<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019</id><updated>2011-10-04T08:52:49.105-07:00</updated><category term='Blogactionday2008'/><category term='Transportation'/><category term='opini'/><category term='mitos'/><category term='indonesia'/><category term='angka'/><category term='puisi'/><category term='888'/><title type='text'>Kopi Susu</title><subtitle type='html'>Merasakan Indonesia dari Austin, senyaman dan sehangat kopi susu.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>40</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-9038160620919631660</id><published>2009-04-02T09:10:00.000-07:00</published><updated>2009-04-02T09:11:07.836-07:00</updated><title type='text'>OBSESI - I know I am an Indonesian... Then what?</title><content type='html'>Apa yang terbayang kalo kita mendengar kata obsesi? posesif dan kompulsif kah? Kalau definisi saya pribdari, terobsesi itu keadaan sampai titik membuat diri gelisah karena perasaan aneh akan sesuatu hal. Karena perasaan itu biasanya engga diingini, maunya dibuang dan dihindari... tapi susah sekali. Selalu "HAVE TO" yang selalu ada dipikiran, tanggung jawab yang tidak bisa tidak dilakuin sendiri, yang kalo diserahkan ke orang lain seperti bakal sesuatu terjadi. Ya mau ga mau deh untuk ngelakuin juga pada akhirnya. Apa teman-teman pernah merasakan hal seperti ini. Hmm... bagaimana kalo obsesi itu akan sesuatu yang baik, obsesi yang diingini. Obsesi yang membangun? akan sesuatu yang mempunyai dampak luar biasa bagi orang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertempat di ECJ ruangan 1.204, sudah tiga kali diruangan ini diadakan acara yang cukup menarik. Obrolan Sore-sore Seputar Indonesia, atau pendeknya, OBSESI. Dengan topik-topik yang berhubungan, panitia sudah memulai dengan yang pertama tentang Pemilu, dilanjutkan tentang identitas Indonesia dan yang terakhir, di hari Sabtu kemarin, berjudul "I know I am an Indonesian... Then what?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihadiri oleh teman-teman kita sendiri sebagai narasumber dengan ceritanya masing-masing, mewakili sekali dalam pemahaman dan perjalanannya sebagai orang Indonesia. Dengan total enam narasumber, OBSESI kali ini dibagi menjadi dua sesi yang setiapnya bakal dihadiri tiga narasumber dan sesi tanya jawab engga lama setelahnya.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Untuk sesi pertama, Yosua dari Permias college station mewakili orang Indonesia yang berorganisasi di Amerika Serikat. Diceritanya, Yosua bilang tentang majemuknya masyarakat Indonesia di kotanya. Dia dan organisasinya selalu berupaya membangkitkan semangat ke-Indonesian di komunitasnya. Selain untuk mengikuti Pemilu 2009 yang akan berlangsung sebentar lagi, baca koran, itu yang bisa saya tangkap sebagai ajakkannya untuk selalu coba mengikuti berita negeri. Anehnya, walaupun di jaman internet ini dimana informasi sangat mudah untuk didapat, jujur saja masih sulit untuk membiarkan diri duduk didepan laptop dan dengan satu dua klik membuka thejakartapost.com atau kompas.com. Saya sempat terpikir mungkin sampai saya mengalami langsung atau seperti yang seperti disampaikan Yosua dalam presentasi nya, sampai malam sebelumnya gua mendengar berita tanggul jebol dari teman, baru tersentak sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo Yosua bermain di organisasi di Amerika sini, di presentasi kedua, teman kita, kak Tuti menceritakan pengalamannya makan asam garam di beberapa organisasi di Indonesia. Ia mempunyai hati yang besar untuk perjuangan hak-hak kaum perempuan. Dari besar di keluarga kurang mampu, mudah yang menjadi alasannya untuk ia sampai sekarang dengan beasiswa bisa melanjutkan sekolah di Amerika Serikat. Kak Tuti mempunyai cita-cita yang tinggi untuk masa depan bangsa terutama masyarakat yang termarginalisasi, kaum perempuan. Engga bisa saya sebutkan satu persatu organisasi ataupun jaringan (networking) yang lebih luas yang udah dimasukki olehnya. Tapi yang pasti kalau ingin mencari tahu lebih lanjut tentang organisasi, langkah, atau sekedar tips, ia bersedia sekali dimintai tolong apalagi dibantu berjuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesi pertama diakhiri oleh Audi yang menceritakan kalo dia engga pernah terpikir untuk punya hati untuk Indonesia apalagi sampai menyuarakannya ke orang lain. Tapi siapa yang tahu, kalo lambat laun kecintaan akan negeri ini tumbuh dan klimaksnya sampai ketika dia diminta jadi panitia, bahkan menjadi ketua OBSESI. Pandangannya berubah 180 derajat, dari yang berpikir kalo negara seperti di Afrika sanalah yang perlu dibantu menjadi orang-orang dinegara sendiri. Suatu transformasi yang menurut saya luar biasa untuk dialami oleh seseorang untuk punya hati akan bangsanya sendiri. Sesi satu ini diikuti dengan tanya jawab yang menarik pula, mulai dari pertanyaan seputar nasionalisme, langkah-langkah yang bisa diambil kita-kita yang jauh dari tanah Indonesia, sampai diskusi humor soal bahasa Indonesia baku. Networking yang kalo di Indonesiakan menjadi jaringan =).&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Sesi kedua kita kembali dihadiri oleh tiga narasumber, yang juga dari teman-teman kita sendiri lengkap dengan cerita-cerita nya yang unik. Teman kita yang berbicara pertama, mas Yeki begitu panggilannya, menceritakan kegigihan untuk bangkit dari kondisinya yang bagi budaya Indonesia tidak memungkinkan memperoleh cita apalagi kesempatan bersekolah tinggi sampai S2 di Austin sini. Yang membuat saya takjub adalah tidak satu katapun yang keluar dari mulut mas Yeki menunjukkan keluhan, tapi malah kata-kata yang menyemangati. Membuat saya bertanya-tanya dalam batin, sebenarnya temanku ini yang patut dikasihani atau jangan-jangan malah saya sendiri. Dengan keyakinan yang bukan sembarang didapat, perjuangannya juga dilakukan untuk masyarakat yang terhimpit. Bayangkan kalo semua orang Indonesia bersikap seperti ini, alangkah majunya negara kita. Mas Yeki ini seorang tuna netra yang sedang mengambil jurusan special education.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Dan, yang menjadi pembicara selanjutnya, Tan Tan. Tan tan yang baru lulus semester lalu membawakan personal sharingnya selagi dia sedang mengalami masa menanyakan jati diri, cita dan kontribusi yang ingin dilakukan di masa kelulusan ini. Jujur saja engga biasa saya mendengar dari mulutnya dengan keberanian dan kejujuran meneriakkan kalo dia butuh bantuan untuk merealisasikan cita yang dipunya. "Gua ingin merekam cerita orang-orang Indonesia yang jarang terdengar" katanya. "Terutama yang terhimpit, dan kemudian diberitakan ke orang-orang lain" lanjutnya. Lantas langsung aja, engga sedikit juga dari para penonton waktu itu meresponinya. "Abis ini kita ngobrol, gue ada ide yang mungkin cocok ama elo" begitu kata seorang penonton sambil tersenyum senang. Menurut saya, ini komunitas Austin yang asli dan baik budayanya untuk diteruskan. Dimana ketika satu orang meminta tolong untuk merealisasikan impiannya, teman yang lain langsung menjulurkan bantuan. Cita atau proyek nya ini bisa jadi bukan sembarang proyek seperti proyek sekolah yang mungkin dengan keterpaksaan, atau motivasi nilai A. Melainkan bisa jadi buah dari dasar impian hati. Proyek yang mungkin dampaknya jauh lebih besar dari nilai A dan naiknya angka GPA.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Tiba di presentasi terakhir obsesi yang berjudul "I am Indonesian... then what?", Kezia mempresentasikan dirinya yang punya cita kolektif dengan kakak-kakaknya. Sungguh kreatif dan kekompakkan tergambar disini. Kalau dipikir-pikir, sudah jarang sekali hal semacam ini untuk ditemui. Jangankan di Amerika, di Indonesia pun juga kena imbas dari dunia yang makin cepat dan kian individualistik, yang unsur kekeluargaan mulai hilang. Kezia perlu disemangati semangat kekeluargaannya. Ia dan kakak-kakaknya bekerja sama untuk satu tujuan yang dipunya. Kakak yang satu mengambil jurusan manajemen LSM, kakak lainnya dibagian pendidikan, dan dia sendiri komunikasi, mereka bertiga bercita ingin membuka satu lembaga yang bisa memberikan bantuan berupa fasilitas komputer atau alat belajar lainnya. Kepada siapa? kepada sekolah-sekolah yang tidak mampu.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;OBSESI yang mangandung banyak cerita itu ditutup dengan penyerahan mug Longhorn (saya yakin Yosua bakal pakai mug ini^^) dan sertifikat tanda terima kasih kepada ke-enam pembicara. Ada hadiah juga untuk pertanyaan paling bagus yang berhasil dilontarkan selama sesi tanya jawab.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Yah, lewat tulisan ini saya punya harapan kalau ajang OBSESI ini bisa terus ada. Sederhana saja alasannya. Pertama, karena saya, dan saya yakin banyak dari yang hadir termotivasi akan cerita cita-cita teman-teman kita yang bukan kecil loh... besar, sebesar bangsa, bangsa kita, Indonesia. Kedua, engga perlu dengan objektif kuantitas yang bisa meramaikan satu auditorium, saya senang sekali dengan kualitas OBSESI ini yang selalu menjadi fokus peningkatan. Bukan berarti saya tidak setuju untuk mencoba menghadiri banyak orang. Saya hanya berpikir kalo dengan kualitas ini sudah mampu menggerakkan hati orang-orang yang biarpun sedikit ini untuk membuat suatu perubahan besar, bagaimana dengan menambah satu orang, dua orang, dan lebih banyak orang... tidak terbayang perubahan macam apa yang bakal ada. Dan semua ini bisa dimulai di kota Austin ini. Jadi bisakah kata "Indonesia" menjadi jawaban dari pertanyaan saya di paragraf pertama diatas?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-9038160620919631660?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/9038160620919631660/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=9038160620919631660' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/9038160620919631660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/9038160620919631660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2009/04/obsesi-i-know-i-am-indonesian-then-what.html' title='OBSESI - I know I am an Indonesian... Then what?'/><author><name>Handi Chandra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17640133500684202790</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-7359777379742383765</id><published>2009-04-01T07:47:00.000-07:00</published><updated>2009-04-01T07:59:42.679-07:00</updated><title type='text'>KESADARAN YANG MENYAMPAH</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;IBARAT SEBUAH RUMAH YANG TAK MEMILIKI TEMPAT&lt;/span&gt; sampah dan kamar mandi, kotoran Kota Bandung berserakan di setiap pojok ruangan. Di ruang tidur, di ruang bermain, di ruang makan, di mana-mana. Bahkan di pojok "ruang tamu", di pintu selamat datang Bandung, sampah-sampah menumpuk dan berbau busuk menyengat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kapan Kota Bandung akan menjadi kota sampah, semua tak tahu. Bahkan dengan upaya pemerintah Kota Bandung yang rajin mengangkut sampah akhir-akhir ini, diperkirakan sekitar 7 bulan mendatang Bantung baru akan bersih dari sampah. Tapi benarkah 7 bulan, sementara sampah konsumsi Bandung setiap hari semakin bertambah? Dan kuatkah masyarakat Bandung menahan bau busuk menyengat serta penyakit yang dibawa lalat yang berlesatan di depann mata selama itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung telah menjadi kota sampah. Masyarakat harus rela menutup hidungnya sepanjang jalan menahan bau busuk sambil mengusir lalat-lalat yang merubung. Dulu ketika sampah Bandung mulai menumpuk busuk pertama kalinya, masyarakat Bandung sewot dan bertanya-tanya mengapa truk pengangkut sampah tak kunjung datang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tahu bahwa Bandung tak punya TPA, masyarakat mulai menyadari bahwa sampah disekitarnya tak akan diangkut sampai kota Bandung punya TPA lagi. Masyarakat masih sewot dan mengeluh. Lembaran-lembaran gugatan dan komplain muncul di berbagai surat kabar, spanduk, selebaran, televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin lama sampah menumpuk, kesadaran masyarakat semakin terusik untuk berontak. Sampah-sampah mulai dibakar sendiri dan papan-papan kekecewaan yang terdengar mengancam Pemerintah Kota mulai ditancapkan ditumpukkan-tumpukkan sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lain dulu lain lagi sekarang. Kesadaran masyarakat Bandung diam-diam sudah mulai menyampah. Merela diam-diam mulai menyadari bahwa sampah harus diterima sebagai bagian dari kehidupan mereka. Sampah menjadi teman. Dan kesadaran untuk mempertanyakan dan mengguga realitas itu mulai menumpul, mulai menyampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat seseorang yang terbuasa dengan kotoran dan sampah berserak di dalam rumahnya, masyarakat sudah mulai menerima dan mau hidup bersama sampah. Dulu, pada masa awal, ketika Kota Bandung disebut kota sampah dalam televisi, masyarakat dan pemerintah kota Bandung geram dan tak terima. kini, siapapun yang menyebut Bandung kota sampah, masyarakat dan pemerintah kota Bandung mulai mengangguk,&lt;span style="font-style: italic;"&gt; ya... ya... memang betul sih&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ketika Kementrian Lingkungan Hidup mengumumkan Kota Bandung sebagai kota metropolitan terkotor dalam Malam Anugerah Lingkungan Adipura 2006 (Kompas, 13/06/06, h.12), masyarakat dan pemerintah Kota Bandung mulai rela mengangguk mengiyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sampah dan kesadaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang ingin saya tekankan dalam tulisan ini bukanlah masalah sampah Kota Bandung yang harus segera ditangani, tapi lebih pada kesadaran masyarakat Kota Bandung (khususnya tentang sampah itu) yang mulai semakin menyampah. Masyarakat Bandung yang mulai memiliki kesadaran kolektif yang naif dan tidak korektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran adalah sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fakultas mental yang memberikan manusia kemampuan memahami rasionalitas dan kehendak bebas dan memungkinkan adanya pelbagai penafsiran tentang realitas&lt;/span&gt; (Takwin, 2005: 85). Di sini, kesadaran berperan memahami dan menentukan kehendak dan sikap kita secara rasional dalam menghadapi realitas di sekeliling kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan terjadi ketika kehendak dan rasionalitas kita tidak padu dan tidak seimbang. Di sinilah kesadaran kita mulai berubah menjadi kesadaran yang naif dan tidak korektif. Ketika kita mengetahui sesuatu, tetapi kita melaksanakan tindakan yang tidak sesuai dengan pengetahuan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Paulo Freire, kesadaran manusia terkategorikan menjadi empat jenis. Kesadaran transformatif, kesadaran kritis, kesadaran naif, dan kesadaran magis. Pada tingkat kesadaran naif, ketidakseimbangan dan ketakpaduan antara rasionalitas dan kehendak terjadi begitu rupa sehingga membuat manusia tidak menyadari sesuatu yang dia lakukan sebenarnya tidak sejalan dengan pengetahuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus sampah Kota Bandung yang mulai diterima masyarakatnya sebagai bagian--yang mau tidak mau-- harus diterima, kesadaran naif yang bersifat kolektif mulai menggejala dalam alam pikiran masyarakat Kota Bandung. Mereka mengetahui bahwa keberadaan sampah disekeliling mereka mengganggu dan membawa penyakit tetapi mereka mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar dalam keseharian mereka dan tak perlu dikoreksi atau ditinjau ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thomas Aquinas menggunakan akal sehat (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;common sense&lt;/span&gt;) untuk menjelaskan kesadaran. Dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Summa Theologica&lt;/span&gt; ia mengemukakan bahwa manusia dapat menemukan dirinya menyadari sesuatu dengan pengalaman indrawi dan presepsi. Maka, jika seseorang tak mampu menyadari secara utuh apa yang harus dia lakukan, padahal ia sudah melihat realitas dengan indra dan persepsi nya, maka akal sehatnya perlu dipertanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sebenarnya yang perlu diwaspadai: dalam kasus yang begitu tampak seperti sampah saja, masyarakat sudah mulai memiliki kesadaran naif kolektif untuk tidak mempersoalkannya lagi. Apalagi pada masalah-masalah yang tak tampak seperti korupsi di tubuh Pemerintah Provinsi, Korupsi Pemerintah Kota, pembengkakan APBD, dan lainnya; bahwa diam-diam akal sehat kita mulai kotor dan penuh dengan sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sampah sebenarnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampah sebenarnya tidak terletak di sudut-sudut Kota Bandung atau di tempat manapun, yang mulai menumpuk dan membusuk. Sampah sebenarnya teronggok di pikiran kita dan menghalangi kesadaran kita untuk melakukan tindakan-tindakan yang benar berdasarkan pengetahuan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampah yang berserak di jalanan atau di setiap tempat bisa segera kita bersihkan kapan saja. Tapi jika pikiran dan kesadaran kita masih dipenuhi sampah, kita masih akan tetap memproduksi sampah sampai kapanpun. Dan serajin apapun kita membersihkan sampah di jalan, di lapangan, di manapun, sampah-sampah tetap akan keluar dari otak kita, dari wajah kita, dari tubuh kita. Menumpuk dan semakin menumpuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita harus menunggu sebuah ledakan sampah lagi seperti di Leuwigajah, atau apakah kita harus menunggu kota kita benar-benar dipenuhi sampah, untuk mulai membersihkan pikiran dan kesadaran kita dari sampah-sampah yang menghalangi kita untuk berani kritis dan mengoreksi hal-hal yang salah dan keliru menjadi lebih baik dan benar. Tentu saja tidak. Tentu saja kita bukan orang-orang bodoh yang membiarkan semua itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum saya menutup tulisan ini, saya berharap kita tak terus menjadi orang-orang bodoh yang hanya akan menghasilkan tindakan-tindakan bodoh. Seperti kata Cicero, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dum vitant sulti vitia in contraria currunt&lt;/span&gt;. Jika orang-orang bodoh ingin menghindar dari perbuatan yang salah, mereka biasanya melakukan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;FAhd &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Djibran&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Insomnia Amnesia. Catatan Mahasiswa Insomnia Bagi Bangsa yang Amnesia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Press, Yogyakarta: 2007.