from Blog Action Day on Vimeo.
Mereka sudah mempromosikan Blog Action Day 08 ini dari tanggal 15 Agustus dan semua yang medukung dan mendaftar akan nge-blog di hari yang bersamaan yaitu tanggal 15 Oktober 2008. Sampai saat ini, blog yang terdaftar sudah lebih dari 3200 dari seluruh dunia! Dan Kopi susu adalah salah satunya. Hehehe...
Temanya tahun ini adalah POVERTY/KEMISKINAN. Kalau ada yang mau post sesuatu yang berhubungan dengan tema ini, silahkan kirim ke kopisusu.austin@gmail.com, atau tinggalkan komentar diposting ini. Dan nanti tanggal 15 Oktober, semua entry tentang poverty akan ditampilkan.
Ayo kita ikut meramaikan Blog Action Day 08!
Blog Action Day 2008: One issue, thousands of voices.
Posted by
Vidia Paramita
at
9:17 AM
0
comments
Thursday, August 28, 2008
SKJ '96
A song that is dear to our heart.(Actually, this goes back to '88)
Enjoy!
Peter
Posted by
Vidia Paramita
at
1:33 PM
0
comments
Wednesday, August 27, 2008
Guyonan Terminal
Oleh: Fadillah Putra
Berbicara tetang merasakan Indonesia tentunya tidak hanya merasakan yang indah dan menyenangkan saja. Atau yang sedih-sedih saja. Ada ruang diantaranya, kesedihan yang kadang dibuat asik aja oleh para pelaku-pelakunya. Salah satu contohnya adalah para sopir-sopir truk atau bus. Di sela kehidupan mereka yang keras, mereka sering membagikan tawa ke sesama pengguna jalan dengan berbagai tulisan-tulisan “ajaib” di belakang kendaraan mereka. Joke-joke mereka sering dianggap remeh oleh kaum terdidik dengan julukan “guyonan becak’an” atau “guyonan terminal”. Tapi itulah mereka, sebuah peradaban kecil di bawah tanah.
Menurutku fenomena ini juga: Indonesia bangeeett….
It’s time for relax… inilah beberapa diantaranya yang sempat terdokumentasi:
AYU AD 1 NE
NEW FEAR THE ME IS 3 ---> Nyupir demi istri
Ber 2 1 7 an ---> Berdua satu tujuan
CAN'T ARE ROCK ---> Ken Arok
MER - 123 - LUCK ---> Mertua Galak
Anda Butuh Waktu, Kami Butuh Uang, Naik Gratis, Turun Bayar
Ma2ku 1/3 dis ---> Mamaku Seperti Gadis
THE ME anak IS 3 ---> Demi Anak Istri
JANGAN DINIKAHI BILA SEGEL RUSAK
be are the kill us all come pack ---> Biar dekil asal kompak
SO FEAR SHE N THINK ---> Sopir Sinting
BE YOUNG CARE ROCK ---> Biang Kerok
Alone By Must ---> Alon bae Mas
CINTAMU TAK SEMURNI BENSINKU
CINTAMU TAK SETULUS CINTA EMAK GW
Moe K Sue Fear 1/3 Rong --> Muka Supir seperti garong
SPONGE DONG
BURONAN MERTUA
BERSATU DI PANGKALAN BERSAING DI JALANAN
PUTUS CINTA... sudah biasa... PUTUS ROKOK... merana... PUTUS REM... matilah kita...
Cintaku Berat Di Bensin
MAN 7 jur ---> mantu jujur
JUM'AT KELABU ---> Trayek Ps. Jumat - Pd. LabuD
o Now .. Casino ... In Draw ... War Cop DKI
bukan salah ibu mengandung.. salah bapak nggak pake sarung
Tak Sehina yang Kau Duga
UCOK = Uang Cukup Ongkos Kurang
Lupa namanya, ingat rasanya
pergi karena tugas ... pulang karena beras..
Fuck Here Miss Kind!!! --> Fakir Miskin
Goyang Pantura
Pulang Malu Tak Pulang Rindu..
Rindumu Tak Seberat Bebanku
Cool Law Tea Young Kla 10 Must ---> Kulo Tiyang Klaten Mas
”portugal' - purwokerto lewat tegal"
Pertamax "Perjaka Tampil Maximal"
Posted by
Vidia Paramita
at
10:31 AM
0
comments
Tuesday, August 26, 2008
Generasi Mestinya
oleh: Jeson Martadjaya
Indonesia.....
Pedasnya rujak beubeuk
Hangatnya tahu tempe sumedang
Nikmatnya soto babat
Renyahnya ayam goreng McDonald
Harumnya bakso bakwan...
Indonesia.....
Terbayang teman sekelas waktu SMA
Teman satu klub sepakbola
Sahabat karib semenjak SD
Kerabat dan saudara sepupu
Dan juga...
Mama papa
Indonesia....
Sogok menyogok
Laskar Jihad......
Perampok berkapak merah
Penipu ahli hipnotis
Penjarahan....
Pemerkosaan
Pembakaran hidup-hidup..
Ahh....mestinya....
Indonesia tempat hidup yang aman....
Indonesia tidak main sogok-sogokkan
Indonesia pejabatnya tidak korup
Indonesia tidak perang agama
Indonesia melindungi orang dari kedengkian dan diskriminasi
Mestinya...mestinya...dan mestinya...
Semua itu hanyalah mimpi!
Keinginanku yang terdalam dan IMPIAN idealisku belaka..
Tetapi Tuhan...
Saat Engkau berbisik, "Bantu negaramu."
Aku berseru "Tidak bisa Tuhan! Uang dan keluarga bahagia adalah prioritasku"
Saat Engkau berbisik, "Jangan korupsi."
Aku berteriak "Tidak bisa Tuhan! KENYAMANANku lebih penting daripada nasib satu bangsa."
Saat Engkau bilang, "Bela kaummu dari ketidakadilan."
Aku menjerit "Tidak bisa Tuhan! NYAWAku lebih penting daripada nyawa sesamaku."
Buatku...Amerika adalah tempat pelarian
Tempatku lari dari impian yang tidak dapataku capai
Karena aku, takut untuk melepas keegoisanku
Karena aku...
Adalah produk dari generasi mestinya...