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-7359777379742383765?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/7359777379742383765/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=7359777379742383765' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/7359777379742383765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/7359777379742383765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2009/04/kesadaran-yang-menyampah.html' title='KESADARAN YANG MENYAMPAH'/><author><name>Handi Chandra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17640133500684202790</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-405213690156543708</id><published>2009-03-26T09:42:00.000-07:00</published><updated>2009-03-26T09:44:02.218-07:00</updated><title type='text'>Salam dari tengah-tengah hujan</title><content type='html'>Sedemikian pula waktu berjalan dengan pelan. Ketika sedang menunggu giliran presentasi, sang penulis teringat kepada kampung halamannya dahulu di Austin, Texas. Andai ia dapat kembali, bersama teman-temannya yang sudah dikenal dengan baik. Tidak disangka takdir membawanya ke Atlanta, dimana saya bisa belajar di salah satu universitas yang terkenal dalam subyek teknik penerbangan. Tidak disangka pula, sudah banyak ia perlu meninggalkan orang-orang: dari sejak ia pindah studi ke singapura sampai saat ini. Dimana banyak orang yang mempunyai impian untuk berkelana di tempat nan jauh, sang penulis sangat bimbang untuk pergi. Dua sisi koin: dimana satu menayangkan masa depan, dan satu lagi melambangkan nostalgia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir tahun 2008, penulis menerima kabar bahwa ia diterima di Georgia Institute of Technology, untuk melanjutkan bidang pelajaran di tingkat S2. Uang sekolah dibayar, bahkan pekerjaan yang memberi gaji bulanan. Kemungkinan hal ini cukup untuk orang-orang mengambil tawarannya. Meskipun disaat itu penulis tidak ingin pindah ke Atlanta (karena alasan cuaca dan berbagai alasan lain), ia tidak merasa bahwa hidupnya akan sangat berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah berbedanya realita dan ideal dari sang penulis ketika ia sampai di kampus sekolah untuk pertama kali. Dia tidak tahu menahu dan tidak mengerti apapun, ketika dikirim kesana kemari untuk membereskan formulir-formulir sekolah, ketika ia harus masuk ke dalam kelas yang berisi tujuh puluh murid lainnya, dan ketika ia harus belajar untuk mengejar pelajaran yang tidak dia ikuti dari tahun silam. Semua ini sangat asing baginya. Tidak ada orang yang dikenal. Tidak ada teman yang bisa diajak berbicara. Baru kali ini sang penulis merasa sepi. Dahulu, ia dapat melakukan kegiatan sendiri dan tidak perlu bertatap muka dengan siapapun. Saat ini, ia merasa hidupnya tidak lengkap dengan ketidakberadaan orang-orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang terjadi dalam masa 3 bulan ini? Sang penulis masih belum mengerti dengan penuh. Tetapi, apa yang ia dapatkan semasa ia berkunjung kembali ke Austin adalah keberadaan mereka sangat mempengaruhi keberadaaan sang penulis di saat ini. Meski ia telah mengenal orang-orang lain di kota baru ini, ia tetap tidak akan melupakan teman-teman yang ia tinggalkan. Merekalah yang memberinya kekuatan di saat-saat yang tidak pasti, di saat-saat bimbang, dan di saat-saat yang tidak menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya, sang penulis dipanggil oleh salah satu anggota tim untuk masuk ke ruang presentasi. Inilah akhir dari cerita pendek yang bisa ia tulis dalam waktu satu jam selagi menunggu. Kiranya ini bisa menjadi memori yang tertulis atas kerinduannya di tempat yang lama.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeffrey Tanudji&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-405213690156543708?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/405213690156543708/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=405213690156543708' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/405213690156543708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/405213690156543708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2009/03/salam-dari-tengah-tengah-hujan.html' title='Salam dari tengah-tengah hujan'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-5569394655284560884</id><published>2009-02-07T10:33:00.000-08:00</published><updated>2009-02-07T10:34:37.580-08:00</updated><title type='text'>Asyiknya main Facebook</title><content type='html'>Fadillah Putra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Judul di atas sengaja aku pilih sebab teringat buku-buku sekolah anakku hampir semuanya memiliki judul serupa. Seperti “Asyiknya bermain Angka”, “Asyiknya Mewarnai”, “Asyiknya Belajar Bahasa Inggris”, dll. Setelah kubuka-buka, isi di dalamnya, secara mengejutkan, ternyata juga emang sangat mengasyikkan. Bahkan untuk seorang yang berusia tak lagi muda ini. apakah betul sesuatu yang mengandung ke-asyik-an itu bersifat universal dan menerabas usia, jenis kelamin, etnisitas dan kelas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Semenjak beberapa tahun terakhir ini dunia tengah tenggelam dalam keasyikan baru yang bernama Facebook. Kalau dilihat secara kuantitatif sebenarnya Facebook tidaklah memiliki angka yang fantastis. Member yang tercatat dalam Facebook saat ini [hanya] 90 juta (data dari Zeta Interactive, Peanut Labs Media dan Hinger Media 2009) . Terutama di bandingkan penguna layanan surat elektrik (Email) Yahoo yang mencapai 260 juta. Tapi tentu saja Anda akan menyangkal bahwa antara Yahoo dan Facebook itu beda spesies. Okey, lalu kalau kita bandingkan dengan Friendster, ternyata Friendster juga memiliki angka yang sama yaitu 90 juta (TIME 27 Okt 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Lalu mengapa Facebook sekarang terkesan lebih “poweful”? Masih dari TIME, ternyata sejak berdiri hingga sekarang Friendster hanya berhasil menembus pasar Asia saja (90% pengguna Friendster adalah Asia), sementara Facebook, baru satu tahun belakangan ini menembus Asia. Sehingga bila Facebook berhasil menembus 50% saja market-share Asia (aku perkirakan market-share untuk bisnis ini sampai 300 juta), jumlah membernya akan menjadi dua kali lipat dibandingkan Friendster (dan ingat dalam bisnis ini multiple-account sangat dimungkinkan). Berapa banyak duit yang dihasilkan Mark Zuckerberg dkk dengan bisnis Facebook ini? Akhir Tahun 2008 total kekayaan Facebook adalah US$ 516 million atau bekisar Rp. 50 Trilliun! Jauh lebih besar dari total APBD Prov. Jatim yang cuman Rp. 20-an Triliun. Bisa dibayangkan bila target minimum 50% pasar Asia bisa tercapai sampai tahun 2010, total kekayaan Facebook bisa separuh dari APBN Indonesia! Sebuah lembaga tanpa minyak, tanpa tanah bisa bikin uang sebanyak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Aku baru saya menikmati asyiknya bermain angka-angka Facebook, sekarang bagaimana dengan asyiknya ngerasani Facebook.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Harvey Jones (2008), peneliti dari MIT, dan juga sebagaimana dilansir banyak media, mengatakan bahwa ternyata selama ini sistem keamanan Facebook tidaklah kokoh. Hal ini membuat data-data yang terdapat dalam Facebook dapat dengan udah diakses untuk kepentingan-kepentingan memata-matai (survelliance). Beberapa gosip juga beredar bahwa ternyata source code dari situs ini juga telah bocor ketangan beberapa orang, terutama agen-agen CIA. Bayangkan bila Anda memiliki akses atas data 100 juta orang, lengkap dengan profil, hobby, siapa saja kawan-kawannya, bahwa perasaan apa yang sedang mereka rasakan saat ini. Sempat terbayang dibenakku untuk membuat semacam time-series table dinamis tentang perubahan perasaan 100 juta orang dari hari-kehari.. hmm.. Jadi singkatnya, membuka account di Facebook sama saja menelanjangi diri kita sendiri untuk diekspose ke muka publik. Begitulah kira-kira hasil dari riset pak Harvey.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Hal mutakhir yang menarik tentang Facebook adalah soal foto-foto gambar ibu lagi menyusui. Tim sensor Facebook belakangan ini ‘memberedel’ foto-foto ini karena diangap cabul (obscene). Ribuan protes berdatangan, utamanya dari masyarkat Amerika (Utara, Tengah, Selatan) dan Eropa. Tapi ternyata Facebook tetap menyensornya, kenapa? Karena Facebook sudah mulai sadar dan menempatkan posisinya konteks internasional. Ingat, bahwa pelanggannya juga ada di Timur Tengah, Asia Tenggara dan Selatan. Dan konon, untuk memutuskan ini telah terjadi perdebatan yang sangat sengit. Lucu sekali, masalah buah dada seorang ibu yang lagi menyusui saja bisa jadi masalah besar dalamsebuah insitusi berskala puluhan triliun rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Kampanye-kampanye politik di dalam situs ini yang tidak terorganisir dengan rapi juga bertebaran di mana-mana. Barrack Obama juga menggunakan situs ini sebagai media kampanye politiknya adalah salah satu contoh. Sekarang di Indonesia kita sudah mulai melihat bagaimana beberapa caleg juga, secara amatiran, manfaatkan Facebook sebagai media kampanye gratis (hmm.. perlu diteliti berapa banyak penguna Facebook yang nyoblos dalam pemilu). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Beberapa negara, seperti Syiria, Burma, Bhutan dan Iran, juga telah memblokir peredaran Facebook di negaranya sebagaimana Prof. M. Nuh pernah memblokir Youtube bebera bulan lalu. Hal ini mereka anggap karena situs ini membuka peluang terbangunnya aliansi dan komunikasi para pemberontak sebab memang keadaan politik internal di negara-negara sedang kacau. Khusus bagi Iran, tentu dengan membawa-bawa wacana agama, mengatakan bahwa Facebook adalah budaya barat – Amerika – dan ehm.. kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sekarang Facebook sudah mulai menjalari Indonesia, bahkan aku sendiri berhasil menemukan teman SMP yang sudah puluhan tahun tak bersua. Lagi-lagi penyesalan hanya satu saja terbesit, identitas kita di maa dunia hanya dilihat sebatas market-share. Kita hanyalah angka dan prosentase di mata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sekarang Facebook sudah mulai menjalari Indonesia. Kawan-kawan di kantor, di NGO ku, teman-teman kuliah, teman se-perbeasiswaan, bahkan saudara-saudara ku semuanya telah ter-digitalized keberadaannya. “Nafsu” untuk pulang dan bertemu makin menipis, sebab kabar mereka dan muka-muka mereka, muka anak-anak mereka bisa kuupdate setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Berapa menitkah aku telah menghabiskan waktu di depan halaman cyber berwarna biru ini hari ini? Asyik bukan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-5569394655284560884?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/5569394655284560884/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=5569394655284560884' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/5569394655284560884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/5569394655284560884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2009/02/asyiknya-main-facebook.html' title='Asyiknya main Facebook'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-6837910090515750120</id><published>2009-01-02T08:32:00.000-08:00</published><updated>2009-01-13T19:50:59.157-08:00</updated><title type='text'>Melihat Indonesia Yang Sebenarnya</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Sebagian besar dari kita yang &lt;span lang="IN"&gt;sekolah&lt;/span&gt; di Amerika lahir dan dibesarkan di kota-kota besar di Indonesia. Kita telah terbiasa dengan pemandangan kota, gedung-gedung tinggi pencakar langit, kemewahan dan gaya hidup yang ditawarkan oleh perkotaan. Namun gambaran ini sebenarnya hanyalah satu gambaran yang sangat semu tentang Indonesia. Fakta yang sebenarnya adalah Negara kita masih tergolong miskin dan masih banyak rakyat kita yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Walaupun Negara kita ini sangat makmur, namun masih banyak daerah-daerah yang tertinggal.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Di liburan kali ini saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Lamongan, satu kabupaten yang terletak di sekitar Surabaya. Kota tersebut dilewati jalur Pantura yang menghubungkan pelosok Jawa Barat dengan Jawa Timur. Di kota inilah sahabat saya Fadil Putera bersama keluarganya berada. Fadil tinggal di satu desa di sekitar kota Lamongan. Suasana desa ini sangat damai dan tenang. Setiap warga desa kenal satu dengan yang lain dan saling menyapa tiap kali bertemu. Baru kali ini saya berkunjung ke desa, pengalaman ini telah membuka mata saya.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Sebagian besar dari warga desa bermata-pencaharian sebagai petani. Hampir di seluruh pelosok desa bisa ditemukan tambak yang terisi air yang tingginya sepinggang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZVtDPHlXRNc/SV5EBRUkjxI/AAAAAAAAHHQ/7dG1nzG_gG0/s1600-h/1.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286737801199783698" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZVtDPHlXRNc/SV5EBRUkjxI/AAAAAAAAHHQ/7dG1nzG_gG0/s320/1.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tambak-tambak ini ditanami bibit padi yang dirawat hingga panen nanti. Waktu panen, padi diproses sehingga beras bisa terpisah dari kulitnya dan dibungkus, siap untuk dijual di pasar. &lt;?xml:namespace prefix = v /&gt;&lt;v:imagedata title="SSL25454" src="file:///C:\Users\HANDIC~1\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image003.jpg"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ZVtDPHlXRNc/SV5D0QJ6uuI/AAAAAAAAHHI/_VZq1tBPK1Y/s1600-h/3.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286737577548364514" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_ZVtDPHlXRNc/SV5D0QJ6uuI/AAAAAAAAHHI/_VZq1tBPK1Y/s320/3.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ZVtDPHlXRNc/SV5DzzlFjSI/AAAAAAAAHHA/Jid04kEsP78/s1600-h/2.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286737569877691682" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZVtDPHlXRNc/SV5DzzlFjSI/AAAAAAAAHHA/Jid04kEsP78/s320/2.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Kulit beras biasanya dijadikan makanan ayam atau dijadikan semacam ‘baygon’ untuk mengusir nyamuk kalau dibakar. Setelah panen biasanya para petani memakai tambaknya untuk memelihara ikan atau udang agar bisa dijual untuk mendapat pemasukan lebih.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="MsoIntenseEmphasis"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold; FONT-STYLE: italic"&gt;Membantu Si Miskin Dengan Membuka Usaha&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Fadil pernah berbincang dengan saya tentang pengalamannya dalam satu proyek yang diprakarsai oleh World Bank untuk membantu warga miskin di desa-desa. Salah satu caranya adalah dengan membagikan uang sebesar Rp 500.000 ke setiap kepala keluarga dan berharap mereka akan memakai modal ini untuk berusaha. Tapi akhirnya upaya ini gagal dikarenakan uang yang diterima warga miskin semuanya dipakai untuk membeli kebutuhan pokok. Sebagian besar dari warga miskin ini tidak memiliki keahlian yang bila ditunjang dengan modal yang cukup bisa berkembang.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Para peneliti dari World Bank mungkin tidak pernah terjun langsung ke desa-desa dan menyaksikan apa yang terjadi, sehingga teori-teori yang mereka kembangkan sering kali tidak membantu justru membawa dampak sebaliknya. Fadil sendiri, yang sudah bertahun-tahun tinggal di desa ini lebih mengetahui seluk beluk kehidupan di desa, pengamatan dia yang lebih dalam memberikan dia bekal untuk bisa memikirkan solusi yang kreatif dan kongkrit untuk menolong warga-warga yang miskin.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Upaya yang dilakukannya selama ini adalah dia membeli beberapa ekor sapi yang kemudian dipelihara oleh warga setempat yang dipekerjakan. Satu kerbau ditangani oleh satu pekerja. Pekerjaannya tidaklah membutuhkan keahlian. Paling kerbaunya perlu dibawa ke sungai untuk dimandikan, perlu dikasih makan dan sebagainya. Setelah beberapa bulan sapinya sudah bisa dijual dan labanya bisa dibagi dengan para pekerja.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ZVtDPHlXRNc/SV5ETmVt83I/AAAAAAAAHHY/k9QJFaoflwY/s1600-h/4.