Posted by
Vidia Paramita
at
4:38 PM
1 comments
Friday, August 22, 2008
Pencuri
Oleh: Fadillah Putra
Lelaki tua berselempang sarung, duduk penuh siaga di bukit kecil tepian desa. Tangan kanannya menggenggam segumpal kain hitam. Masih jauh dari subuh, tetapi Mahdun terlihat tegar dan bersemangat. Apa yang akan dilakukan Mahdun dibukit kecil tepian desa dengan kain hitam itu?
Ia hendak mencuri pagi!
***
“Mak. Ayolah, Mak! Ikhlaskan Burhan ke kota, Mak.”
“Apa kurang enak sambal terasi yang tiap hari emak bikinkan untukmu Han?! Atau sudah tak segar lagi air kelapa belakang rumah?!”
“Bukan begitu, Mak...”
“Lalu apa Han? Kau tak sayang Emak lagi? Kau sudah sebal melihat wajah peyot Emakmu ini?!”
Burhan terdiam. Bukan karena kehabisan akal, tetapi bapaknya yang sejak tadi hanya menonton telah memberi kode padanya untuk menghentikan perdebatan ibu anak itu. Mulut Mahdun bergerak-gerak mengatakan “Sudah, sudah” namun tanpa suara, tangannya seperti menekan-nekan sesuatu kebawah berulang-ulang. Sesaat kemudian, isak tangis Ruminah mengantarkan hempasan tubuhnya di peraduan.
Burhan adalah anak kedua dari Mahdun dan Ruminah. Ia anak kesayangan emaknya. Tidak seperti empat saudaranya yang lain, Burhan memang pintar merawat emaknya. Saat Ruminah sakit atau pegal-pegal karena terlalu lama di ladang, Burhan selalu memijiti kaki emaknya sambil bercerita lucu tentang guru sekolah, pak RT, teman atau adik-adiknya. Seringkali pula Burhan membuatkan oseng-oseng kangkung campur teri kesukaan emaknya. Ruminah pun tiap pagi selalu membuatkan sambal terasi yang sangat digemari Burhan. Terkadang Mahdun iri juga melihat kemesraan mereka, tapi Mahdun bahagia melihat ada kedamaian yang Burhan dan Rumniah ciptakan dikeluarganya.
“...anakku sing bagus dewe... Mbesuk gede dadio ksatrio sing gagah prakoso jujur toto susilo... gemuyumu saben isuk sing nyumringahke ati emak, ojo nganti ilang sak lawase...” begitulah senandung yang Ruminah gubah sendiri sebagai pengantar tidur Burhan, si buah hati.
Tetapi saat ini usia Burhan sudah sembilan belas tahun. Ia ingin ke kota, mencoba peruntungan hidup di rantau, sekaligus menikmati gemerlapan kota seperti sering diceritakan teman-temannya.
“Sudahlah, Han. Kau kan tahu, emakmu itu paling tidak bisa jauh dari kamu. Cukuplah mas mu yang di kota. Kau di sini saja merawat ladang.” Mahdun mencoba memberi pengertian.
“Gini lho, Pak. Masak aku mulai kecil sampai sekarang di desa terus. Ya aku pingin seperti teman-teman, ngerti kota kayak apa. Nanti kalau aku ndak betah ya balik lagi to, Pak. Macul lagi sama bapak dan ibu. Tapi ijinkan aku coba-coba dulu ke kota.” kilah Burhan.
“Yo wis le, kalau kamu ngotot kita atur cara biar ibumu mengijinkan kau berangkat. Sebab, kalau ndak gitu bapak yang kena damprat kau ngilang sak enak udelmu dhewe.” Mahdun memberikan jalan keluar.
“Terus piye, Pak?” tanya Burhan.
“Begini caranya le...” tangan Mahdum merangkul pundak anaknya. Mereka berdua berjalan menuju beranda rumah bambunya, terus menyusuri jalan makadam membelah malam. Mereka membicarakan strategi untuk meluluhkan hati Ruminah.
***
“Le, ini emak bungkuskan nasi dan sambel terasi untuk makan dijalan. Terus ini duwit dan anting-anting emak buat sangu kamu. Kalau ada apa-apa jual saja anting emak, yang penting kamu selamat sampai rumah lagi. Nanti tlepon mas mu suruh njemput di terminal. Kamu jangan wira-wiri diterminal, tunggu saja masmu sampai datang. Kamu bawa saja belati kecil bapakmu itu, untuk jaga-jaga kalau ada yang macam-macam. Dua hari lagi kamu harus sudah balik bener lho le. Pokoknya lusa pagi emak tunggu di pagar rumah sampai kamu datang. Ati-ati ya le.” tak henti-henti isak tangis Ruminah menyela nasihat-nasihatnya itu.
“Iya, Mak. Emak nggak usah kuatir, Burhan akan ati-ati seperti pesan emak. Burhan juga nanti pasti ndak sabar pengen makan sambel terasi emak lagi kok.” hibur Burhan. Tapi tangis Ruminah malah makin menjadi-jadi.
“Ya sudah, sudah. Itu dokarnya sudah nunggu dari tadi, kasihan Mas Kandar nunggu kelamaan.” Mahdun menyela.
“Wis ya Mak. Burhan pergi dulu.”
“Ndang balik yo le...” Ruminah menyembunyikan isak tangisnya di punggung Mahdun.
Memang Burhan mengatakan pada emaknya hanya akan dua hari dikota, tapi dalam hatinya, kalau memang ada peluang bagus di kota dia akan terus menetap di sana. Dan akan pulang dua minggu sekali. Kata ayahnya kalau dilakukan seperti itu, emaknya lama-lama akan terbiasa. Semalam Mahdun juga sempat berpesan “Kalau di kota kau cuma jadi kuli batu mending dikampung saja, macul”. Ya!” Jawab Burhan setuju.
***
“Terminal turun sini! Bus nggak masuk terminal!” suara parau kondektur bus menggelegar.