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286738116079383410" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_ZVtDPHlXRNc/SV5ETmVt83I/AAAAAAAAHHY/k9QJFaoflwY/s320/4.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Kalau kita berpikir secara teori management, efisiensi operasional sangatlah minim apabila setiap ekor dipelihara oleh satu orang, karena satu orang sebenarnya bisa memelihara empat hingga lima ekor sapi. Di sinilah perbedaan usaha yang berupa bantuan dan usaha yang hanya mementingkan laba. Usaha ini lebih bersifat membantu.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="MsoIntenseEmphasis"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold; FONT-STYLE: italic"&gt;Dampak Kelangkaan Pupuk&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Dahulu kala petani membuat pupuk sendiri dengan memakai kotoran hewan atau bangkai tanam-tanaman yang sudah hancur. Pada saat orde baru pemerintah mulai menyalurkan pupuk urea yang terbuat dari bahan-bahan kimia. Bila dibandingkan, pupuk urea dapat memberikan hasil yang lebih banyak dalam waktu yang lebih singkat. Ini membuat pupuk urea lebih dipilih oleh petani. Namun pupuk ini ternyata merusak tanah dan apabila terlalu sering dipakai bisa membuat tanah menjadi tidak subur, diperlukan masa tenggang untuk mengembalikan kesuburannya lagi.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Pupuk urea ini bisa disamakan dengan candu, sekali dipakai petani akan mau terus. Padahal sekarang pemerintah sudah tidak bisa lagi mendistribusikan pupuk urea ini dengan mudah sebab pemerintah ingin petani bisa mengembangkan pupuk alami sendiri. Yang memproduksi dan yang mengecerkan (distribute) pupuk ini ditunjuk oleh pemerintah dan jumlah diecerkan sangat terbatas. Di sinilah terletak kekurangan mekanisme ini, sebab pengecer ini bisa berkolusi dengan pejabat setempat atau, dengan minat hanya ingin mencari laba, menyalurkan pupuk urea ke desa lain dengan harga yang lebih mahal.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Hal tersebut sering kali hanya membawa keuntungan besar bagi pengecer dan merugikan warga desa. Kadang kala konflik antar desa terpicu karena pada saat satu desa sedang membutuhkan pupuk urea, pengecer menjual pupuk ini ke warga desa yang lain dengan harga lebih mahal.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="FONT-WEIGHT: bold; FONT-STYLE: italic"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="FONT-WEIGHT: bold; FONT-STYLE: italic"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="MsoIntenseEmphasis"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold; FONT-STYLE: italic"&gt;Entertainment Ala Desa&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Apabila di kota ada warnet, di mana kita bisa berkumpul dengan teman-teman untuk bermain multiplayer game, di desa adanya ini…&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ZVtDPHlXRNc/SV5EtamTEcI/AAAAAAAAHHo/pE-mbAKC3RA/s1600-h/6.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286738559604298178" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 239px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZVtDPHlXRNc/SV5EtamTEcI/AAAAAAAAHHo/pE-mbAKC3RA/s320/6.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ZVtDPHlXRNc/SV5EtL3YD9I/AAAAAAAAHHg/nppj1TLf02A/s1600-h/5.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286738555649396690" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZVtDPHlXRNc/SV5EtL3YD9I/AAAAAAAAHHg/nppj1TLf02A/s320/5.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;v:imagedata title="SSL25469" src="file:///C:\Users\HANDIC~1\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image011.jpg"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Inilah multiplayer game bagi bocah-bocah di desa. Sangat sederhana, kreatif dan unik. Dengan bermodal sepeda, tape player dan beberapa alat-alat lain, sepeda ini bisa diubah menjadi sebuah mobile theme park. Anak-anak yang sedang naik sepeda ini dibawa keliling desa sambil menikmati musik. Bocah-bocah di sekitarnya yang melihat mereka jadi kepingin naik juga. Hiburan seperti ini bagi anak-anak desa sudah sangat bergengsi.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Sekian dulu laporan saya. Pengalaman ini menyadarkan saya kalau saya ini telah diberikan sumber daya yang berkelimpahan oleh Tuhan. Kita yang diberikan lebih oleh Tuhan sepantasnya bersyukur dan menghargainya. Terutama bagi orang-orang yang mampu bersekolah di luar negeri, kita sepantasnya menoleh ke belakang dan memikirkan nasib bangsa kita. Kalau teman-teman mau tau lebih banyak lagi mungkin kita bisa ngobrol-ngobrol sama Fadil langsung waktu di Austin. Last but not least, Selamat Tahun Baru 2009 buat anak-anak Austin dan juga yang di Indo.&lt;v:imagedata title="SSL25446" src="file:///C:\Users\HANDIC~1\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image013.jpg"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;-Amri Tjahjadi-&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/v:imagedata&gt;&lt;/v:imagedata&gt;&lt;/v:imagedata&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-6837910090515750120?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/6837910090515750120/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=6837910090515750120' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/6837910090515750120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/6837910090515750120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2009/01/melihat-indonesia-yang-sebenarnya.html' title='Melihat Indonesia Yang Sebenarnya'/><author><name>Handi Chandra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17640133500684202790</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ZVtDPHlXRNc/SV5EBRUkjxI/AAAAAAAAHHQ/7dG1nzG_gG0/s72-c/1.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-3265430696565339713</id><published>2008-12-05T17:01:00.000-08:00</published><updated>2008-12-05T22:32:34.615-08:00</updated><title type='text'>B3 = Belajar Bareng-Bareng Yuks!!</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt; Yak! Kali ini post-nya mau mempromosikan B3. Apaan itu B3? Bukan... bukan sejenis vitamin seperti B1 atau B2. Bukan juga tiruannya film Indonesia "BBB (Bukan Bintang Biasa)".. By the way, itu filem kurang bagus... Bertaburan bintang-bintang muda, tapi ceritanya biasa aja dan aktingnya juga biasa aja. Terus, ada si Laudia Cynthia Bella yang main, yang personally gw rada ga suka.. hehe.. OK OK balik ke topik.. Jadi, B3 itu dibacanya "B Cube" dan singkatan dari "Belajar Bareng-Bareng"!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: left" align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: left" align="center"&gt;Jadi, B3 ini adalah semacam kumpulan tutor-tutor anak Indo, yang menyediakan waktunya sekali seminggu buat bantu anak2 Indo lainnya di bidang pelajaran atau apa aja yang lebih bersifat akademik. Jadi kalau mau tips2 wawancara, atau tips2 buat graduate school, atau butuh dihibur waktu lagi stress nilai2 jelek, atau butuh cemilan untuk nemenin belajar, coba aja tanya ke tutor2 ini.. Tutor-tutornya cukup banyak dan mencakup hampir semua mata pelajaran kuliah yang dasar (freshmen/sophomore levels). Jadi yang butuh bantuan atau teman belajar, go ahead and check them out!&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: left" align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: left" align="center"&gt;Biasanya, B3 ngumpul hari Minggu sore jam 2-4 di ECJ lantai 1. Tapi, mungkin bisa berubah2 sesuai suasana dan kebutuhan. Untuk info, silahkan hubungi Rizky Djong.. (&lt;a href="mailto:rizky5@yahoo.com"&gt;rizky5@yahoo.com&lt;/a&gt;) atau lihat websitenya mereka.. &lt;a href="http://www.b-cube.org/"&gt;http://www.b-cube.org/&lt;/a&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: left" align="center"&gt;Di bawah ini ada foto2 ketika B-cube lagi in action..&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: left" align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276476406106937058" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/STnPVdu71uI/AAAAAAAACXM/zJn-13LDF04/s320/Picture%28169%29.jpg" border="0" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Rizky lagi bantu Sendra belajar sambil ketawa-ketawa.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/STnPVCPBH-I/AAAAAAAACXE/NXrB35yBYck/s1600-h/Picture%28153%29.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276476398725308386" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/STnPVCPBH-I/AAAAAAAACXE/NXrB35yBYck/s320/Picture%28153%29.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;/a&gt;Bella lagi bantu Dhanny belajar sambil maen komputer. &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt; &lt;/p&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276476228809495570" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/STnPLJP7lBI/AAAAAAAACW0/V0pLLC-agjA/s320/Picture%28152%29.jpg" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;Winny lagi bantu Geby belajar sambil ngemil.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/STnPLPVWNfI/AAAAAAAACWs/_yra4igGkPM/s1600-h/Picture%28144%29.jpg"&gt;&lt;/p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276476230442825202" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/STnPLPVWNfI/AAAAAAAACWs/_yra4igGkPM/s320/Picture%28144%29.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;/a&gt;Lisa, Audi, dan Vicky sedang serius bikin peer.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/STnPK5TshSI/AAAAAAAACWk/w3gm7v9q3Cw/s1600-h/Picture%28143%29.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276476224530318626" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/STnPK5TshSI/AAAAAAAACWk/w3gm7v9q3Cw/s320/Picture%28143%29.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;/a&gt;Mandy lagi bantu Lydia belajar fisika.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/STnPK1zbXxI/AAAAAAAACWc/AIzQgtKlwxU/s1600-h/Picture%28136%29.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/STnPKaxz5xI/AAAAAAAACWU/YhodtvFiib4/s1600-h/Picture%2853%29.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276476216335132434" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/STnPKaxz5xI/AAAAAAAACWU/YhodtvFiib4/s320/Picture%2853%29.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;/a&gt;Nico lagi bantu Tifanny belajar sambil pose buat difoto.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan yang terakhir....................&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276559162630815362" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SToamhzxPoI/AAAAAAAACXU/M_j1xZHMcDM/s320/sam+mandy.jpg" border="0" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Tutor Sam dan Tutor Mandy main-main Mac dikala beristirahat!&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Nah... OK kan? Dapet bantuan akademik GRATIS, dapet temen-temen belajar, dan dapet entertainment dari tutor2 at the same time. Bahkan kalo ada yang lagi bawa cemilan, bisa kebagian juga. Again, check out the website or contact Rizky if you're interested!&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-3265430696565339713?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/3265430696565339713/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=3265430696565339713' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/3265430696565339713'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/3265430696565339713'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/12/b3-belajar-bareng-bareng-yuks.html' title='B3 = Belajar Bareng-Bareng Yuks!!'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/STnPVdu71uI/AAAAAAAACXM/zJn-13LDF04/s72-c/Picture%28169%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-6769545540955412957</id><published>2008-11-11T20:29:00.000-08:00</published><updated>2008-11-11T20:33:27.031-08:00</updated><title type='text'>Bagaimana Menjadi Donor yang Strategis?</title><content type='html'>Oleh Tuti A. Najib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita memiliki uang Rp. 1000 atau Rp. 10.000 dan ingin&lt;br /&gt;memberikannya pada orang lain yang kurang beruntung, mungkin tanpa&lt;br /&gt;berpikir panjang, uang itu akan langsung berpindah tangan. Tapi,&lt;br /&gt;bagaimana jika uang tersebut Rp 10 atau 100 juta, mungkin kita akan&lt;br /&gt;berfikir dulu, ke mana uang tersebut akan diberikan, untuk siapa, dan&lt;br /&gt;mengapa harus memberikan uang sebesar itu? Tulisan ini mencoba melihat&lt;br /&gt;bagaimana menjadi donatur yang strategis ketika kita memiliki sejumlah&lt;br /&gt;dana untuk disumbangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyumbang untuk jumlah tertentu memang perlu strategi sehingga apa&lt;br /&gt;yang kita sumbangkan bermanfaat bagi penerimanya. Tragedi zakat di&lt;br /&gt;bulan Ramadhan tahun ini memperlihatkan satu gambaran di mana sang&lt;br /&gt;muzakki ingin memberikan uangnya kepada sebanyak mungkin orang kalau&lt;br /&gt;bisa ribuan orang. Sayangnya, keinginan untuk memberi kepada sebanyak&lt;br /&gt;mungkin orang tersebut berakhir tragis dengan meninggalnya 21 orang&lt;br /&gt;tak berdosa karena berdesak-desakan demi mendapat santuan Rp 30.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi seorang dermawan adalah mulia. Tapi bagaimana dermawan bisa&lt;br /&gt;memberi dampak sosial yang lebih besar kepada masyarakat penerima,&lt;br /&gt;bukan hanya membantu individu-individu untuk memenuhi keperluan sesaat&lt;br /&gt;seperti santunan makanan dan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Peter Frumkin, seorang profesor dan pakar filantropi dari&lt;br /&gt;University of Texas at Austin, empat hal yang perlu dipertimbangkan&lt;br /&gt;ketika seseorang berniat menyumbang. Pertama, terkait dengan&lt;br /&gt;pertanyaan apa yang hendak kita capai dengan memberi? dengan kata lain&lt;br /&gt;apa tujuan memberi. Apakah untuk memenuhi interest donatur atau&lt;br /&gt;interest penerima. Dua kepentingan ini bisa dikompromikan dengan apa&lt;br /&gt;yang disebut sebagai philanthropic value. Yaitu nilai-nilai yang&lt;br /&gt;berpijak pada kompromi antara kepentingan pemberi dan kepentingan&lt;br /&gt;masyarakat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, seorang donatur yang strategis juga hendaknya melihat bagaimana&lt;br /&gt;style dia sebagai pemberi. Apakah seorang pemberi cukup mengeluarkan&lt;br /&gt;uang atau menulis selembar cek dan mengirimkan kepada organisasi&lt;br /&gt;sosial tanpa tahu bagaimana organisasi tersebut mengelola dana.&lt;br /&gt;Ataukah kita seorang yang sangat peduli bagaimana dana filantropi&lt;br /&gt;dikelola. Keingintahuan dari pemberi bisa dikategorikan sebagai high&lt;br /&gt;involvement terhadap pengelolaan filantropi. Sedangkan&lt;br /&gt;ketidakingintahuan bisa dikatakan sebagai low involvement. Keinginan&lt;br /&gt;pemberi untuk tahu ke mana sumbangan diberikan dan bagaimana dikelola&lt;br /&gt;bisa bermakna positif karena akan berimplikasi pada keterlibatan untuk&lt;br /&gt;memikirkan bagaimana organisasi filantropi berkembang. Kita mungkin&lt;br /&gt;bisa menyumbangkan tenaga dan fikiran, bahkan membukakan relasi yang&lt;br /&gt;lebih luas kepada organisasi. Jadi, dengan terlibat membantu&lt;br /&gt;memikirkan perkembangan organisasi, kita tidak hanya memberi sumbangan&lt;br /&gt;materil, tapi juga moril.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, donatur perlu memikirkan kendaraan apa yang akan digunakan&lt;br /&gt;untuk mengalirkan bantuan. Apakah langsung memberi kepada penerima&lt;br /&gt;individu di sekitar rumah atau lingkungan pemberi, ataukah kita hendak&lt;br /&gt;menggunakan organisasi untuk menyalurkan sumbangan tersebut. Ada&lt;br /&gt;banyak pilihan buat para donatur untuk bisa memberi pengaruh yang&lt;br /&gt;lebih besar kepada masyarakat penerima jika mereka ingin menyumbang.&lt;br /&gt;Ada organisasi filantropi pemerintah seperti Badan Amil Zakat (BAZ),&lt;br /&gt;ada Lembaga Amil Zakat (LAZ) swasta seperti Dompet Dhuafa Republika,&lt;br /&gt;PKPU, dan LAZIS Muhammadiyah. Ada pula organisasi filantropi yang&lt;br /&gt;dikelola media seperti RCTI Peduli dan ANTV Peduli. Tak ketinggalan,&lt;br /&gt;organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah dan NU juga menerima&lt;br /&gt;sumbangan masyarakat luas. Saat ini, yang terbesar menerima sumbangan&lt;br /&gt;masyarakat Muslim adalah masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, donatur juga mempunyai pilihan untuk menyumbang&lt;br /&gt;organiasi-organisasi sosial yang bekerja untuk anak, orang lanjut&lt;br /&gt;usia, maupun para pencandu narkoba dan penderita aids. Mereka bisa&lt;br /&gt;mengalirkan bantuan kepada yayasan sosial seperti panti asuhan, panti&lt;br /&gt;rehabilitasi, dan panti jompo. Banyak para pecandu narkoba datang dari&lt;br /&gt;kalangan tidak mampu. Mereka tidak bisa mengakses panti rehabilitasi&lt;br /&gt;karena kesulitan dana. Juga, penderita aids bisa datang dari keluarga&lt;br /&gt;miskin yang mungkin tidak mampu membeli biaya pengobatan. Begitu juga,&lt;br /&gt;mungkin banyak para lansia yang datang dari keluarga tidak mampu dan&lt;br /&gt;tidak memiliki sanak keluarga yang bisa merawat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ketinggalan, yang perlu disumbang adalah lembaga pendidikan dan&lt;br /&gt;lembaga riset yang saat ini masih jauh dari apa yang kita harapkan.