Hampir semua penumpang bergegas turun. Burhan tak tahu apa yang harus ia lakukan. Orang disebelahnya turun. Burhan bingung, ia pun ikut turun. Sudah hampir jam sembilan malam. Ditepi jalan itu Burhan kebingungan, dia ingin bertanya tapi malu. Orang-orang yang turun bersamanya tadi dengan tangkas satu persatu naik berbagai angkutan kota beraneka warna. Burhan masih kebingungan. Ia menoleh kanan-kiri mencari telpon umum yang seperti di film-film layar tancap. Tapi tidak ada telpon umum, telpon-telpon umum sudah digantikan Wartel. Ia tak tahu apa itu Wartel. Burhan berjalan sedikit ke kiri. “Ha! Itu dia.” Ia melihat kotak telpon umum. Dihampirinya, namun ia bingung di mana harus memasukkan uang receh seratusan. Memang tidak ada lubang itu, karena telpon koin sudah digantikan telpon kartu atau chip. Burhan bingung lagi. Baru kemudian ia rasakan agak pusing kepalanya, sehingga muncul keinginan untuk sekedar secangkir kopi.
Dilihatnya warung remang-remang diujung pagar beton. Dengan penuh keyakinan Burhan melangkah menuju warung tersebut. Nampaknya ini adalah langkah terakhir yang ia lakukan dengan penuh keyakinan.
“Makan, Mas?” suara cempreng penjual warung nan gemuk.
“Ndak mbok, saya mau kopi anget saja.” jawab Burhan singkat.
“Wah, cah bagus senang yang anget-anget ya?” kelakar mbok gembrot.
“Iya.” jawab Burhan polos.
Spontan semua orang seantero warung terpingkal-pingkal. Burhan masih tidak mengerti apanya yang lucu. Ia hanya senyum-senyum saja, lalu melihat sekeliling. Di kursi pendek dekat kompor duduk empat orang lelaki sedang main kartu sambil sesekali mengumpat. Tiga perempuan umur empat puluhan, berkaos ketat hingga nampak lipatan-lipatan perutnya, duduk di bongkahan beton setengah meter samping kanan warung. Di sebelahnya dua orang pemuda hitam legam berambut kemerahan senyum-senyum sambil menunjuki tiga perempuan tadi. Dibelakang Burhan, tertutup kain warung, terdengar suara kemresek, dan bunyi “Ah. Uh. Ah. Uh!” Burhan tak mengerti.
Lima belas menit, kopi pun tinggal setengah. Burhan bermaksud bertanya pada mbok gendut tentang keberadaan telpon umum. Tapi...
“Garu’an! Garu’an!”
Burhan kaget setengah mati. Mendadak sontak semua orang pontang-panting. Dari belakangnya tiba-tiba menyembul seorang lelaki yang langsung kabur tanpa celana. Burhan bingung, ikut lari!
Tak sampai dua meter Burhan ketangkap, orang-orang berbaju hijau mentah menggeledah tas Burhan.
“Ada pisau!” teriak pak Kumis
“Bawa!”
***
“Dasar bocah kampung edan! Sana, masuk truk!” bentak pak Kumis.
Di kantor polisi Burhan ditanya macam-macam oleh pak Kumis. Ia sangat takut, wajahnya pucat pasi seperti pantat sapi pak Renggo di desa. Tak satupun pertanyaan pak Kumis dijawabnya dengan baik. Burhan hanya mampu bilang inggih, mboten, dan kirangan. Ya, hanya tiga kata itu yang sanggup keluar dari mulutnya.
Burhan dipapah dengan kasar, lalu dijungkalkan kedalam truk bercampur puluhan preman, gembel, pelacur, begundal, begajul dan sebagainya. Lantas, truk bergoyang-goyang melaju entah kemana.
“Turun! Pada minggat sana!” sentak pak Kumis sesampainya mereka di kelokan jalan aspal seperempat jam perjalanan dari kantor polisi pamong praja.
Semua orang berhamburan, termasuk Burhan. Ia lari sekencang-kencangnya tak tentu arah. Sampai di dekat gudang tua ia ambruk kelelahan. Tas bekal dari emaknya masih didekap. Ia pun tertidur. Jam setengah dua malam.
“Brak!” punggung Burhan tiba-tiba disepak sangat keras.
“Mana duwit mu!” pemuda gondrong menyentaknya.
Burhan diam, wajahnya kecut. Spontan, ia mendekap tasnya erat-erat.
“Ambil tasnya!” sentak dua orang teman pemuda gondrong.
Si gondrong lantas menarik tas dari dekapan Burhan. Burhan melawan. Ia meronta-ronta. “Plak!” tak sengaja kakinya mengenai wajah si gondrong.
“Bocah asu! Tak pateni kamu!”
Si gondrong mengambil potongan kayu. Dipukulnya kepala Burhan keras-keras. Teman-temannya ikut menghajar ramai-ramai. Darah Burhan mengucur di sana-sini tak keruan. Tendangan masih terus melaju, perut dada, kepala!
Burhan tersungkur, tubuh kurusnya berguling masuk selokan kering. Berkelejotan sebentar. Burhan mati.
***
Sudah tiga bulan Ruminah setiap pagi selalu berdiri dipagar rumah. Sesekali kakinya jinjit-jinjit berusaha dapat melihat jauh keujung gang. Setelah agak siangan ia masuk kegubugnya, lalu ke dapur dan membuat sambal terasi. Dipojok dapur lusuh itu ada sekitar seember sambal terasi yang telah busuk mengonggok.
Selepas senja, Ruminah duduk di dipan beranda rumah sambil bersenandung “...anakku sing bagus dewe... gemuyumu saben isuk sing nyumringahke ati ibu, ojo nganti ilang sak lawase...”
Kalau Mahdun tak membujuknya mati-matian, sampai pagi pasti Ruminah akan terus begitu, utuk kemudian kembali menuju pagar. Adik-adik Burhan telah hampir dua bulan ini ikut anak tertua mereka di kota. Kakak Burhan hingga hari ini pun masih tidak mengetahui di mana keberadaan adik laki-lakinya itu.
Suara gemeletak yang muncul dari deritan tempat tidur Mahdun tiap fajar, terdengar ditelinganya seperti bunyi kiamat. Sudah sembilan puluh hari suara gemeletak itu muncul mengiringi istri gilanya yang tercinta berhambus kepagar. Menunggu kedartangan anak kesayangan yang tak akan pernah tiba. Setiap fajar hati Mahdun seperti disayat-sayat. Air matanya selalu menitik, rasa bersalah menyelimuti. Kalau saja ia tak mengijinkan Burhan pergi, Ruminah tak akan seperti ini.