&lt;br /&gt;Bagaimana universitas di Indonesia bisa menjadi universitas&lt;br /&gt;internasional jika akses terhadap perkembangan dunia ilmiah dari luar&lt;br /&gt;negeri saja tidak bisa diperoleh dengan mudah. Pemerintah atau lembaga&lt;br /&gt;pendidikan kita belum mampu membiayai riset yang bertaraf&lt;br /&gt;internasional atau menyediakan fasilitas untuk melakukan riset yang&lt;br /&gt;berkualitas. Dan masih banyak lagi bidang-bidang yang masih memerlukan&lt;br /&gt;uluran tangan donatur seperti seni, budaya, dan olah raga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, donor perlu menimbang jenis dan lingkup kegiatan yang bisa&lt;br /&gt;dicapai oleh sumbangan. Ada beberapa pilihan yang bisa diambil.&lt;br /&gt;Action vs. ideas. Apakah pemberi akan menyumbangkan dana untuk&lt;br /&gt;kegiatan yang bersifat langsung (direct services) seperti pemberian&lt;br /&gt;santunan makanan, santunan uang, membiayai shelter untuk perempuan&lt;br /&gt;korban kekerasan, atau menyumbang panti rehabilitasi. Di sisi lain,&lt;br /&gt;donator juga bisa memilih kegiatan yang sifatnya lebih mengarah pada&lt;br /&gt;pencapaian ide seperti kegiatan advokasi, riset, dan pengembangan.&lt;br /&gt;Aktivitas advokasi semacam ini dibedakan dari direct services karena&lt;br /&gt;efek yang dihasilkan tidak bisa lihat langsung. Advokasi untuk&lt;br /&gt;perubahan kebijakan dan riset ilmiah, misalnya, bisa tercapai dalam&lt;br /&gt;beberapa tahun. Namun demikian, kegiatan yang bersifat jangka panjang&lt;br /&gt;ini  tetap perlu didukung karena dampaknya yang bisa jauh lebih besar&lt;br /&gt;dari kegiatan layanan social secara langsung. Hasil riset bisa&lt;br /&gt;mendukung arah para pembuat kebijakan dan praktisi dalam menyediakan&lt;br /&gt;layanan social yang efektif. Demikian juga, advokasi yang berbuah pada&lt;br /&gt;kebijakan publik yang pro-rakyat kecil bisa menguntungkan jauh lebih&lt;br /&gt;banyak orang daripada membantu individu-individu secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begin vs. Build. Pilihan krusial lain yang juga perlu menjadi&lt;br /&gt;perhatian donor ketika ingin menyumbang adalah apakah ia akan&lt;br /&gt;menyumbang organisasi atau kegiatan yang sudah eksis ataukah membuat&lt;br /&gt;organisasi atau kegiatan baru. Tentu saja, ada kelebihan dan&lt;br /&gt;kekurangan ketika donor menentukan membangun dari awal atau meneruskan&lt;br /&gt;kegiatan atau organisasi yang sudah ada. Membangun dari awal menjadi&lt;br /&gt;sarana dimana donor bisa menuangkan gagasan dan ide cemerlang dalam&lt;br /&gt;bentuk kegiatan real. Juga, mungkin bisa menggaet donator lain untuk&lt;br /&gt;bergabung. Di samping itu, membangun organisasi dari awal memiliki&lt;br /&gt;fleksibilitas dari sisi staf dan organisasi sesuai dengan yang&lt;br /&gt;diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, ada kekurangan ketika memulai kegiatan dari nol.&lt;br /&gt;Misalnya, bisa jadi kegiatan atau organisasi yang dibentuk adalah&lt;br /&gt;repetisi, artinya sudah banyak yang melakukan kegiatan serupa. Di&lt;br /&gt;sini, perlu kejelian donor untuk memerhatikan pentingnya konsolidasi&lt;br /&gt;antar lembaga filantropi dan organisasi yang sudah ada. Di samping&lt;br /&gt;itu, tentu saja, memulai organisasi dari awal akan lebih banyak&lt;br /&gt;menyita waktu, perhatian, dan dana yang lebih besar. Karenanya, donor&lt;br /&gt;perlu merasa yakin jika membuat kegiatan atau organisasi baru adalah&lt;br /&gt;pilihan yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Few vs. Many. Pertimbangan lain yang perlu menjadi perhatian donor&lt;br /&gt;adalah apakah  pemberi ingin memberikan dananya kepada sedikit&lt;br /&gt;organisasi tapi dalam jumlah besar atau kepada banyak organisasi kecil&lt;br /&gt;tapi dalam jumlah yang lebih sedikit. Memilih menyumbangkan dalam&lt;br /&gt;jumlah yang besar dan dikelola oleh sedikit organisasi kemungkinan&lt;br /&gt;bisa memberi dampak lebih besar karena mereka bisa membuat kegiatan&lt;br /&gt;yang besar. Namun, memberi kepada organisasi yang lebih kecil juga&lt;br /&gt;penting apalagi ketika donor masih mempelajari isu-isu sosial yang&lt;br /&gt;dianggap penting yang ingin ia sumbang.&lt;br /&gt;Juga menarik ketika pilihan donor dikontraskan antara memberi kepada&lt;br /&gt;sedikit individu atau kepada lebih banyak individu. Seorang dermawan&lt;br /&gt;yang mengundang ribuan orang untuk mendapat santunan meski dengan&lt;br /&gt;jumlah yang tidak banyak menarik untuk menjadi contoh. Sang dermawan&lt;br /&gt;ingin uangnya dinikmati sebanyak mungkin orang sehingga lebih&lt;br /&gt;memengtingkan jumlah penerima daripada kualitas sumbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Local vs. Global. Pilihan lain yang bisa menjadi pertimbangan antara&lt;br /&gt;memberi kepada organisasi local, nasional, atau internasional. Mereka&lt;br /&gt;yang menyumbang untuk organisasi lokal biasanya peduli dengan&lt;br /&gt;masyarakat dan lingkungan sekitar dimana mereka tinggal. Namun, donor&lt;br /&gt;juga mempunyai pilihan untuk memberi dampak yang lebih luas kepada&lt;br /&gt;masyarakat di luar lingkungannya. Mereka bisa menyumbang organisasi di&lt;br /&gt;tingkat nasional bahkan bisa membantu masyarakat luar negeri yang&lt;br /&gt;tinggal di negara berkembang lainnya. Untuk konteks Indonesia saat&lt;br /&gt;ini, tentu saja, masyarakat lokal dan masyarakat Indonesia pada&lt;br /&gt;umumnya masih lebih banyak membutuhkan sumbangan baik dari donor di&lt;br /&gt;dalam maupun di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu beberapa pertimbangan untuk mewujudkan sumbangan yang membawa&lt;br /&gt;perubahan pada masyarakat. Empat strategi menjadi donor di atas,&lt;br /&gt;tujuan memberi, cara memberi, tipe organisasi yang akan disumbang, dan&lt;br /&gt;jenis kegiatan serta ruang lingkup sumbangan, diharapkan bisa memberi&lt;br /&gt;arah untuk menjadi donor yang strategis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-6769545540955412957?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/6769545540955412957/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=6769545540955412957' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/6769545540955412957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/6769545540955412957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/11/bagaimana-menjadi-donor-yang-strategis.html' title='Bagaimana Menjadi Donor yang Strategis?'/><author><name>Setra Yappi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10046844846254499718</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-3127157974907063970</id><published>2008-10-22T10:23:00.000-07:00</published><updated>2008-10-22T10:31:20.404-07:00</updated><title type='text'>OBSESI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SP9hvwmHBQI/AAAAAAAACUo/nyiI6V_3yHA/s1600-h/OBSESI.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SP9hvwmHBQI/AAAAAAAACUo/nyiI6V_3yHA/s320/OBSESI.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5260030362918520066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hore!! Akhirnya jadi juga perwujudan dari Konvensi Pancasila Austin. Bagi yang belum kenal, konvensi pancasila ini adalah gabungan dari organisasi-organsasi Indonesia yang ada di Austin dan kita memakai Pancasila sebagai pemersatu. Acara pertamanya adalah sebuah pembicaraan serius santai tentang Pemilu Indonesia 2009 dengan pembicara Mas Fadil (itu loooh yang rajin nulis buat kopi susu ;)) dan Pak Alit dari Konjen Houston. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama acaranya juga lucu.. OBSESI.. Obrolan Sore Seputar Indonesia! (Kebayang artis2 centil pembaca acara gosip ga sih?) Yak, jadi, dateng ya! Ada Mas Fadil gitu loh! Ya ga Mas? hehehe...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-3127157974907063970?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/3127157974907063970/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=3127157974907063970' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/3127157974907063970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/3127157974907063970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/10/obsesi.html' title='OBSESI'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SP9hvwmHBQI/AAAAAAAACUo/nyiI6V_3yHA/s72-c/OBSESI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-1449665033302878949</id><published>2008-10-15T17:34:00.000-07:00</published><updated>2008-11-09T17:04:39.528-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blogactionday2008'/><title type='text'>Sang Pemburu Nasib</title><content type='html'>&lt;a href="http://blogactionday.org"&gt;&lt;img border="0" src="http://blogactionday.org/img/56a950d177233f7059f297ec0e6123a24ac96813.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasibku, seorang anak datang ke dunia. Suci layaknya anak singa membuka mata memandang hutan rimba. Kumelihat dunia tawarkan keasingan, dalam kemiskinan. Kedua tanganku dibakar amarah dan ego. Tangan kanan bermain dadu, perlihatkan kebusukan lelaki. Tangan kiri menggores kulit sendiri dengan pisau. Hormat dimatikan dengan dendam; surga tak nampak lagi di kaki siapapun. Jari-jariku mati rasa, karena pergulatan satu sama lain. Keluargaku miskin. Oh nasibku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasibku kudorong, hendaknya bergeser. Lemah bahuku membuka pintu keluar. Kumelihat dunia di mana kebebasan kucari, dalam kemiskinan. Mataku terpaku ke depan. Yang kuburu menjual kepuasan emas. Sendiri kumemicingkan mata ke sasaran, walau jauh dan tak pasti. Kubawa bekal ilmu dan ideologi ke mana-mana. Mulutku dibungkam sekitarku, mereka yang menampilkan emas di kulit tubuhnya. Kubenci mereka yang menolak melihatku karena ketelanjanganku. Cih … biar kubelajar berenang ke seberang; walau perahu tak mau mengangkut pemuda miskin. Aku bekerja. Ah aku miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasibku kutendang kesana kemari, kumainkan. Genggaman jari-jariku merusak kunci di depan, mendobrak. Kubawa masuk hanya diriku, dalam kemiskinan. Kucoba air kotor di lautan kering. Sasaran terlihat semakin dekat. Batu-batu kulompati dengan mudah; sang Pencipta tunjukkan jalan. Tusukan-tusukan dari samping tak mampu menggenggam pergelangan kakiku. Aku berlari. Memang aku miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasibku tak ada lagi. Aku telah dipimpin cahaya. Kupikir, nasib mati dalam kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya menaruh tanggannya di pundakku senantiasa. Hangatnya ingatkanku akan perjuangan dalam kemiskinan. Terangnya lingkupi mereka yang tak terlihat telanjang mata. Kuatnya memberi tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib, aku masih miskin. Belum tuntas perang ini. Tapi aku tak miskin moral. Aku tak miskin pendirian. Aku tak miskin arah. Maka enyahlah! Jangan gangguku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://blogactionday.org/js/56a950d177233f7059f297ec0e6123a24ac96813"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-1449665033302878949?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/1449665033302878949/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=1449665033302878949' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/1449665033302878949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/1449665033302878949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/10/sang-pemburu-nasib.html' title='Sang Pemburu Nasib'/><author><name>Setra Yappi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10046844846254499718</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-5192526966970802786</id><published>2008-10-15T09:17:00.000-07:00</published><updated>2008-10-15T09:48:59.069-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blogactionday2008'/><title type='text'>Soliloquy (Blog Action Day 2008: Poverty)</title><content type='html'>&lt;a href="http://blogactionday.org"&gt;&lt;img border="0" src="http://blogactionday.org/img/56a950d177233f7059f297ec0e6123a24ac96813.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Fadillah Putra&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tepat seminggu lalu aku berjalan menyusuri &lt;i style=""&gt;town lake&lt;/i&gt; dengan niat jahat memamerkan dan menyombongkan keindahan Austin pada kawan-kawan dari New Orleans. Sore itu, setelah berjalan beberapa depa, kulihat ada selimut tergelar di semak belukar, sebuah &lt;i style=""&gt;back pack&lt;/i&gt;, dan dua botol bir terserak. Tak ada orang di “rumah” itu, tapi setelahnya, ketimbang memanjakan mata dengan melihat tanaman, air dan manusia-manusia indah, aku malah jadi tertarik untuk mengobservasikan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mataku pada sudut-sudut gelap, kusam dan hina.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hingga kulihat di sebuah meja taman seorang lelaki dengan bau bir bercampur keringat yang sangat menyengat, tertidur pulas. Kepalanya di taruh di atas tangnnya yang bersideku di atas meja, persis seperti aku tidur di kelas waktu SMA di mata pelajaran terakhir. Aku berpikir: apa yang akan dia lakukan ketika terjaga nanti? Apa yang akan di pikirkan pertama kali waktu terbangun? (kalau aku sih tiap bangun pagi langsung mikir makan) Siapakah orang-orang yang ada di dalam mimpinya? Apakah dia cukup punya imajiniasi untuk bermimpi? Kemana dia hendak pergi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Wajahnya tak terlihat, hanya baunya saja melekat erat di lubang hidungku, sampai kehadirannya begitu jelas aku rasakan. Begitu dekat dan nyata. Gambar, warna dan suasana siang itu di sebuah rumah tua di Wonokromo Kota Surabaya, mendadak sontak muncul di hadapanku saat melihat lelaki berbau bir di kursi taman itu. Kejadian sekitar delapan tahun lalu, saat baru saja kuselesaikan thesis S2 ku di Unibraw. Bersama beberapa kawan aktivis jalanan lainnya siang itu, seperti juga siang-siang lainnya, kami bangun jam 11 siang, bukan hari sabtu maupun minggu, sebab “hari” tidaklah berarti bagi kami para pengangguran yang menyaru jadi aktifis. Seperti biasa, perut yang dangdutan (karena keroncong udah punah) yang menonjok2 mata dari dalam untuk segera terjaga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tapi untuk apa terjaga? Makan. Makan apa? Tak ada uang seperserpun di saku. Setelah menggeledah seluruh isi rumah akhirnya terkupullah uang seribu dua ratus perak, untuk makan berlima, cukuplah! Apa lacur, minyak tanah mengering sebelum nasi matang, padahal cabai, tomat dan terasi belumlah di goreng. Maka terpaksa kita kumpulkan dahan kering dan membakar cabai, tomat dan terasi. Jadilah kami makan siang itu dengan menu: nasi setengah matang dan sambal terasi bakar. Enak? Tentu saja tidak! lalu sebatang rokok cap Djaja kami hisap bergantian sambil bersenda gurau menertawakan diri sendiri. Kejadian terus berulang hingga waktu bosan melihatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ketika sore menjelang, selalu saja aku merasa sedih yang teramat sangat. Jatung seperti di remas-remas, sakit sekali. Melihat hari-hari yang kosong, hambar dan tak bermakna. Masa depan: gelap! Leher bagian belakang seperti di tarik, ngilu, melihat jam yang berputar dengan sangat lambat. Kulihat sekelilingku, mereka sama saja. Bagi kami, topik tentang “masa depan” ada sesuatu yang wingit utuk dibicarakan. Bukan sedih, terkadang juga marah. Marah yang sangat hebat dan meledak-ledak! Hati penuh dengan kebencian dan dendam. Benci dengan diri sendiri, dendam pada orang-orang yang seenaknya saja buang duit seribu dua ratus perak yang bagi kami bisa dipakai makan berlima!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ada berapa banyak pemuda-pemuda seperti ini di Indonesia? Berapa banyak yang lebih menderita lagi? Mereka yang marah dengan diri sendiri, marah dengan keadaan. Benci, dan menganggap semuanya serba tidak adil. Ketika lapar dan nanar menghadapi hari esok, di depan matanya berseliweran anak-anak papi dan mami cekikikan keluar masuk cafe, membicarakan tentang merk barang-barang. Bukan orang lain, aku sendiri pernah merasa sangat benci dengan mereka. Ingin menarik rambut mereka dan membenamkan kepala mereka di kubangan berbau anyir di sebelah dapur tempat kami memasak setiap hari. Lalu, seorang kawan lalu berkata, “bung ini bukan salah orang-perorang ini salah sistem, kebencianmu pada orang-orang kaya itu salah alamat! Kita ini miskin ya salah kita sendiri, kita perlu kerja keras bung biar bisa kaya seperti mereka!” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Terharu juga aku mendenganr kata-kata dia. Bukan karena setuju, tapi kata-katanya mengingatkanku pada kisah cintaku waktu kuliah di semester satu, ketika kami sama-sama membaca buku Koentjaraningrat yang berjudul “Mentalitiet Bangsa Indonesia”. Seperti halnya orang-orang Fungsionalis pada umumnya, Koentjoroningrat percaya bahwa semua masalah yang dihadapi itu adalah sumbernya dari faktor-faktor internal. Orang miskin karena malas bekerja, orang bodoh karena malas belajar, orang terbelakang karena tidak punya motivasi, dll. Pokoknya semua itu salah mu sendirilah! Itulah inti dari pemikir-pemikir fungsionalis. Salah satu &lt;i style=""&gt;mBah&lt;/i&gt; nya kaum funsionalis ini adalah Walt W. Rostow penasihat ekonomi presiden Lyndon B. Johnson yang oleh sang presiden, pak Rostow ini di hadiahi sebuah kampus tempat dia menghabskan masa tuanya kampus itu bernama LBJ School of Public Affairs University of Texas at Austin. Beberapa bulan lalu aku menghadiri pemakaman istrinya, Elspeth Rostow, yang juga mantan dean di school tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Rostow ini adalah guru dari sebuah gank ternama di Indonesia yang bernama “Mafia Berkeley” karena di ketuai oleh Sumitro Djoyohadikusumo yang jebolan UC Berkeley yang juga mnejadi arsitek ekonomi Indonesia selama 32 tahun kekuasaan Suharto. Dua prinsip dasar teori “Growth” dari orang-oang fungsionalis adalah pertama, karena Indonesia miskin adalah faktor internal, maka Indonesia butuh “big push” utk bisa maju. Big push itu sumbernya adalah utang luar negeri dan investasi asing. Karena dengan adanya ‘big push’ ini maka jumlah dan perputaran kapital yang beredar di Indonesia banyak sehingga dapat menstimulasi bangkitnya bisnis-bisnis di berbagai sektor lainnya, &lt;i style=""&gt;trickle down effect&lt;/i&gt;. Prinsip kedua, oleh karenanya, adalah: mendorong tumbuhnya industri skala besar. Sebab dengan masukknya uang dari luar itu (baik berupa utang maupun investasi) maka dibutuhkan pengelolaan kapital yang cepat dan massif, sehingga proses yang dikatakan Ali Murtopo sebagai akselerasi pembangunan bisa berjalan dengan cepat. Lebih detail tentang step-step yang ada di Growth Theorynya Rostow dijabarkan dengan sangat persis dan (orang jawa bilang) &lt;i style=""&gt;plek jiplek&lt;/i&gt; di dalam Repelita pembangunan Indonesia. Rostow dan Sumitro percaya kalau teorinya diterapkan dengan sempurna maka dalam 25 tahun Indonesia pasti akan tinggal landas. Nyatanya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tidak hanya setelah kegagalan kolosal ang memalukan dari teori Rostow kritik terhadapnya mulai bermunculan. Ambil contoh sejak tahun 1960-an Kwane Nkrumah, pemimpin Ghana, sudah mengatakan bahwa kemiskinan negara-negara berkembang itu bukan dari dalam, tapi dari luar. Maka sejak itulah pak Nkrumah dikenal sebagi tokoh yang mengusung konsep “neo-kolonialisme”. Dia mengatakan bahwa kemerdekaan sebuan negara hanyalah sebatas kemerdekaan otoritas formal, tetapi penguasaan ekonomi tidak. Ekonomi negara miskin masih dikendalikan oleh negara-negara semacam Amerika Serikat dan Uni Eropa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pandangan seperti inilah lawan dari Fungsioalisme yang di sebut Strukturalisme. Di US ada tokoh besar strukturalisme ang bernama Noam Chomsky, di Jerman ada Madzhad Frankfurt (spt Adorno, Horkheimer dan yang paling top Jurgen Habermas) di Amerika Latin ada Andre Gunder Frank dan mantan preiden Brazil Fernando Henrique Cardoso. Ini nunjukin bahwa strkturalisme itu juga gak sepi pengikut. Sehingga kemudian kita mengenal istilah “Kemiskinan Struktural”yang artinya kemiskinan itu bukan salah si miskin yang ‘dicap’ malas, mereka miskin karena di miskinkan oleh struktur!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Cardoso njelasin bagaimana kemiskinan strukturalitu bekerja dengan konsepnya “Dependent Capitalism Development” (DCD) yang intinya kapitalis internasional berkolaborasi dengan kapitalis-kapitalis/borjuis-borjuis lokal untuk melakukan perdagangan. Kapitalis internasional membutuhkan para borjuis lokal karena mereka perlu operator untuk menjalankan bisnisnya di negara-negara berkembang. Kapitals internasional tidak bisa mempercayakan uangnya pada negara, karena mereka menganggapnegara terlalu rentan, ketika terjadi revolusi, pemimpin baru belum tentu sepaham dengan mereka. Tetapi para borjuis lokal ini lebih permanen, dengan menjauhkan mereka dari politik, membuat pergantian aktor di dalam sistem borjuasi lokal lebih stabil daripada pergantian aktor di level negara. Sehingga Cardoso mengatakan bahwa dampak dari DCD itu adalah fragmentasi kelas di negara berkembang (termasuk Indonesia) yang makin senjang, serta kemiskinan kelas “non-borjuis” yang semakin parah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pintu lain untuk menciptakan kemiskinan dari struktur adalah dengan kebijakan publik yang dibuat negara. Disparitas antar wilayah contohnya, Jawa (Jakarta) yang begitu advanced infrastrukturnya (pendidikan misalnya) di bandingkan Papua atau NTT yang begitu tertinggal, bagaimana mungkin tingkat kecerdasan rata-rata anak-anak Papua bisa sebanding dengan Jakarta? Kalau Robert Chambers pernah bilang tentang “Deprivation Trap”, maka pendidikan sebenarnya adalah sisi yang bisa memotong mata rantai kemiskinan itu. Anak tukang becak harus amat sangat luar biasa pintar sekali untuk bisa sekolah ke US, sementara anak pengusaha cukup ‘lumayan’ saja untuk bisa sekolah ke US. Sehingga mobilisasi sosial kita sangatlah rendah, orang kaya di Indonesia ya hanya dari keluarga dan marga ini dan itu saja. Selebihnya hanyalah eksepsi dan pengembira.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Banyak banget penjelasan tentang kemiskinan dan problem struktur ini, belum lagi kalau lihat penjelasan tentang SAP (structural adjustment program) dari lembaga-lembaga donor ke Indonesia. Yang intinya kemiskinan tidak bisa dilakukan dengan melakukan hal-hal yang sifatnya charity dan karitatif. Bagi-bagi sembako, kasih beasiswa, apalagi bagi-bagi baju bekas. Kemiskinan harus diperbaiki melalui pembenahan struktur. Di berbagai aspek dan level! Yang punya toko ya harus mulai sadar bahwa gaji penjaga tokonya dibandingin keuntungan dia harus seimbang. Yang punya pabrik ya mikirin akses buruh ke kebijakan perusahaan. Yang punya bank ya buatlah kemudahan kredit untuk orang miskin. Yang punya sekolah ya beri kuota berimbang antara yang berduit dan yang nggak. Yang ‘punya’ negara ya alokasikan 80% dana negara untuk warga miskin. ...dll dsb.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Lha saya kan masih kuliah, apakah harus nunggu lulus dulu baru bisa melakukan itu semua? Hmmm... yah.. setidaknya mulailah membuka mata lebih lebar untuk ngeliat di sudut-sudut gelap, bau dan hina untuk bisa mengenal lebih dekat apa dan bagaimana sih yang namanya: Miskin. Nggak enak...!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 27pt;" align="right"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;Thanks buat mbak moderator yang udah “mengintruksikan” menulis tentang poverty...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;script src="http://blogactionday.org/js/56a950d177233f7059f297ec0e6123a24ac96813"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-5192526966970802786?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/5192526966970802786/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=5192526966970802786' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/5192526966970802786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/5192526966970802786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/10/soliloquy-blog-action-day-2008-poverty.html' title='Soliloquy (Blog Action Day 2008: Poverty)'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-7560432193981685955</id><published>2008-10-13T20:28:00.000-07:00</published><updated>2008-10-16T12:09:41.683-07:00</updated><title type='text'>Trip to the Roundup, Fredericksburg</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ZVtDPHlXRNc/SPQSqFWS1LI/AAAAAAAAFCU/o0xfkrAM4zw/s1600-h/theroundup.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZVtDPHlXRNc/SPQSqFWS1LI/AAAAAAAAFCU/o0xfkrAM4zw/s200/theroundup.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5256847179247703218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sabtu, 27 September 2008 lalu di Fredericksburg, TX ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fair&lt;/span&gt; tahunan untuk mempromosikan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;renewable&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;energy&lt;/span&gt;,  ramah lingkungan kalo indo nya. Walaupun kebanyakkan dari pengunjungnya itu sudah serius dengan tawaran harga atau membangun kerjasama perusahaan, ya, saya bersama dua teman datang hanya bermodal keingintahuan. Lucu juga, sepanjang rute setapak itu kami hanya bisa ber-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;wah&lt;/span&gt; noraq melihat uniknya alat2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak banget alat yang sempat kami lihat disitu, mulai dari&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://lh3.ggpht.com/vididisini/SPGBO7VajJI/AAAAAAAACUY/iVK13a5trwo/s400/DSC02152.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 143px; height: 191px;" src="http://lh3.ggpht.com/vididisini/SPGBO7VajJI/AAAAAAAACUY/iVK13a5trwo/s400/DSC02152.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; gentong gede tanah liat untuk nampung air hujan sampai versi mininya mesin proses biofuel. Untuk sekedar info, biofuel siap pakai sekarang udah bisa di pesan online dan di ship pakai usps loh. Salah satu alat yang menarik disitu, engga jauh dari pintu masuk fair, buat kami sempet berdiri lama di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stand&lt;/span&gt; nya.  Stand itu melayani pemasangan toilet tanpa air, tanpa listrik, dan tanpa bahan kimia apapun. Menarik bukan? Kita sempet heran ketika dijelaskan cara kerjanya. Pertama, toilet itu bisa memisahkan kotoran cairan dan yang padat. Sementara yang cair ditampung didasar toilet, yang padat ditampung di tray diatasnya. Dengan mengandalkan siklus udara panas dan bakteri penghancur, akhirnya semua kotoran itu bakal mengering dengan sendirinya tanpa bekas, apalagi bau. Gitu deh singkatnya. Bagi diantara teman2 ada yang berminat memesan, silakan &lt;a href="http://swsloo.com/"&gt;kontak langsung&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://lh3.ggpht.com/vididisini/SPGBRWZMFFI/AAAAAAAACFs/tBCzUuZdjaw/s640/DSC02153.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://lh3.ggpht.com/vididisini/SPGBRWZMFFI/AAAAAAAACFs/tBCzUuZdjaw/s640/DSC02153.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Disitu juga ada satu alat yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;imoet&lt;/span&gt;, pompa fountain tenaga angin. Hampir kita pesan satu, tapi menengok harga nya, ga jadi deh. Ya maklum, teknologi ramah lingkungan masih tergolong mahal.  Yang kecil aja masih ga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;suan, &lt;/span&gt;apalagi, kalo untuk teknologi nya sampai bisa menghasilkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;power&lt;/span&gt; dengan kekuatan yang sama dengan sumber energi yang udah ada (contoh: minyak, gas, batubara). "Walaupun keuntungannya engga kita rasakan dalam waktu dekat, ini demi kebaikkan anak cucu kita juga" begitu salah satu argumen kelompok aktifis lingkungan hidup yang hadir disana. Yep, dari para kelompok aktifis itu kami juga peroleh informasi yang lom pernah kami dengar, seperti detailnya keuntungan dan kerugian pembangkit listrik tenaga nuklir. PLTN yang kabar nya bisa merubah semua senyawa radioaktif menjadi energi dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;zero waste&lt;/span&gt;, ternyata itu buat-buatan saja. Mereka juga jelaskan tentang ancaman rencana menambah 2 unit reaktor nuklir di Texas ini. Proyek dua reaktor yang diharapkan bisa menghasilkan total 2600 MW akan dimulai di awal tahun 2010. Mereka juga menyerukan kalo untuk konteks Texas dengan potensinya yang unik dengan dataran nya yang luas, sumber daya pertanian, dan teriknya matahari, ada beberapa energi alternatif yang bisa dipertimbangkan. Tenaga angin, matahari, dan biomass termasuk dalam pilihan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pintu keluar fair sudah keliatan, sebelum kami melihat2 freebies posters, tas belanja, dll, kami di berikan lembaran checklist berisi tips2 untuk berhemat energi. Begini beberapa isinya:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pakai alat2 rumah tangga yang ada logo &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Energy Star&lt;/span&gt; nya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Selalu ganti AC filters kalo udah kotor.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Matikan lampu dan alat2 eletronik lainnya ketika selesai pakai.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mandi shower dan bukan berendam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pertimbangkan untuk pakai laptop dan bukan desktop.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Set ke sleep mode ketika komputer tidak dipakai.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pertimbangkan untuk ganti ke lampu hemat energi (neon).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pisahkan sampah botol plastik, plastik, kertas dan yang biasa.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Sekian laporan saya dan terima kasih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-7560432193981685955?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/7560432193981685955/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=7560432193981685955' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/7560432193981685955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/7560432193981685955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/10/trip-to-roundup-fredericksburg.html' title='Trip to the Roundup, Fredericksburg'/><author><name>Handi Chandra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17640133500684202790</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ZVtDPHlXRNc/SPQSqFWS1LI/AAAAAAAAFCU/o0xfkrAM4zw/s72-c/theroundup.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-7852178542779793117</id><published>2008-09-24T16:48:00.000-07:00</published><updated>2008-09-24T16:50:27.183-07:00</updated><title type='text'>Karya Budaya</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menjelang petang, tepat dipertengahan sebuah minggu. Ketimbang meneruskan menyelesaikan reading assignments yang segunung itu, tiba-tiba seluruh tubuhku terdorong oleh sebuah kekuatan magis yang sangat kuat untuk menuliskan beberapa baris kata tentang film Indonesia. Tentu saja, setelah secangkir kopi susu tersanding manis di sudut meja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Seperti halnya beberapa kawan yang pernah kutanyai tentang film Indonesia hingga setahun yang lalu aku pun berpandangan sangat sinis dan penuh hardik. “Halah, film Indonesia apaan?! Paling-paling kalau nggak cinta-cintaan ya horor-horor nggak jelas..!!” Pikiran memandang-rendah terhadap film Indonesia ini telah menjadi semacam pola baku dalam otakku. Sejak dulu, sekarang dan sampai kapanpun kondisinya akan selalu seperti itu. Tidak akan berubah. Maka setiap melintasi gedung-gedung bioskop yang memutar film Indonesia selalu mataku tertumbuk pada kerumunan orang yang mengantri tiket atau menunggu pemutaran film-tersebut, dengan pikiran di benak “ah.. kasian amat orang-orang bego itu, nonton film nggak mutu”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Hingga semester kemarin ketika aku mengambil kelas di RTF Dept (Radio, TV and Film) aku bertemu dengan beberapa kawan sekelas dan ketika mereka mendapati ku dari Indonesia mereka langsung mngapresiasi tentang perkembangan film Indonesia. Pertama aku mengira itu hanya standar basa-basi klasik-nya a la Amerika. Sampai suatu ketika ketika break di sela sesi satu dan sesi dua perkuliahan salah satu diantara mereka (Kevin namanya) bercerita kepadaku tentang fluktuasi perkembangan film Indonesia. Dia dengan sangat fasih bercerita tentang mati surinya industri film di Indonesia padatah kurun 1980an sampai 1990an, sampai pada era kebangkita film indonesia di pertengahan 1900an hingga sekarang. Dan hasilnya sekarang kita bisa membuktikan sendiri dari 4 bioskop rata-rata 2-3 diantaranya memutar film Indonesia. Bahkan film-film itu sampai di ekspor ke negara tetanga seperti Malaysia dan Singapura.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Di sini aku akan gambarin lebih detail tenang perkembangan film Indonesia. (..karena gua orang Indonesia, masak kalah sama si Kevin.. hehehe). Pada periode “mati suri” itu seluruh bisnis perfilman Indonesia 100% di topang oleh film-film import baik dari US maupun China. Sementara film Indonesia pada kurun waktu itu hanya dipenuhi oleh film-film yang mengeksploitasi seksualitas. Masuk awal era 1990an baru bermunculan film-film idealis yang di promotori oleh Eros Djarot dan Garin Nugroho. Eros Jarot sukses besar dengan film “Tjut Nya’ Dien” (1988), aku inget betul waktu nonton film itu (kalau gak salah waktu itu kelas 1 SMA) getarannya terasa hingga beberapa hari, perasaanya persis ketika aku nonton film Artificial Intelegence nya Steven Spielberg. Semetara Garin, dengan sederhana, perlahan tapi pasti meluncurkan film-film idealisnya yang “sangat tidak laku di pasaran, seperti “Cinta dalam Sepotong Roti” (1991), “Bulan Tertusuk Ilalang” (1995) dan “Daun di Atas Bantal” (1998). Untuk film yang terakhir itu aku acungi 10 jempol! Cerita tentang kehidupan riil anak jalanan. Film yang membongkar habis artifisialisme moralitas kaum menengah ke atas yang kerjaannya hanya berlindung di balik sikap “escapism”. Dan hebatnya lagi aktor2nya asli anak jalanan, dan tak lupa my favorite actrees: Cristine Hakim!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tetapi sekali lagi masa itu belumlah memasuki masa “industrialisasi” film, masih dalam tahan “identifikasi”. Artinya, film Indonesia masih dalam tahap menunjukkan jati dirinya dan membuktikan bahwa “kami ada!”