Kakak Burhan pernah menawarkan untuk memasukkan Ruminah ke rumah sakit jiwa, ladang dijual dan Mahdun tinggal dirumahnya. Mahdun menolak. Janji tiga puluh tahun lalu untuk hidup bersama, masih lekat di lubuk hati Mahdun.
Malam ini Mahdun sudah tak kuasa lagi melihat derita istri tercintanya.
“Besok akan kucuri ‘pagi’! Agar Ruminah dapat kembali waras seperti dulu!” katanya dalam hati.
***
Mahdun sudah siap dengan kain hitamnya. Sebentar lagi fajar menyingsing. Perlahan-lahan dibentangkannya kain hitam itu. Tangan kanannya lurus dengan bahu, sedang yang kiri bersedekap. Keduanya memegang ujung kain, persis seperti matador.
Satu, dua, tiga detik kilap matahari mulai menyembul.
“Yap!” satu kali hentak kain hitam mengembang menyelimuti kilap fajar!
Lalu digulung-gulungnya kain hitam itu sehingga tak sedikitpun celah bagi ‘pagi’ untuk bisa keluar. Mahdun pulang dengan ceria. Terbayang dibenaknya wajah manis Ruminah yang waras dan penuh gelegak emosi seperti dulu.
Setiba dirumah, ia melihat Ruminah sudah dipagar sembari sesekali menjinjit. Lalu kedapur untuk membuat sambal terasi.
Esok malamnya, Mahdun kembali keluar dengan membawa kain hitam menuju bukit kecil ditepian desa.
Bandar Lampung, April 2003
Posted by
Vidia Paramita
at
8:49 PM
2
comments
Tuesday, August 19, 2008
Saturday, August 16, 2008
Nasionalisme: Penting ya?
Sabtu petang di ujung semester musim panas. Ketimbang pergi ke downtown, menelpon beberapa kawan untuk menenggak minuman surgawi, atau nonton TV dan menggelembungkan diri dengan potato chips; kuputusin malam ini untuk bersemayam saja di kamarku yang permai. Menuliskan rasa, untuk tempat bermainku yang baru: Kedai Kopi Susu!
Hari keenam belas di bulan Agustus. Pasti di kampungku sekarang sedang meriah-meriahnya anak2 pada lomba panjat pinang, makan kerupuk, membawa kelereng di atas sendok, tak lupa makan-makan bersama tetangga di malam tirakatan. Panggung hiburan dengan musik dangdut dan campursari yang sensasional menambah rasa gegap gempitanya sebuah perayaan. Aku selalu kalah dalam setiap pertandingan waktu itu, saat pulang hanya tubuh lengket berkalang debu yang didapati ibuku ketika membukakan pintu rumah untukku. Masa kecil... seperti baru kemarin.
Hmmm... besok siang, tanpa kerupuk, tanpa pohon pinang, tanpa upacara bendera, kami di Austin akan merayakannya juga.
“Perayaan. Perayaan apa?! Kemerdekaan. Merdeka apanya?!”
Pertanyaan seperti itu kerap terlontar pedas dari mulut para intelektual. Terlebih dengan melihat kenyataan: masih banyaknya penggusuran di mana-mana, anak miskin tidak bisa sekolah, Korupsi, konflik antar suku, aktifis diburu, di siksa dan bahkan dibunuh. (Hari ini belum genap seminggu Romo Benny Susetyo (aktifis HAM sekaligus mentor aku dalam dunia pergerakan terkapar di rumah sakit akibat gebukan ‘orang tak dikenal’). Lalu mereka berkata: “kita belumlah merdeka!”
Bagiku sekarang pernyataan-pernyataan seperti itu terlalu berlebihan. Sebab negara mana dikolong jagat ini yang’merdeka’ kalau standar kemerdekaan yang dipakai semacam itu. Kolombia sampai hari ini masih terjadi perang saudara, kasus korupsi di PEC sebagai koperasi terbesar di US masih menjadi headline, di Brasil brutalitas polisi terhadap kaum miskin kota Sao Paolo makin sadis, di Rwanda pembantaian suku Tutsi oleh suku Hutu masih menghantui, China dengan kontrol ketat pemerintah atas akses internet, dll. Jadi semua negara di dunia ini tidak [belum] ada yang merdeka?
Oleh karenanya, dari pada ngomongin “kemerdekaan” aku lebih tertarik ngomongin topik usang saja: Nasionalisme! Kenapa usang? Sebab sejak SD sampai kuliah berbagai penataran P4, PSPB, Kewiraan... (sorry kalau istilah2nya terlalu jadul/ kata kawan dari Jogya: Jadul=Janda Gunung Kidul) semuanya udah mencekoki tentang penting dan luhurnya sebuah nilai yang disebut Nasionalisme. Dari beberapa tulisan dan diskusi2 yang berkembang di kalangan mahasiswa-mahaiswa Indo di luar negeri (terutama di Austin) juga sempat mengemuka tentang pentingnya mencintai nasionalitas kita. Mencintai sebuah organisasi yang bernama: Indonesia.
Emang penting ya?
Pendidikan adalah alat pencerdasan sekaligus alat pembodohan adalah benar. Contoh, semenjak sebelum keluar dari Indonesia, aku kira agama di dunia itu cuman Islam, Kristen, Katolik, Budha dan Hindu. Tahu juga sih ada agama yang namanya Yahudi, tapi itupun dengan konotasi yang jelek amat. Pengetahuan tentang agama Yahudi itu seolah-olah agama ini sebagai aliran sesat. Tetapi setelah sampai sini, bertemu dengan orang-orang dari Israel dan beragama Yahudi ternyata mereka ya biasa-biasa aja. Pun pendidikan di Indonesia tida pernah mengenalkan ada agama Bahai misalnya. Masih banyak contoh-contoh lain tentang bagaimana pendidikan menjadi alat pembodohan yang bisa kita temui kalau sabar menelisiknya satu persatu. Nah, nasionalisme rupanya juga salah satu proyek pembodohan dalam pendidikan itu.