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Barulah pada tahun 2002 perfilman Indonesia di guncang oleh gegar “Ada Apa dengan Cinta”. Cerita yang disuguhkan dalam film itu biasa-biasa saja, dan menurutku Dian Sastro dan Nicholas Saputra juga nggak cakep-cakep amat dibandingkan sederet artis dan model yang Indonesia punya. Menurutku yang membuat film ini menjadi momentum adalah tingkat keseriusan penggarapan sebuah film. Manajemen dan perencanaan marketing yang rapi, tak lupa juga kemasan yang amat cantik dengan menggandeng hits maker, Melly Goeslaw di musikalitasnya. Rudi Sudjarwo (sutradara) yang betahun-tahun tinggal di California (berpindah-pindah mulai San Diego sanpai San Fransisco) juga berperan besar dalam peletakan film ini sebagai salah satu mark dalam sejarah Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tonggak sejarah perfilman Indonesia kembali tercipta tahun lalu melalui film “Ayat-Ayat Cinta”. Yang membuat film ini hebat, lagi-lagi bukan cerita nya yang berbobot, mengandung filsafat macem2, dll, tapi kemmapuannya meraup pasar yang luar biasa. Total penonton film ini hampir 5 juta orang! (belum termasuk yang nonton dari VCD bajakan ya...) 3,6 juta diantaranya dari pasar domestik, sementara sisanya dari Malaysia dan Singapura. Film ini tercatat sebagai rekor film yang paling banyak di tonton dalam sejarah perfilman Indonesia. (OOT; rekor novel paling laris dalam sejarah Indonesia sekarang di pegang “Laskar Pelangi”).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Nah, itu tadi adalah film-film yang menonjol dalah sejarah perfilman Indonesia. Sekarang aku pingin mengupas satu persatu dan melakukan sedikit kategorisasi film-film yang ada di Indonesia yang patut diapresiasi. Maaf kalau kategorisasinya agak ngawur, maklum bukan mahasiswa RTF... ;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Psikologi. “Claudia/Jasmine” film ini bercerita tentang bagaimana upaya seorang perempuan dalam berdamai dengan trauma di masa lalu, hampir sama dengan “Tentang Dia”. “3 Hari untuk Selamanya” merupakan deskripsi tentang proses pencarian jati diri dan definisi hidup bagi manusia di usia remaja. “Detik Terakhir” cerita tentang kehidupan ekstrem: lesbian plus pecandu narkoba, dan bagaimana ereka deal with masyarakat dan norma yang ‘mencampakkan’nya, pesan yang hampir sama tapi dengan kemasan yang sedikit berbeda (yang ini straight) juga tersaji dengan apik dalam film “Radit dan Jani”. Film “I love you Om” konon diangkat dari kisah nyata seorang anak perempuan SD yang jatuh cinta dengan lelaki usia 30 an (ck..ck..ck..!). terakhir dalam kategori ini yang paling huebat adalah “Ekskul” nggakperlu aku komentari,tonton aja sendiri, film yang benar2 mengguncang jiwa raga!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Humor. Akhir-akhir ini bermunculna film-film humor yang berbau sex (tetapi nggak eksploitatif, cukup diskursif) terutama film2 yang dibintangi Tora Sudiro, seperti “Quickie Express” atau “Namaku Dick”. Ada banyak judul-judul lain sih... lumayan lucu dan menghibur. Film-film humor dengan gaya joke yang ‘aneh’ dan ‘inovatif’ dapat di temui di “Kwaliteit 2”, “Maskot” dan “D’Girlz Begins”. Film yang lucu abis dan gaya joke yang “Indonesia banget ada di “Jomblo”, “Mendadak Dangdut”, “Maaf Saya Menghamili Istri Anda”dan “Get Married”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Horor/Thriller/Adventure. Aku nggak banyak nonton sih, tapi yang sepat membuat hatiku tergerak untuk menonton itu: “Jaelangkung”, dan “Kuntilanak” karena di sebut-sebut sebagai film horor yang penggarapannya cukup serius. Tapi satu film genre horor yang menurutku ciamik itu “Kala”. Untuk film thriller dan adventure yang cukup bagus itu ada “Tragedy” dan “Ekspedisi Madewa”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Cinta. Nah kategori ini nih yang paling sering dapet cemoohan. Padahal kalau menurutku sih “Apa Yang Salah Dengan Cinta”??!!. Seremeh temeh apapun padnangan kalian tentang film-film cinta, yang jelas setiap abis nonton film-film ini perasaanku menjadi betambah cinta pada istriku. Dan aku menjadi semakin benci bila melihat ada laki-laki atau perempuan yang menyia-nyiakan cinta mereka punya. Cinta itu indaaaahhh banget...! film-film ini juga yang membuat aku berpikir bahwa (karena aku cowok) bahwa semua perempuan harus mendapatkan tempat yang paling istimewa dihati pasangannya. Adapau film-film yang meneduhkan itu adalah: “Ruang”, “Love”, “Brownies”, “Heart”, “Mengejar Mas-mas”, “Butterfly” dan “Selamanya”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Anak/Keluarga. “Denias: Senandung di Atas Awan” aku kira udah pada banyak yang nonton ya... nah sebenarnya ada banyak film-film lainnya yang sama hebatnya dengan film itu, seperti “Petualangan Sherina”, “Ariel dan Raja dari Langit”, dan yang paling aku suka plus sangat kena’ banget itu film yang judulnya “Untuk Rena”, cerita tentang hubungan papa dengan anak perempuannya...daleeemm banget.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sosial-Politik/Gender. Nah, makin kesini makin serius nih genrenya, makanya salah itu kalau ada yang bilang film Indonesia isinya cuman “Cinta” dan “Horor” aja. Justru daftar film di genre ini cukup panjang. Yang paling hebat menurutku “Gie” kisah tentang aktifis angkatan ’66 bernama Soe Hok Gie, yang merupakan kakak kandung intelektual terbaik Indonesia saat ini Arif Budiman yang merupakan jebolan Cornell Univeristy dan sekarang jadi dosen tetap di Melbourne Univ. film-film tentang kehidupan masyarakat miskin dibuat dengan sangat apik dan ‘jujur’, seperti “Daun di Atas Bantal”, “Kun Fayakun”, “9 Naga”, “Mengejar Matahari”, “Rindu Kami Pada-Mu” dan “Wo Ai Ni”. Yang terakhir adalah cerita tentang kehidupan masyarakat miskin keturunan Cina di Singkawang. Film lain tentang warga keturunan ada juga di “Ca Bau Kan”. Secara khusus tentang tragedy 1998 ada di “Novel Tanpa huruf R”. Ada juga film tentang Amrozi dkk berjudul “Long Road to Heaven”. Film yang cukup fenomenal dala kategori ini adalah “Arisan!”. Hermawan Kertajaya, salah seorang pakar Marketing Indonesia sampai secara khusus mengudang penulisnya, Nia Dinata, untuk bicara di depan ratusan pengusaha Indonesia tentang kecerdasanya dan kejeliannya mngungkap budaya pop masyarakat (konsumen) Indonesia saat ini. ada dua fil bertema kesetaraan gender yang rapi sekali penggarapannya, yaitu “Berbagi Suami”, film senada dengan warna yang berbeda adalah “Sebening Hati Wanita”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Filsafat/Budaya. Nah lo, ternyata film Indonesia ada yang bertema filsafat juga! Coba aja lihat film seperti “Pasir Berbisik”, (sekali lagi) “Novel Tanpa Huruf R”, “Telegram”, “Betina” dan “Mereka Bilang Saya Monyet” film-film tersebut buat ku harus ku tontotn berkali-kali untuk mengerti maknanya dan meresapi pesannya. Ada yang sampai sekarang pun aku masih nggak ngerti apa maksudnya, mungin karena filmnya terlalu filosofis sampai-sampai IQ ku yang a la kadarnya ini gak nyampe mencernanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Nah... kalau Rudi Sudjarwo enam tahun di US pulang-pulang langsung buat sejarah besar di perfilman Indonesia (yang nggak copy-paste US pastinya!), lah... aku ntar pulang buat sejarah apaan ya...????&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;Fadil&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-7852178542779793117?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/7852178542779793117/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=7852178542779793117' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/7852178542779793117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/7852178542779793117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/09/karya-budaya.html' title='Karya Budaya'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-3181441795401388554</id><published>2008-09-20T22:43:00.000-07:00</published><updated>2008-09-20T23:01:28.446-07:00</updated><title type='text'>Hak Hidup Manusia</title><content type='html'>Banyak orang mungkin tidak mengerti arti hak hidup secara frase. Untuk itu, saya akan memberikan satu contoh. Seorang pengemis yang setiap hari perlu bekerja secara minta-minta hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mempunyai hak hidup yang sangat terbatas dibandingkan dengan pelajar-pelajar rata-rata yang berada di luar negeri. Apakah artinya itu? Apakah dengan status kita yang berada di luar negeri artinya kita mempunyai status ekonomi yang memadai? Itu bukanlah maksudnya. Hak hidup bukan menyanggung kepemilikan seseorang, kemampuan fisik seseorang, ataupun kepintaran seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak hidup yang lebih dikenal orang-orang di negara maju adalah hak untuk seorang bayi yang belum lahir untuk hidup. Pendirian ini bertentangan dengan aborsi karena menurut kaum-kaum penyandang hak kehidupan, manusia yang berada di dalam kandungan ibu termasuk sebagai bayi. Tapi dalam kasus Indonesia, masalah hak hidup telah kembali ke awal lagi, dimana hak hidup seseorang ditindas oleh karena orang lain maupun elit politik yang tidak mengasihani kondisi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basis hak hidup yang bisa diterapkan di Indonesia adalah kebolehan seseorang untuk menyandang kehidupan yang sesuai dengan dirinya sendiri dan bisa membangun karakter-karakter yang unik pada seseorang. Dengan basis itu, kita bisa mengakatan bahwa keperluan seorang pengemis, yaitu untuk mendapat makanan, tidak membolehkan dia hidup dengan menggunakan kelebihan-kelebihan yang dikuasainya. Mungkin saja pengemis itu mempunyai bakat memancing, tetapi karena dia berada di Jakarta, yang sungai-sungainya penuh dengan limbah, pengemis itu tidak bisa memakai bakat memancing itu dalam mencari nafkah.&lt;br /&gt;Begitu juga orang-orang yang lahir dengan cacat. Banyak sekali kasus-kasus dimana orang-orang cacat didiskriminasi dengan berbagai cara. Salah satu contoh adalah tidak diberikan kerjaan. Mereka dipaksa keluar ke jalan dengan upaya untuk hidup sehari demi sehari. Mereka mungkin seorang yang pintar dan cekatan, tetapi lowongan kerja bagi mereka sudah ditutup dari awal ketika para majikan mengetahui bahwa mereka orang cacat. Hukum-hukum yang didirikan pemerintah pun tidak membantu karena tidak ada yang mengamati apakah hukum-hukum tersebut dipatuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan banyak dari orang-orang minoritas di Indonesia mengalami diskriminasi pada jaman orde baru yang beberapa diteruskan hingga masa kini. Orang-orang Indonesia yang bukan asal kelahiran dari jawa maupun pribumi tidak diperbolehkan untuk masuk kedalam pemerintahan atau militer. Meskipun kepala-kepala daerah atau gubernur-gubernur propinsi di luar jawa dipegang oleh orang-orang di daerah masing-masing, pusat kekuatan tetap berasal dari Jakarta, yang dipegang di bawah kaum-kaum elit. Walaupun kasus seperti ini tidak menunjukkan urgensi dibanding kasus yang diatas, ini adalah satu contoh yang tidak memberikan kita ruang untuk menjelajahi bakat-bakat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena apakah kita perlu memajukan hak hidup orang-orang tersebut? Dalam kehidupan yang telah banyak dimasuki ide-ide darwinisme, manusia yang kuat layaknya naik ke posisi-posisi atas dibanding manusia yang lemah. Alasan sederhananya adalah “survival of the fittest.” Jadi, orang-orang yang tidak mampu menaiki standar hidupnya akan tertinggal di bawah tangga evolusi sosial masyarakat. Sebaliknya, mereka yang telah naik ke puncak tangga tersebut akan merasa bahwa dirinya sudah diluar dari hukum karena mereka mengontrol sekian banyak kuasa. Jadi sudah sepatutnya kita, yang rata-rata bukan dalam kalangan kelas-kelas elit, meninggalkan mereka yang tertindas karena dalam definisi tersebut kita jugalah orang-orang yang tertindas. Untuk apa membantu orang-orang lain jikalau kita sendiri belom bisa membantu diri kita sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang Indonesia, kita mempunyai kewajiban untuk membantu Negara kita sendiri. Kita dapat menganggap bahwa kita adalah orang-orang yang lebih maju daripada banyak dari orang-orang yang di Indonesia. Kemajuan ini adalah salah satu basis dari jawaban mengapa kita perlu membantu kaum-kaum yang tertindas ini. Pada jaman dahulu dunia kuno mengakui adanya perbudakan. Budak-budak dapat dijual-belikan seperti layaknya makanan di pasar. Tetapi di Abad Pencerahan (Age of Enlightenment), dunia barat mengakhiri perbudakan secara total. Meskipun begitu, tetap ada beberapa negara yang masih mempraktekkan perbudakan, hanya untuk dihapuskan beberapa dekade kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan jikalau orang-orang yang mempunyai kesempatan untuk mengakhiri perbudakan tidak berbuat apa-apa. Sampai sekarang mungkin saja tetap ada perbudakan yang sangat luas. Tetapi itu tidak terjadi, karena mereka menyadari bahwa mereka yang berpikir lebih maju harus mendorong orang-orang di sekitarnya supaya ikut maju bersama mereka. Banyak manusia lebih menyukai kondisi “status quo” karena sangat gampang bagi seseorang untuk tidak melakukan apa-apa yang menyusahkan dirinya dan menerima suatu keadaan sebagai kenyataan yang tidak bisa dipungkiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaannya dengan masa kini adalah ketidakberadaannya hukum-hukum yang melindungi hak seseorang manusia secara umum. Hukum bahkan didirikan bukan untuk melindungi rakyat, tetapi untuk mematahkan semangat rakyat untuk melawan kepemerintahan yang pada jaman itu merupakan feodalisme atau monarki. Oleh karena itu bukanlah soal mudah untuk para pionir tersebut untuk mencoba mendirikan hukum-hukum yang melindungi rakyat-rakyat tanpa mengurangi kuasa absolut yang dimiliki para penguasa. Kadang dengan susah payah, mereka harus menerima hukuman berat karena disangsi sebagai penghianat. Tetapi, akhirnya mereka berhasil melewati berbagai rintangan untuk mendirikan hukum-hukum yang melindungi rakyat.&lt;br /&gt;Kita sebagai penghuni masa kini telah diberikan segala hak untuk menegakkan hukum yang telah diciptakan. Dan kita telah diberikan pengetahuan yang lebih dari cukup untuk menguraikan mana tindakan yang benar dan mana yang salah. Jadi tidak ada alasan mengapa kita tidak melakukan itu sebagai hal yang benar. Tetapi, sesuai dengan sifat manusia, kita malas untuk menerjunkan diri ke dalam hal-hal yang dinilai tidak berguna bagi kita. Alasannya banyak. Tidak semua salah. Hanya alasan itu dipakai bukan karena tidak dapat melakukan hal-hal tersebut, tetapi untuk tidak melakukannya. Dengan basis yang sudah diberikan di paragraf ketiga, kita tidak bisa menutup satu mata terhadap kejadian seperti ini. Satu alasan adalah kasus-kasus ini akan terus berjalan sepanjang tidak ada orang yang mencoba menghentikannya. Jikalau semua orang yahudi di Jerman dan Polandia pada masa Kerajaan Ketiga (Third Reich) sudah dibasmi, maka kemungkinan ada orang-orang suku lain atau beragama lain yang ditarget oleh pasukan-pasukan Gestapo. Oleh karena itu, kita perlu menghentikan kejadian seperti ini sebelum mereka tidak terkontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalau kita merasa tertindas oleh orang-orang lain, itu karena kita sendiri sudah mengerti apa arti hak hidup manusia. Secara umum, banyak dari masyarakat yang masih tidak mengerti mengapa mereka hidup seperti ini meskipun mereka tidak bertanya tentang situasi mereka. Lama-lama, mereka akan hidup dengan menerima semua ini karena mereka anggap ini adalah suatu kenyataan yang tidak akan berubah bagi mereka. Sedikit demi sedikit, mereka kehilangan harapan. Jikalau hal ini terjadi, keberadaan mereka sebagai manusia sudah tidak berarti. Harapan adalah satu-satunya perbedaan antara manusia dan binatang. Harapan hanyalah satu-satunya hal yang membuat orang-orang yang tertindas dan berada dalam keadaan susah untuk menjalani hidupnya; dengan harapan bahwa hari esok akan membawa kondisi yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dapat membawa harapan kepada masyarakat di sekitar dan juga diri kita sendiri dengan cara menjelaskan kepada orang-orang tentang pentingnya menegakkan hak hidup manusia yang telah diporak-porandakan oleh elit-elit politik. Memang tidak akan mudah, karena para elit politik akan mecoba untuk membatas aksi-aksi seperti ini demi melindungi kuasa mereka. Akan tetapi, siapa lagi yang dapat melindungi hak-hak rakyat Indonesia? Negara-negara asing hanya bisa memberikan tekanan kepada pemerintah, layaknya mereka terhadap Iran, atau Korea Utara, tanpa menyerang dan memaksakan ideologi mereka terhadap negara-negara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah tanggung jawab kita sebagai orang Indonesia untuk melaksanakan tugas yang penting ini. Jikalau kita menyatakan bahwa kita adalah orang Indonesia, kita telah diberikan kesempatan untuk membawa Negara kita tercinta ini ke dalam mata dunia. Kita dapat membuktikan bahwa Negara Indonesia bukanlah negara yang miskin atau lemah dalam pendidikan, tetapi negara yang peduli atas rakyatnya dan mengembangkan potensial masyarakat untuk memajukan negara kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeffrey Tanudji&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-3181441795401388554?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/3181441795401388554/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=3181441795401388554' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/3181441795401388554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/3181441795401388554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/09/hak-hidup-manusia.html' title='Hak Hidup Manusia'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-3174672982882234945</id><published>2008-09-17T09:32:00.000-07:00</published><updated>2008-09-17T19:26:46.676-07:00</updated><title type='text'>FAQ: Studi di Austin</title><content type='html'>Ini menjawab e-mail yang masuk untuk KopiSusu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Untuk kuliah ambil bachelor degree di UT Austin berapa lama normal kuliahnya ?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Vidia:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Biasanya untuk jangka waktu yang normal (tidak ngaret dan tidak juga jenius) dibutuhkan 4 tahun. Jangka waktu 4 tahun ini juga yang kebanyakan diprediksi oleh departmen-departmen di UT karena mereka memberikan "suggested course to take for every semester" dan menyusunnya untuk dapat diselesaikan dalam 4 tahun. Nah, itu kalau kita langsung masuk ke UT dan normal-normal saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau masuk ke UT dan mau menghemat waktu, kita bisa mengambil yang namanya Advanced Placement untuk beberapa pelajaran. Biasanya ini untuk pelajaran2 dasar. Kalau kita lulus Advanced Placementnya dengan nilai OK, kita bisa dibebaskan dari mengambil pelajaran dasar tersebut. Jadi mungkin bisa menghemat sekitar 1 semester.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak mau masuk UT dulu, anak2 seringnya masuk ke community college (Austin Community College atau bisa di CC mana pun). Di sana, normalnya kita akan belajar untuk 3 sampai 4 semester, karena untuk transfer ke UT Austin, si pelajar membutuhkan setidaknya 30 credit. Setelah transfer, untuk lulus kira2 akan memakan waktu 2 tahun lagi, jadi kalau ditotal jumlahnya tetap sekitar 4 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Berapa uang kuliah per thn ?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Lisa:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Biaya kuliahnya tergantung jurusan, tapi buat international students itu sekitar $14-15ribu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Berapa biaya hidup per bulan (utk sewa asrama, makan, beli buku, refreshing dgn gaya hidup yg sedang/sederhana)?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Lisa:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Tempat tinggal: Kalo tinggal di dorm UT kalo ngga salah per taun (2 semester panjang) sekitar $7000. Sedangkan kalo pilih tinggal off-campus, biaya apartment itu antara $600-1200, tergantung jumlah kamar/kamar mandi dan lokasi apartmentnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku: Minimal $200, bisa bervariasi tergantung beli dimana. Biasanya beli online di website2 seperti Amazon.com atau Half.com bisa jauh lebi murah, atau juga bisa beli di website seperti www.TEXbooks.com. Di website itu kita beli langsung dari orang yang perna ambil kelasnya dulu, jadi harganya sering bisa miring banget. Disaranin jangan beli langsung di bookstorenya UT (namanya University Co-op), mereka kasi harga sering terlalu mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Gede:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; hidup sebulan: $400 utk apt sebulan, $300 untuk makan sebulan, $200 - 500 untuk buku per semester, $100 - 300 untuk refreshment (depending on what you want to do) sebulan&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;4. Apa yang harus disiapkan sebelum berangkat kesana, test bahasa inggris , dan test lainnya dilakukan dimana ?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Lisa:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Biasanya yang diperluin adalah score dari TOEFL dan SAT. Tergantung mao apply dimana. TOEFL itu yang uda pasti dibutuhin. Kalo SAT, ada beberapa universitas ngga perlu, juga kalo apply ke community college. Info tentang TOEFL bisa diliat di www.ets.org dan SAT di www.collegeboard.org. Selain itu harus apply student VISA di US Embassy. Ini bisa dilakuin kalo uda diterima sama universitasnya dan universitas itu ngeluarin dokumen imigrasi namanya I-20. Itu dokumen bukti kalo kita di US untuk belajar, bukan buat cari kerja ato tinggal di US.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Gede:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Test bahasa inggris, SAT test dan visa untuk sekolah adalah tiga hal penting yang harus dilakukan sebelum ke Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5. Apakah sebaiknya ikut/masuk ke college dulu ( supaya murah), or langsung saja dan ikut pre-university (berapa lama ikut pre-university)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Lisa:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Mungkin yang dimaksud sistem kaya di Australia ya? Di sini sistemnya ngga kaya gitu, kita ada namanya community college. BIasanya 3-4 semester di situ dan transfer ke universitas. College/university itu pilihan sih, dan tergantung budget juga. Klo memang siap untuk budget tinggi, klo bisa masuk ke university langsung lebi bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;6. Apakah ada bantuan untuk biaya kuliah ?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Lisa:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Di UT sendiri jarang ada bantuan buat international students, bahkan beasiswa juga jarang. Yang biasa anak2 Indo lakukan adalah kerja 20 jam per minggu soalnya bisa qualify buat bayar in-state tuition (bisa 1/3 dari biaya international students)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Vidia:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Untuk International student sebenarnya tidak banyak bantuan kuliah untuk Bachelor's Degree. Kalau Master's/Phd, itu lain lagi ceritanya karena lebih banyak scholarship, grant, fellowship, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, tapi ada beberapa cara untuk meringankan tuition fee. Kalau di UT, ada yang namanya "in-state tuition fee" yang bisa didapatkan oleh pelajar internasional dengan cara bekerja di kampus sebanyak 20 jam/minggu. Perkerjaan yang dilakukan biasanya harus berhubungan dengan jurusan yang diambil, tapi ada beberapa yang tetap memberi meskipun tidak terlalu berhubungan. Jenis perkerjaannya bisa research assistant, grader, menjaga computer lab, dll. Kalau mendapat pekerjaan ini, tuition fee kita dipotong, dan kita boleh membayar jumlah yang baisanya dibayar oleh Texas resident. Kira2 untuk international student di UT, 1 semester bisa 12000-13000. Sementara in-state tuition fee ini hanya 5000-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara kedua untuk mendapatkan in-state tuition fee adalah apabila kita memperoleh beasiswa yang berafiliasi dengan UT. Artinya, beasiswa itu diberikan oleh perusahaan2/organisasi2 ke UT, untuk disalurkan oleh UT ke pelajar2nya. Beasiswa yang didapat harus setidaknya $1000/tahun. Nah, kalau kita dapat itu, untuk setahun itu kita diijinkan untuk membayar sebesar in-state tuition fee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara ketiga adalah mendaftar untuk financial aid melalui international office di UT. Applikasinya biasa dibuka per semester, dan kalau lolos kualifikasi mereka, tuition fee kita bisa dipotong sekitar 2000-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;7. Apakah setelah lulus boleh langsung kerja di amerika, tidak pulang ke Indonesia ?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Gede:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Tergantung major anda,kalau Science, Technology, Engineering, atau Mathematics, anda bisa bekerja dengan Optional Practical Training up to 29 months.  Kalau major anda     business, dll, Optional Practical Training anda hanya 12 months.  If you dont get your F visa by then, then you do have to go back to Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Vidia:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Setelah lulus, kita diperbolehkan untuk kerja di Amerika selama 1-2 tahun dengan memakai OPT (Optional Practical Training). Dijangka waktu itu, bagi yang masih mau menetap di US, sangat diharapkan untuk mendapat visa H1 yang disponsori oleh perusahaan di mana dia bekerja. Dengan visa H1 ini, kita bisa terus bekerja di US untuk beberapa tahun. Tapi kalau tidak mendapat H1 visa, setelah masa OPT habis, kita harus kembali ke Indonesia, atau melanjutkan studi sehingga tetap menjadi penghuni legal di US dengan memakai Visa F1.&lt;br /&gt;Setelah lulus, kita diperbolehkan untuk kerja di Amerika selama 1-2 tahun dengan memakai OPT (Optional Practical Training). Dijangka waktu itu, bagi yang masih mau menetap di US, sangat diharapkan untuk mendapat visa H1 yang disponsori oleh perusahaan di mana dia bekerja. Dengan visa H1 ini, kita bisa terus bekerja di US untuk beberapa tahun. Tapi kalau tidak mendapat H1 visa, setelah masa OPT habis, kita harus kembali ke Indonesia, atau melanjutkan studi sehingga tetap menjadi penghuni legal di US dengan memakai Visa F1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga berguna deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lisa, Vidia, Gede&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-3174672982882234945?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/3174672982882234945/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=3174672982882234945' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/3174672982882234945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/3174672982882234945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/09/faq-studi-di-austin.html' title='FAQ: Studi di Austin'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-8346545952621414975</id><published>2008-09-17T09:30:00.000-07:00</published><updated>2008-09-17T11:25:32.715-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='indonesia'/><title type='text'>Jawa Tengah...</title><content type='html'>Berkesempatan berkunjung ke Jawa Tengah akhir tahun lalu merupakan pengalaman berkesan buat saya. Maklumlah, sudah lebih dari 20 tahun hidup di Indonesia, tapi hanya di Jakarta atau  Bandung aja, itupun sesekali saja. Mo bagi2 dikit ah apa yang saya lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://lh3.ggpht.com/handichan/R4k9Sq5LTdI/AAAAAAAAB4k/EwXeb6yMknM/s640/dec2007-jan2008%20017.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://lh3.ggpht.com/handichan/R4k9Sq5LTdI/AAAAAAAAB4k/EwXeb6yMknM/s640/dec2007-jan2008%20017.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Nasi Tumpenggg, ini bener2 khas Jateng deh. Isinya tuh selain nasi putih/kuning yang dibentuk kerucut, ada rempeyek, gudeg, mendoan, ayam, tempeh pedes macam2 deh. Waktu itu saya makin nasi tumpeng pas lagi selamatan rumah baru teman saya. Yang memimpin acara nya itu ketua satpam di kompleks perumahannya. Beberapa tetangga juga hadir di acara ini. Yep, budaya silahturami masih kental disini. Acara ini diadakan di Purwokerto, Jateng.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://lh4.ggpht.com/handichan/R4k9665LVZI/AAAAAAAACIQ/KJOIXweqBPs/s640/dec2007-jan2008%20142.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://lh4.ggpht.com/handichan/R4k9665LVZI/AAAAAAAACIQ/KJOIXweqBPs/s640/dec2007-jan2008%20142.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seriously, nanas Purwokerto itu manis abis. Bukan hanya kulit nya yang lunak dan gampang dikupas, daging buahnya juga ranum dan juicy banget. Waktu itu kami sempat memborong nanas si bapak yang lagi duduk jaga nanas2 panenannya. Si bapak penjual manen nanas, kita kebagian juga deh. Terima kasih banyak, Pak, laen kali kami mampir lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo sudah omongin makanan, susah untuk berhenti. Apalagi, kalo belum masuk ke makanan khas daerah tersebut. Raja soto lama, gudeg, martabak manis "bandung", telor, jagung bakar, dan roti bakar memenuhi hasrat lidah sewaktu saya menghabiskan hari2 di Purwokerto. Engga ketinggalan jugaaa, masakan Warung Djawa yang khas dengan macem2 sayur ala Djawa. Maaf, engga gitu inget nama2 nya nih. Yang pasti ada pete. Ini saya bagi foto2 nya aja deh. Yum... yum... Oops, coba baca tulisan menarik yang dipasang di dinding kayu kamar kecil warung nya deh =p.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://lh3.ggpht.com/handichan/R4k-Rq5LWNI/AAAAAAAACO4/mC6ALSJYy64/s640/dec2007-jan2008%20194.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px;" src="http://lh3.ggpht.com/handichan/R4k-Rq5LWNI/AAAAAAAACO4/mC6ALSJYy64/s640/dec2007-jan2008%20194.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://lh4.ggpht.com/handichan/R4k-O65LWHI/AAAAAAAACOI/xQn00Wr5ckk/s640/dec2007-jan2008%20188.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px;" src="http://lh4.ggpht.com/handichan/R4k-O65LWHI/AAAAAAAACOI/xQn00Wr5ckk/s640/dec2007-jan2008%20188.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://lh6.ggpht.com/handichan/R4k-Oa5LWGI/AAAAAAAACOA/1s_Ogfpan_Q/s640/dec2007-jan2008%20187.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px;" src="http://lh6.ggpht.com/handichan/R4k-Oa5LWGI/AAAAAAAACOA/1s_Ogfpan_Q/s640/dec2007-jan2008%20187.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hayo, bagi pembaca yang lagi nunggu waktu makan pagi, siang, atau malam, silakan ambil cemilan untuk menahan liur yang udah diujung tuh =). Ya, sebelum saya cerita lebih banyak lagi Yogya yang tentu lebih bervariasi jenis makanannya, saya mau cerita tentang keindahan kota (atau desa) Purwokerto dan sekitarnya dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://lh6.ggpht.com/handichan/R4ldya5LdKI/AAAAAAAADVk/6cdKVcPjIbY/s640/IMG_0220.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px;" src="http://lh6.ggpht.com/handichan/R4ldya5LdKI/AAAAAAAADVk/6cdKVcPjIbY/s640/IMG_0220.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://lh6.ggpht.com/handichan/R4lXaa5LceI/AAAAAAAADN4/zQf1S5QBdXg/s640/IMG_0238.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px;" src="http://lh6.ggpht.com/handichan/R4lXaa5LceI/AAAAAAAADN4/zQf1S5QBdXg/s640/IMG_0238.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://lh5.ggpht.com/handichan/R4k-JK5LV7I/AAAAAAAACMk/XOLvJKup-UQ/s640/dec2007-jan2008%20176.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px;" src="http://lh5.ggpht.com/handichan/R4k-JK5LV7I/AAAAAAAACMk/XOLvJKup-UQ/s640/dec2007-jan2008%20176.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://lh3.ggpht.com/handichan/R4k9_q5LVmI/AAAAAAAACJ4/4fBPnhkGyYA/s640/dec2007-jan2008%20155.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px;" src="http://lh3.ggpht.com/handichan/R4k9_q5LVmI/AAAAAAAACJ4/4fBPnhkGyYA/s640/dec2007-jan2008%20155.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Salah satu tempat pariwisata terkenal di daerah situ, Baturaden dan pancuran tujuh nya. Berkendara mobil kira2 setengah jam an dari Purwokerto, kita masuk ke hutan (ga jelas jenis kayunya), yang pasti rindang sekali. Kita parkir dekat situ, dan melewati jalan setapak naek turun. Engga seperti tempat pariwisata yang pernah saya kunjungi, tempat ini terlihat bersih sekali dan pedagang kaki lima dikanan kiri juga lebih teratur. Yak, itu deh gambar pancuran tujuhnya. Alami loh. Dan, tidak masuk didalam foto, di sisi kanan pancuran tujuh itu sebenernya ada satu pohon kecil mirip bonsai gitu. Dipercaya pohon itu sebagai penjaga pancuran itu. Yak, terbukti sih, air nya masih terus mengalir dan bubuk belerangnya dipercaya bisa meng-ayu-kan kulit kalo di oleskan ke kulit. Yak, buat para kaum hawa, bisa dicoba nih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://lh6.ggpht.com/handichan/R4lXCa5LcQI/AAAAAAAADMI/0TBlb8xB06U/s640/IMG_0903%20%28Custom%29.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://lh6.ggpht.com/handichan/R4lXCa5LcQI/AAAAAAAADMI/0TBlb8xB06U/s640/IMG_0903%20%28Custom%29.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dari Baturaden, Jateng, kita ke Purbalingga, Jateng. Owabong, salah satu tempat main air disini yang mayan asik. Terlihat tempatnya seperti kolam renang dengan seluncuran yang biasa2 aja. Tapi coba lihat pohon beringin besar dibelakangnya. Dibawah pohon beringin ini ada sumber mata air abadi. Mata air ini engga hanya beri kehidupan ke pohon beringin yang umurnya udah ratusan tahun, tapi juga menghidupi masyarakat disitu. Ditempat itu, moment2 keluarga biasanya terlihat. Nginep semalam atau dua di salah satu cottage nya yg harganya terjangkau, orang tua bisa istirahat sejenak dari pekerjaan rutin nya, dan anak2 bisa main2 air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Owabong ini salah satu hasil pemikiran bupati disitu, Bupati Triono. Bapak Triono ini orangnya menarik, dia memikirkan rakyat nya. Dari tahun ke tahun penghidupan rakyatnya meningkat. Owabong ini contohnya, diantara pilihan bentuk entertainment site seperti trend mall2 yang ada dikebanyakkan kota besar, dia punya pemikiran kalo tempat hiburan selain menjadi sumber pemasukkan, perlu juga mendidik. Maka dibuatlah Owabong. Contoh pemikiran lainnya, dengan promosi nya yang gencar tentang kabupatennya yang kondusif untuk dijadikan daerah investasi, lantas aja investor pada berdatangan. Tapi, eits... sebelum investor2 itu masuk, dia menyaring mereka dengan beberapa kriteria, diantaranya: bentuk investasi itu perlu bisa menampung tenaga kerja yang banyak, dan ada program untuk mendidik tenaga kerjanya. Jadi lucu juga, kabupaten nya boleh dibilang desa, tapi orang2 disitu udah kenal ama yang namanya tepat waktu, organisasi, hubungan pekerja dan supervisor nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haiz, ya gitu deh... sekarang mari kita ke Yogyakarta. Nyetir 3 jam an dari Purwokerto ke Yogya engga kerasa karena ditemani sawah2 yang hijau. Engga ketinggalan juga pemandangan yang terlihat baru, SPBU Pertamina yang keren2 dan sepertinya ada setiap 10 kilometer. Yoi, disetiap komplek nya, selain berjejer 6 buah pompa, sekarang ada supermarket kecil, juga mushola lengkap dengan tempat wudu yang berderet.