Dalam banyak literatur di studi-studi politik internasional dan studi postkolonialisme, nasionalisme merupakan sebuah hot topic. Tetapi secara mengejutkan rupanya term ini selalu saja dibicarakan dalam konteks negatif. Bennedict Anderson misalnya, dalam bukunya yang amat kesohor “Imagine Community”, mengatakan bahwa nasionalisme itu adalah produk penjajahan (Western) yang paling besar. Sebab di dalam nasionalisme itu terkandung adanya budaya sentral (modular form) yang mengontrol perkembangan masyarakat pinggiran (periphery). Bagaimana mungkin, katanya, seorang anak di Papua yang gak pernah ketemu dan berkenalan dengan seorang anak di Aceh (bahkan berbahasa dan bergaya hidup sangat berbeda) bisa sama-sama menggenggam identitas yang sama: anak Indonesia?! Itu absurd dan hanya berada pada dunia imajiner.
Pemikir2 postkolonial revolusioner semacam Julia Kristeva dan Partha Chaterjee juga sempat menggugat pemimpin-pemimpin yang menggunakan kekuatan term nasioalisme untuk memanipulasi kesadaran rakyat agar mau berperang, adu nyawa demi kepentingan elite.
Nasionalisme juga telah membungkus otak para pengikutnya untuk menuruti sebuah standard normal dari sebuah bangsa tertentu yang seringkali paradoks. Contoh konkretnya, kembali ke soal agama, di Indonesia hanya di kenal 5 agama (sekarang mungkin sudah 6). Dan parahnya, semua agama yang diakui itu adalah agama-agama import, yang secara sistematis dan formal membunuhi keberadaan agama-agama asli bangsa-bangsa di Indonesia. Kasus yng terjadi di Tengger misalnya, para pengikut Ajisaka (yang hidup di tahun 500an Masehi), dipaksa oleh negara untuk memeluk agama Hindu karena alasan yang konyol, “sorry... agama kalian tidak ada dalam daftar!” Hal yang sama juga terjadi di suku Kaharingan di Kalimanatan, Badui dan aliran kepercayaan di Jawa.
Bangsa (Nation), Negara (State) dan kepentingan elite telah bertumpang tindih yang kemudian memproduksi buku-buku sejarah yang hadir di ruang-ruang sekolah. Yang mungkin juga turut membahana bersama alunan musik dangdut di panggung-panggung 17 Agustusan di kampung-kampung.
Indonesia adalah negara bangsa. Itu adalah pernyataan yang selalu di dengung-dengungkan. Ini sekali lagi adalah sebuah bentuk pembelokan dari proses pendidikan formal kita. Kalau ngeliat penjelasan di buku-buku politik (yang paling nonjol Alexander Wendt misalnya) keliatan banget bahwa negara-bangsa (nation-state) itu adalah sebuah negara yang didirikan berdasarkan kesamaan kebangsaan. Dan bangsa itu tidak lain dan tidak bukan adalah bangsa Jawa, bangsa Minang, bangsa Dayak... nggak ada bangsa Indonesia, yang ada adalah Negara Indonesia. Kata si Wendt Indonesia itu bukanlah nation-state tetapi international-state, negara yang terdiri dari kumpulan/beberapa nation. Seperti juga Amerika Serikat, tidak pernah ereka meng-klaim diri sebagai nation-state karena kenyataannya emang bukan.
Lalu kenapa elite kita koq ngotot banget mengatakan bahwa Indonesia adalah nation-state? Inilah kepentingan elite yang tadi sempet dibilang sama si Bennedict Anderson, ini pula yang dilakukan para pelaku-pelaku kolonial terhadap koloni-koloni mereka.
Lalu apa artinya “Mencintai Indonesia”? Apakah ada nasionalisme Indonesia? Apa pentingnya menjaga keutuhan dari Sabang sampai Merauke, dari Kupang samapai ke Talaut? Apa pentingnya teriak-teriak sampai serak nyemangatin Taufik Hidayat? Kalau ternyata semua itu hanya untuk melanggengkan kekuasaan elite?
Apa pentingya Indonesia dapat ratusan emas kalau ratusan juta orang hidup miskin? Apa pentingnya negara besar tapi korupsinya juga lebih besar? Apa pentingnya Garuda tegak perkasa bila masih banyak anak-anak jalanan yang menghirup gas racun dari kaleng lem cap Radjawali?
Ini bukan pertanyaan tentang arti kemerdekaan, ini adalah pertanyaan tentang arti Indonesia.
Pertanyaan tentang “apakah kita sudah mencintai sesuatu yang benar dan dengan cara yang benar pula?”
Seperti aku udah bilang sebelumnya, mencintai Indonesia itu nggak lebih dari sekedar mencintai sebuah organisasi belaka. Kayak kita mencitai RT kita, mecintai sekolah kita, atau mencintai blog kita. Masih ngiblat sama si Anderson, kecintaan kita pada komunitas, keluarga, kawan-kawan itu jauh lebih sejati ketmbang kecintaan kita pada negara yang sebenarnya hanyalah imajiner. Ada ratusan negara di dunia ini... ternyata mereka semua “menjadi dan ada” hanya karena sebuah khayalan...
Lalu aku sempat berpikir bahwa daripada capek2 ngomongin nasionalisme yang absurd itu, kenapa nggak ngomong yang konkret-konkret aja; seperti mbantu anak putus sekolah, layanan kesehatan untuk orang miskin, berantas korupsi, jaga kerusakan lingkungan hidup dari para pebisnis serakah, dll. Bukanya melakukan hal-hal itu lebih asik dan nggak ada dilema moral di dalemnya? Bukankah hal-hal riil itu lebih penting ketimbang ngurusin nasionalisme????
Ups... masalah belum kelar sampe di situ doang rupanya. Beberapa kawan di blog ini udah nyampein betapa parahnya ketidakpedulian sebagian kita (yang hidup beruntung bisa kebetulan lahir dari rahim orng kaya) terhadap Indonesia. Mereka hidup cuman foya-foya, cengengesan sana-sini, dan hanya akan menangis kalau diputusin pacar. Apa betul kita butuh nasionalisme dalam menghadapi soal-soal seperi mereka ini? Atau tentang aliran duit dari Indo ke US yang tidak mendapatkan pembalikan sepadan karena brain drain, tahun 2004 saja tercatat ada 9,000 mahasiswa Indo di US. Diambil rata2 tuition fee 20,000 dan living expenses 1,500 perbulan (stadard minimum mhs UT Undergrad) makatiap semester ada sekitar $234 Juta ngalir dari Indo ke US!!!! Jadi setahun bisa hampir $1 Miliar! apakah dengan adanya fenomena ini “Nasionalisme” yang semula gak penting jadi penting lagi? Beberapa penulis pro-nasionalisme bilang kalau suksesnya Korea Selatan sama India (yang ini masih dlm proses sih) akibat danya kecintaan para mahasiswa yang kuliah di US di tahun 70an-80an untuk cepat2 balik setelah selesai belajar dan ngebangun negaranya. Jumlah mahasiswa Korea di US ada enam kali lebih banyak dari Indo, itu berarti mereka masukin duit dari Korea ke US juga enam kali lebih banyak, tapi sekarang mereka udah menikmati hasilnya. Sementara kita, apa kembalian yang kita dapet setelah “nyumbang” Amerika segitu gedhe tiap tahunnya?? Itulah kira-kira argumentasi para pro-nasionalis.
Fakta-fakta kontemporer semacam itu seolah kembali mengukuhkan bahwa nasionalisme bukan lagi soal khayalan atau imajinasi seperti yang dibilang Anderson, nasionalisme udah nemuin dunia realitasnya. Aku setuju, tapi bukan pada alasan itu aja.
Bagi aku, nasionalisme adalah soal menjadi anggota sebuah organisasi yang baik aja. Nasionalisme bukanya soal “right or wrong is my country” karena itu adalah nativisme. Nasionalisme juga bukan musuhnya internasionalisme (seperti gerakan agama dan kemanusiaan). Nasionalisme bagi aku adalah wilayah otoritas sebuah organisasi yang bernama negara untuk ngedistribusiin sumberdaya yang dia punya dan menyejahterakan anggota-anggota [baca:warga negara] nya. Mencintai negara Indonesia itu: sebagaimana mencintai RT kita, maka ikutan ronda biar ga ada maling masuk kampung. Sebagaimana mencintai sekolah kita, kita jaga nama baiknya biar gak terkenal sebagai sekolah yang tukang tawuran. Sebagai warga sebuah blog yang baik.. yaahh... nulislah sesuatu untuk blognya meskipun ngelantur kesana kemari: yang penting seru!
Pizz..Merdeka!
Oleh: Fadhil Putra
Posted by
Vidia Paramita
at
9:25 PM
1 comments
63 Tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
17 Agustus, 63 tahun yang lalu, Bung Karno dan Bung Hatta membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. 63 tahun sudah kita menikmati hidup merdeka dari penjajahan bangsa lain. Sebuah perjalanan yang cukup panjang, dan telah kita lalui dengan banyak airmata dan darah. Di era 1940-an bangsa kita memanggul bambu runcing, parang, dan senjata tradisional lainnya untuk mengusir penjajah Belanda, Jepang, dan antek-antek mereka. Mereka berjuang dengan motto "merdeka atau mati", dengan harapan generasi berikutnya dapat menikmati hidup merdeka dan sejahtera. Satu pertanyaan mengusik benakku: sudahkan bangsa Indonesia benar-benar merdeka?
Saya teringat pada satu kejadian menarik saat masih tinggal di Surabaya. Waktu itu saya perlu ke kantor pos besar Surabaya di daerah Jembatan Merah untuk mengambil paket kiriman dari mantan pacar (sekarang suami, red.). Saat antri, di depan saya berdiri seorang bapak paruh baya dengan pakaian batik yang warnanya sudah memudar, bersandal jepit, dan menggenggam sepucuk surat panggilan. Saat namanya dipanggil, wajahnya yang semula tampak lelah berubah sumringah. Tak lama kemudian, petugas menyerahkan sebuah bungkus kardus yang sudah terbuka, isinya (well, saya bisa melihat dengan jelas saat itu) ada sejumlah pakaian, celana jeans, kotak lampu neon, dan sepucuk surat beserta sejumlah foto. Bapak itu kemudian mencocokkan isi surat (yang ternyata dari anaknya yang menjadi TKW di Singapore) dengan barang-barang di kotak kardus. Kemudian dia berkata,"Maaf pak, kok handphone nya tidak ada disini? Anak saya bilang dia kirim handphone, dan dibungkus rapi di kotak bekas lampu neon. Tapi kok nda ada ya pak?" Si petugas mengecek ulang, dan memang si hp ini tidak bisa ditemukan. "Lha di label kirim tidak disebutkan kalau ada handphone. Salah anak bapak sendiri, mestinya dia sebutkan disini. Kalau hilang begini ya bukan tanggungjawab kantor pos pak." Setelah diceramahi mengenai "tata tertib" berkirim barang, si petugas minta bapak itu mengkontak anaknya, lalu kembali lagi lain hari. Giliran saya, paket (seperti juga paket si bapak itu) sudah terbuka, di "periksa" (bahasa jawanya di odhel-odhel) dan di rewrapped (dengan ongkos dibebankan ke penerima). Tapi, nasib saya lebih baik, karena isi paket utuh, meski sejumlah CD cover pecah. Saat saya berbalik, saya lihat bapak lugu itu duduk di lantai, dengan paket terbuka disisinya, menggenggam foto dan surat anaknya, dengan pandangan menerawang jauh, dan... airmata berlinang. Saya jadi iba. Saya ikut duduk disisinya dan mencoba mengajaknya bicara. Dan meluncurlah kisahnya: anaknya terpaksa jadi TKW di Singapore, karena si bapak tak lagi punya lahan untuk bercocok tanam. Seorang pengusaha, dengan backing aparat desa, memaksa sejumlah pemilik lahan untuk menjual tanahnya dengan harga dibawah rata-rata, dengan alasan akan dibangun jalan dan fasilitas umum. Ternyata yang dibangun adalah kawasan pertokoan dan pasar. Istrinya mengalami tekanan batin dan sakit. Anak gadisnya akhirnya menerima tawaran seorang agen untuk menjadi TKW. Selama setahun dia tak bisa menerima gaji penuh, karena sebagian besar untuk membayar fee si agen. Dan sekarang, saat dia sudah bisa menabung dan mengirimi orangtuanya handphone, dengan harapan akan memudahkan komunikasi, mimpinya hancur. Saya ikut prihatin dan sedih. Betapa teganya orang yang berbuat demikian terhadap keluarga miskin ini. Dengan memanfaatkan celah "pemeriksaan bea cukai", mereka "sortir" barang-barang yang tidak "diklaim" dalam "shipping declaration". Lalu apa gunanya kita punya mesin X-ray di port dan bandara ya, kalau ternyata akhirnya kita masih pakai teknologi "manual checking" begitu? Heran deh!
Nah, sekarang, bisakah kita mengaku diri merdeka di tengah-tengah saudara-saudara sebangsa yang hak-haknya terabaikan? Tertindas? Teraniaya? Terbungkam oleh karena sistem yang dibuat oleh bangsa kita sendiri? Saya sendiri malu mengaku diri merdeka, sementara saudara-saudara kita di Papua sana masih memakai koteka, padahal sumber daya alamnya sungguh besar. Tapi kemana gerangan hasil olah sumber daya alam nasional ini? Sudahkah pemerintah kita mendistribusikannya secara adil?
Kembali ke bapak lugu tadi, saya hanya bisa memberi direction kemana dia bisa mengadu. Termasuk nomer telpon saya dan telpon seorang rekan wartawan yang mungkin bisa meliput kisahnya. Tapi, sebagaimana sosok lugu rakyat jelata umumnya, dia menerima kejadian ini sebagai "nasib". "Saya sudah lega, anak saya baik-baik saja di negeri seberang", demikian ujarnya. Setelah ucap salam berpisah, dia menuntun sepeda tuanya, dengan paket terikat di belakang, kembali mengayuh perjalanan kembali ke desa berpuluh kilometer jauhnya.
Selamat Hari Proklamasi, pak...
Posted by
Anonymous
at
7:14 PM
0
comments
Kabar dari Austin
Pukul 7:30 pagi, menjelang Fall season udara Austin terasa sejuk segar persis seperti di Malang pada bulan-bulan yang sama. Di hari kerja, pagi begini, biasanya saya sudah siap-siap mandi untuk berangkat kuliah pagi. Tapi minggu ini, ditemani kopi Aceh sisa semalam, saya duduk didepan mesin ketik menuliskan “kabar dari Austin” untuk pembaca sekalian yang budiman dan sangat saya rindukan.
Entah karena rasa rindu akan Malang yang begitu menyengat atau apa, tapi setelah empat bulan tinggal di Kota Austin, saya merasakan banyak kemiripan antara kota ini dengan Malang tercinta (tentu saja di tengah banyaknya perbedaan). Perasaan ini pulalah yang membuat hati saya tergerak untuk menuliskan beberapa kisah yang sempat singgah di mata dan telinga saya, untuk saya bagikan. Kalau tidak dapat dijadikan sebagai sumber insiprasi, setidaknya tulisan ini dapat menjadi teman menyantap sepiring nasi jagung, pecel dan secangkir teh hangat.
Austin memang ibukota nagara bagian Texas, salah satu negara bagan terbesar di US, tapi bukan berarti ia merupakan kota terbesar di Texas. Bisa di bilang ia merupakan kota terbesar keempat di negara bagian ini setelah Houston, Dallas dan San Antonio. Dengan jumlah penduduk berkisar 800 ribu jiwa, menjadikan Austin pantas di sebut sebagai minipolitan. Aktivitas harian masyarakat cukup dinamis tetapi tidak bising, kondisi jalan kota yang cukup sibuk tapi tak ada kemacetan yang berarti serta polusi yang bertaraf sedang di tengah beberapa industri yang berjalan menggerakkan ekonomi kota. Deskripsi di atas sangat mirip dengan keadaan yang ada di Kota Malang, beberapa kalangan pun menyebut Kota Malang sebagai minipolitan. Yakni sebuah kota dengan fasilitas metropolitan minus kepadatan, kebisingan dan keruwetannya.
Seperti juga Malang, Austin merupakan kota sasaran bagi para penduduk yang mencari tempat bermukim yang nyaman. Udara yang sejuk, kondisi kota yang masih relatif rindang, tempat wisata alam yang segar dikombinasi dengan fasilitas modern seperti pusat perbelanjaan dan layanan finansial yang nyaman. Hal ini pulalah yang menyebabkan bisnis property di Austin juga merupakan salah satu sektor bisnis yang paling menggiurkan bagi para investor utamanya di bidang properti. Rumah yang kami sewa memiliki tiga kamar, satu kamar mandi, ruang tamu dan dapur, untuk itu kami harus membayar $1195 perbulannya atau sekitar Rp 11 juta rupiah! Sebelumnya, waktu tinggal di apartemen dengan ukuran kamar yang sangat kecil (+/- 3,5 m2) - hampir sebentangan tangan saja - saya harus merogoh uang beasiswa hingga $430 perbulan (+/- Rp. 4 juta). Itu semua belum termasuk jaringan internet, listrik, air dan sampah, yang kira-kira perbulannya total harus membayar Rp. 500 ribu.
Terdengar tak masuk akal? Tapi jangan salah, kondisi dan fakta-faka makro ekonomi jelas harus di pertimbangkan, misalnya standard gaji minimum di sini berkisar $1,000 (dengan asusmsi $6/jam fulltime) atau Rp 10 juta sedangkan di Indo hanya Rp 700 ribuan. Sebungkus rokok Marlboro di sini berkisar Rp 50 ribu perbungkus. Dsb dst.. tetapi setidaknya itulah ilustrasi bagi kawan-kawan yang berkeinginan sekolah ke Austin dengan biaya sendiri. Atau bagi mereka yang coba-coba berkalkulasi berapa banyak duit yang harus di rogoh para orang tua yang menyekolahkan anaknya di US. Atau lebih jauh lagi, mungkin bisa membantu menjawab rasa penasaran berapa banyak duit Indonesia yang di sedot US tiap bulannya dengan bisnis pendidikan yang mereka jalankan...
Tidak hanya karena suasana kota yang sejuk dan nyaman. Secara sosial, suasana akademik dan kedewasaan cara beripikir dan intelektualitas masyarakat Austin cukup tinggi. Buktinya adalah ditengah konservativisme Texas yang cukup terkenal, Austin adalah sebuah perkecualian. Contohnya, konservativisme masyarakat Texas umumnya tercermin dari sikap yang kurang welcome dengan pendatang, rasisme, US sentris, dan fanatisme agama. Sikap-sikap konservatif tersebut sukar ditemui di Austin, sehingga membuat Austin sangat nyaman bagi kulit putih, hitam, kuning, maupun sawo matang yang agak kusam seperti saya.
Mengapa masyarakat Austin begitu berbeda dengan masyarakat Texas pada umumnya? Sebagian orang yang saya temui di sini dengan mantap menyebut karena adanya kampus-kampus (terutama UT Austin) yang sudah hidup dan bergesekan dengan masyarakat lebih dari 100 tahun. Hmm... bagaimana dengan keberadaan Universitas Brawijaya, Unmer, Unisma, UMM, dsb di Kota Malang. Tentu telah pula memberi dampak positif baik secara ekonomi dan sosial pada masyarakat Malang pada umumnya, toh?
Kalau di Malang kita punya Waduk Selorejo, Payung, Kebun Teh Wonosari, Wendit, dll, di Austin mereka punya Town Lake (Barton Spring), sumber mata air yang dikelola menjadi kolam renang, ada jogging track dan kano/persewaan sampan.... ini pula yang membuat di setiap weekend jalur dari kota-kota besar terdekat seperti San Antonio maupun Houston ke Austin cukup padat, sebaliknya pada minggu sore, banyak kendaraan yang meninggalkan Austin menuju kota-kota tersebut. Kalau anda sulit membayangkan kondisi ini, ingat-ingat saja bagaimana setahun lalu, sebelum malapetaka lumpur Lapindo terjadi, di jalur Malang – Surabaya mulai dari Singosari sampai Lawang selalu terjadi kemacetan di Jumat petang atau Sabtu pagi dari utara ke selatan, sebaliknya terjadi pada Minggu sore atau Senin pagi.
Bedanya hanya terletak pada fasilitas jalan saja, karena di Amerika ada jalan tol yang sifatnya ‘intercity’ (antar kota) dan ‘interstate’ (antar negara bagian). Sehingga selalu ada laternatf bagi penguna jalan untuk memilih apakah akan memakai jalanan kota atau masuk jalan tol. Sejauh pengetahuan saya dalam mengunakan jalan tol di Austin gratis. Karena jalan disediakan oleh pemerintah dan bukan merupakan salah satu sektor bisnis seperti di indonesia. Kondisi jalannya sendiri sebenarnya tidak lebih baik dibandigkan jalan tol Gempol-Bunder, malah saya rasakan jalan tol Gempol-Bunder jauh lebih mulus dibandingkan jalan tol di sini. Memang cara yang lebih murah dan efesien untuk kasus Malang menghadapi efek bisnis wisata dan kemacetan ini adalah pembangunan ringroad atau flyover di tengah tersendatnya pembangunan jalan tol Malang – Surabaya.
Townhall meeting atau pertemuan masyarakat kota untuk membahas topik-topik tertentu terkait dengan problematika yang ada di kota dan berkaitan dengan kepentingan umum, juga sering terjadi. Pengumuman tentang adanya townhall meeting ini tersebar melalui berbagai fasilitas, seperti koran lokal, radio, flyer, dan saya juga sering mendapat email tentang kegiatan ini (mungkin karena saya mengambil jurusan kebijakan publik maka jurusan saya mendaftarkan email kami ke administasi kota) sayangnya, hingga saat ini saya belum sempat mendatangi town hall meeting tersebut karena masih harus berurusan dengan menumpuknya kuliah, tugas, kuis, makalah, dsb.
Kalau anda berjalan-jalan ke Splendid depan Balai Kota Malang tentu anda akan merasa gembira karena dapat melihat burung aneka rupa dan tupai-tupai yang lucu. Di Austin anda akan menemui suasana seperti di Splendid tersebut hampir di setiap sudut kota. Perbedaannya cuma satu saja, kalau di Splendid burung-burung dan tupai itu di dalam kurungan, kalau di sini mereka bebas beterbangan dan berlarian dijalan, taman kota bahkan pekarangan rumah kita. Untuk mendengarkan kicauan burung yang indah saya tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam hingga ratusan ribu atau bahkan jutaan. Saya cukup bawa kursi plastik saya ke patio (pekarangan belakang rumah), secangkir kopi dan buku kesukaan, cukup; lalu burung-burung itu akan berkicauan silih berganti menemani teduhnya suasana sore atau pagi hari saya. Tapi hati-hati kalau bawa roti atau snack, kalau anda lengah si tupai-tupai nakal bisa loncat dan hup! Mengambilnya dari meja anda. Ini bukan rekaan, ini benar-benar terjadi. Bahkan menurut sahabat yang tinggal di daerah barat kota (far west), sekitar 7 kilometer dari downtown, pada malam hari rusa liar masih berkeliaran di pekarangan-pekarangan rumah atau jalan-jalan kecil di lingkungan itu.
Penyatuan yang sempurna antara manusia, kota, burung,rusa dan tupai-tupai. Mungkin sebagian kita akan berpikir bahwa itu tidak mungkin terjadi di Indonesia, atau di Malang. Orang-orang kita pasti akan menembaki tupai dan burung-burung itu kalau mereka berseliweran di kota. Atau mereka akan menangkapnya lalu menaruhnya dalam kurungan. Pertanyaan saya, sejak kapan sebenarnya masyarakat kita menjadi begitu kejam terhadap binatang-binatang lucu ini?
Masih banyak cerita yang hendak disampaikan, masih banyak kerinduan yang hendak dikenang, atau suka dan derita yang hendak dibagi. Dari Austin, Malang terasa begitu dekat untuk dilihat. Bukan untuk dijiplak, dicangkok apalagi (istilah anak-anak sekarang) di-copy paste, atas apa yang terjadi di Austin dengan Malang. Bukan pula Amerikanisasi yang hendak dicapai, sekedar berbagi cerita saja; ketimbang melamun saat sedang menyantap nasi jagung dan teh hangat...
Oleh: Fadil Putra
Posted by
Vidia Paramita
at
3:24 PM
0
comments