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://lh3.ggpht.com/handichan/R4k-sq5LXbI/AAAAAAAACYw/IRaFPeOwJ1w/s640/dec2007-jan2008%20272.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://lh3.ggpht.com/handichan/R4k-sq5LXbI/AAAAAAAACYw/IRaFPeOwJ1w/s640/dec2007-jan2008%20272.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di Yogya, banyak sekali yang bisa dilihat dan disantap. Menginap di Wisma UGM merupakan pilihan paling pas, kemana2 dekat. Keraton, Malioboro, museum Affandi, rumah makan2.  Yoi, kalo pembaca sempat berkunjung ke kota yang canggih sewer systemnya ini, mesti pergi ke satu restoran Iga bakar sih. Uenak rek. Engga ketinggalan pula komunitas pengrajin disini. Mulai dari batik, perak, sampai sutera, tempat ini terkenal jadi pusat belanja kerajinan2 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belom terasa perjalanannya kalo lom sempet pergi ke salah satu candi besar di Yogya. Ada dua pilihan, candi Prambanan atau Borobudur. Kami pilih Borobudur. Borobudur yang dulunya termasuk 7 keajaiban dunia, sekarang ini kondisinya memprihatinkan. Banyak yang rusak dan hilang beberapa bagiannya, paling banyak kepala patung Buddha nya. Orang dulu percaya kalo didalam kepala patung Buddha itu ada emas. Yah, jadi banyak yang hilang deh kepalanya. Beberapa perbaikan juga direncanakan dikedepan nanti. Kebanyakkan rencana ini bakal dilakukan pihak luar, salah satunya UNESCO. Entah, apa karena hilang kepercayaan ama departemen kebudayaan Indo atau lainnya, saya kurang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://lh3.ggpht.com/handichan/R4k-Zq5LWnI/AAAAAAAACSM/AY0trSFcMQQ/s640/dec2007-jan2008%20220.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px;" src="http://lh3.ggpht.com/handichan/R4k-Zq5LWnI/AAAAAAAACSM/AY0trSFcMQQ/s640/dec2007-jan2008%20220.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://lh4.ggpht.com/handichan/R4k-b65LWsI/AAAAAAAACS0/zv0JA_Z44lA/s640/dec2007-jan2008%20225.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px;" src="http://lh4.ggpht.com/handichan/R4k-b65LWsI/AAAAAAAACS0/zv0JA_Z44lA/s640/dec2007-jan2008%20225.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://lh5.ggpht.com/handichan/R4k-lK5LXEI/AAAAAAAACV4/hAQQXecsqk4/s640/dec2007-jan2008%20249.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px;" src="http://lh5.ggpht.com/handichan/R4k-lK5LXEI/AAAAAAAACV4/hAQQXecsqk4/s640/dec2007-jan2008%20249.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://lh4.ggpht.com/handichan/R4k-i65LW-I/AAAAAAAACVE/gnbFsB0ObLY/s640/dec2007-jan2008%20243.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px;" src="http://lh4.ggpht.com/handichan/R4k-i65LW-I/AAAAAAAACVE/gnbFsB0ObLY/s640/dec2007-jan2008%20243.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian saja catatan perjalanan yang saya lakukan sembilan bulan lalu. Where to go next? =)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://lh5.ggpht.com/handichan/R4k_LK5LYzI/AAAAAAAACj4/8VZghKOnZmo/s640/dec2007-jan2008%20360.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px;" src="http://lh5.ggpht.com/handichan/R4k_LK5LYzI/AAAAAAAACj4/8VZghKOnZmo/s640/dec2007-jan2008%20360.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://lh4.ggpht.com/handichan/R4k_M65LY4I/AAAAAAAACkk/39qdGegt8rA/s640/dec2007-jan2008%20365.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px;" src="http://lh4.ggpht.com/handichan/R4k_M65LY4I/AAAAAAAACkk/39qdGegt8rA/s640/dec2007-jan2008%20365.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-8346545952621414975?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/8346545952621414975/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=8346545952621414975' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/8346545952621414975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/8346545952621414975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/09/jawa-tengah.html' title='Jawa Tengah...'/><author><name>Handi Chandra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17640133500684202790</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh3.ggpht.com/handichan/R4k9Sq5LTdI/AAAAAAAAB4k/EwXeb6yMknM/s72-c/dec2007-jan2008%20017.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-7839611494847966504</id><published>2008-09-16T13:33:00.001-07:00</published><updated>2008-09-16T13:33:58.104-07:00</updated><title type='text'>Masalah</title><content type='html'>Aku ngerasa kawan-kawan di komunitas Kopi Susu banyak yang sangat berkompeten berbicara tentang isu diskriminasi dan krisis identitas. Kompeten bukan karena telah mempublikasikan berbagai artikel tentangnya, tetapi, lebih dari itu, mengalaminya; menjadi “obyek penderita”. Demikian pula dengan aku, aku merasa sebagai orang yang paling berkompeten dengan isu kemiskinan di komunitas ini. Karena aku adalah bagian dari masalah itu, hidup dan tinggal didalamnya. Merenungi dualisme ini, mengatrkanku hingga sampai pada pemikiran bahwa: “masalah” selalu datang pada manusia, dalam posisi seperti apapun mereka adanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengahan bulan September, yang juga pertengahan bulan puasa sebuah tragedy kembali terjadi. 21 orang meninggal dunia di Pasuruan Jawa Timur akibat mengantri pembagian zakat (pemberian uang pada orang miskin) dari seorang kaya di kota itu. Ribuan orang berdesakan berebut uang Rp. 30 ribu perak yang disediakan sang dermawan untuk mereka. Lautan massa bak gelombang tsunami memadati gang sempit tempat uang US$ 3 dibagikan. Mereka saling himpit, sedikit ruang untuk bernapas, lalu mereka pingsan, terinjak-injak. Lalu mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar berita ini hatiku terasa tercabik-cabik. Jumlah uang yang di US bahkan tidak cukup untuk membeli makanan seekor anjing! Di negeriku membuat nyawa manusia melayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang salah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai kalangan dan pengamat telah memaparkan berbagai perspektif mereka di beberapa hari terakhir. Salah satu kelompokmengatakan bahwa ini merupakan bentuk ketidakperayaan masyarakat terhadap institusi-insitutsi yang ada. Ketimbang memberikan uang itu pada lembaga-lembaga resmi seperti Dinas Sosial, Panti Asuhan, masjid, dll si dermawan lebih memilih membagikan sendiri uangnya, yang kemudian berakibat fatal akibat tidak profesionalnya dia dalam mengelola distribusi dana. Kelompok lain menyalahkan factor budaya yang dialamatkan pada budaya tidak tertibnya masyarakat kita dalam mengantri. Serta tidak ada rasa toleransi dan rasa saling mengalah yang berakibat pada gelombang massa yang erangsek maju tak terkedali. Semua orang ingin mendapatkan bagiannya segera: sekarang juga: aku duluan! Yang juga, ujungnya berakibat kematian massal. Ada juga yang menyalahkan pemerintah dan aparat setempat (termasuk kepolisian) yang tidak menyediakan bantuan cukup guna menertibkan kerumunan massa yang sebenarnya sangat mudah diantisipasi kemungkinan terburuk ini akan terjadi. Lebih parah lagi, ada juga yang menyalahkan si dermawan yang cenderung “show off” dalam menunjukkan kedermawanannya, bahkan bisa jadi, kekayaannya.&lt;br /&gt;Apapun itu, tragedy ini telah membuktikan, sekali lagi, potret kemiskinan masyarakat Indonesia yang teramat-sangat parah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah itukan bukan masalah gue, masalah guwe itu adalah diskriminasi” mungkin pemikiran seperi ini sempat terlintas di benak kita. Beberapa keluarga dan kawan-kawanku juga mati, bukan karena antri uang 30 perak, tapi dibunuh dalam sebuah konflik etnis. Apa bedanya? Toh sama-sama ada yang mati. Kelompok mereka mati karena “masalah” mereka, kelompok ku mati karena “masalah” ku, jadi kenapa kita tidak memikirkan masalah kita masing-masing saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak akan menyalahkan pikiran-pikiran seperti itu, sebab mungkin memang ada benarnya. Tiap orang punya masalahnya masing-masing dan mereka haru menemukan solusinya sendiri. Analoginya, bagaimana mungkin kita dapat memberikan saran pada seorang juru masak tentang apakah masakannya kurang asin atau tidak kalau kita tidak mencicipinya, tidak merasakannya. Adalah konyol kalau kemudian kita berkata “menurut imajinasiku sepertinya masakanmu kurang garam”. Sehingga,hanya orang-orang yang sudah merasakan masakan itu yang “berkompeten” untuk memberikan solusi untuk perbaikan rasa masakan tersebut. Sebaliknya, bagi yang nggak memakannya atau setidaknya mencicipinya, jangan sekali-kali kasih komentar. Ini adalah sebuah analogy tentang hipotesa: “masalah gue itu urusan gue, masalah lu itu urusan lu”.&lt;br /&gt;Tetapi bagi mereka yang punya idealisme tentu pendapat tentu terasa kurang pas. Karena pikran seperti itu adalah gaya berpikirnya orang-orang ignorant. Tapi kalau dikembalikan ke analogi tadi, siapa sih orang yang nggak ignorat di muka bumi ini. toh orang-orang miskin di Pasuruan itu juga ignorant pada orang kelompok minoritas yang di diskriminasi. Mereka tak pernah peduli betapa sulitnya mencari identitas diri dan identitas ke “Indonesiaan” bagi para warga keturunan. Maka apa salahnya kalau warga keturunan juga ignorat pada mereka? Ignorant di balas dengan ignorant, adil bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih lagi, hingga detik ini aku pun belum nemuin sebuah “pohon masalah” yang komprehensif yang bisa menjelaskan secara sistematis dan struktural terhadap kesalingterkaitan atas berbagai masalah tersebut. Semua pihak mengklaim bahwa akar amsalah dari semua itu adalah sektornya. Para aktifis lingkungan menganggap persoalan lingkugnan hidup diatas segalanya, aktifis anti-diskriminasi, gender, anti-korupsi, ekonom, politik semua pun demikian. Alih-alih menemukan “pohon masalah” yang didapt justru kompartementalisasi. Yaitu sebuah sikap yang menganggap sektornyalah yang paling penting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat pohon masalah atas sebuah entitas yang bernama “Indonesia” adalah tantangan terbesarku. Menemukan mana akar, batang dan ranting-ranting masalah. Dengan demikian kita dapat menarik ranting-rnting masalah yang ada menuju satu “batang masalah” yang bersumber dari berbagai akar masalah yang tetapi juga terangkum dalam sebuah simpul disuatu titik tepat diantara akar dan batang masalah. &lt;br /&gt;Kembali kapada pencarian biang kerok tragedi meninggalnya 21 orang di Pasuruan. Pertanyaan “siapa yang salah” tidak menjadi relevan bukan karena pertimbangan moral, tetapi pertimbangan epistemologis. Sebab,pertanyaan tentang “siapa” tidak dapat memberikan solusi secara permanen. Tetapi seharunya adalah “apa masalahnya?” semakin dalam pertanyaan ini diajukan terus menerus akan membawa kita dalam sebuah ranah yang disebut “filsafat”. Karena dalam fisafat akan ditemukan “apa” dari “segala apa”. Pada level itu, sanggahan kuat atas argumentasi-argumentasi pro-ignorancy akan ditemukan. Saat itulah akan muncul anti-thesa atas kompartementalisme yang sama dengan solidarisme dan kolektivisme yang konkret dan material. Karena hanya kesadaran yang materiallah yang dapat diejawantahkan dalam aksi-aksi problem solving yang nyatadan sistemik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya aksi problem solving yang nyata dan sistemik itu penting sebab gerakan charity terbukti tidak menyelesaikan masalah. Kasus Pasuruan, BLT (Bantuan Langsung Tunai) dan bahkan di US dengan program Rebate Checks (US$ 600 per orang dan US$ 300 per anak) sudah di kritik mayoritas pakar ekonomi dan studi pembangunan. Sekali lagi hal-hal yang bersifat charity adalah sama dengan memberi ointment dipermukaan kulit pada penderita kanker kulit. Mungkin akan menyejukkan sesaat, tapi seriously, hal itu nggak akan pernah menyelesaikan masalah sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hhmmhh.... ketika seorang anak bangsa tengah gelisah memikirkan “pohon masalah” bagi bangsanya, atau sedang sedih meratapi saudara-saudara miskinnya yang matidi Pasuruan. Para politisi hari ini tengah berhambur uang miliaran rupiah untuk pasang iklan politik di TV dan “membeli” nomor urut di partai mereka masing-masing. Sementara para pengusaha, ah.. entah apayang sedang mereka pikirkan saat ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fdl]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-7839611494847966504?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/7839611494847966504/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=7839611494847966504' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/7839611494847966504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/7839611494847966504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/09/masalah.html' title='Masalah'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-5486285336175667075</id><published>2008-09-11T16:17:00.001-07:00</published><updated>2008-09-11T16:21:20.348-07:00</updated><title type='text'>9/11 Anniversary</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SMmnL9oDoCI/AAAAAAAAB_M/01ceh9ti7oA/s1600-h/9-11-01.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SMmnL9oDoCI/AAAAAAAAB_M/01ceh9ti7oA/s320/9-11-01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5244907065012625442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seven years ago at this hour&lt;br /&gt;a doomed airliner plunged from the sky, &lt;br /&gt;split the rock and steel of this building&lt;br /&gt;and changed our world forever."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The years that followed have seen justice &lt;br /&gt;delivered to evil men &lt;br /&gt;in battles fought in distant lands. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But each year on this day,&lt;br /&gt;our thoughts return to this place."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;George W. Bush&lt;br /&gt;9/11/2008&lt;br /&gt;Pentagon&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-5486285336175667075?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/5486285336175667075/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=5486285336175667075' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/5486285336175667075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/5486285336175667075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/09/911-anniversary.html' title='9/11 Anniversary'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SMmnL9oDoCI/AAAAAAAAB_M/01ceh9ti7oA/s72-c/9-11-01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-6196047932786074862</id><published>2008-09-06T21:45:00.000-07:00</published><updated>2008-09-06T22:58:05.156-07:00</updated><title type='text'>Tan Hong Ming: Jatuh Cinta</title><content type='html'>Hari ini saya diingatkan tentang isu perbedaan suku dan ras. Menurut saya, ras saya agak aneh, sehingga kadang-kadang saya suka krisis identitas. Dibilang Cina, ya bukan, dibilang Melayu, tidak bisa juga, karena besarnya mata saya dan warna kulit saya berkata lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, waktu masih tinggal di Jakarta, kebanyakan tetangga-tetangga saya dan teman-teman di sekolah memanggil saudaranya dengan cici dan koko. Saya pernah ditanya, kenapa kok saya panggil saudara saya "kakak". Waaah, kenapa ya, saya juga ga tau tuh. Memang sejak dulu sudah terbiasa panggil kakak, mau diapain lagi. Tapi pernah, mungkin karena bingung dan ingin tidak terlihat lain dari yang lain, saya coba-coba panggil kakak saya dengan "cici". Yang pasti, saya sendiri langsung berasa aneh, malu, dan tidak berani lagi ganti-ganti panggilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, pas kelas 4 SD, saya pindah ke Riau. Sempat harus adaptasi lagi, karena di sana, kalau kakak perempuan dipanggil kakak, tapi kalau laki-laki, harus dipanggil abang. Tidak boleh Mas, Kang, apalagi Kak, pokoknya harus Abang. Jadilah saya memanggil semua kakak kelas yang laki-laki dengan Abang. Sedikit lega juga, karena kalau saya beneran ganti panggilan kakak saya jadi cici, saya akan jadi satu-satunya orang aneh di sana. Sekitar SMP kelas 1 atau 2, baru saya mengenal konsep Cina dan Pribumi. Ketika itu juga baru saya sadar, kalau saya ini benar2 minoritas: hanya 3 orang Cina saja di SMP saya. Di umur-umur segitu, mulai ada beberapa orang yang menanyakan, "Kamu Cina, ya?" Termasuk salah satu guru saya. Tidak ada yang salah sama sekali dengan itu, saya pun tidak pernah tersinggung dan tidak merasakan diskriminasi sama sekali. Masa SMP adalah masa-masa yang membahagiakan buat saya. Cuma satu aja pertanyaan yang saya tujukan kepada mereka yang kepengen tau ras saya: Emang penting ya???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata setelah saya tambah besar dan tinggal di Singapur, saya menyadari bahwa ras itu lumayan penting! Saya suka gondok ketika supir-supir bus atau taksi dengan cueknya mengajak saya berbicara dengan bahasa Mandarin... Sering kali dengan suara kecil dan terbata-bata karena takut salah, saya membalas,"Wo bu hui zhang huayi." Sampai sekarang saya kurang tau bagaimana cara tulisnya, tapi pokoknya saya bilang begitu. Satu-satunya jurus Mandarin yang yang paling sering saya keluarkan: Saya tidak berbicara bahasa Mandarin. Lalu, biasanya mereka bilang dengan bahasa Inggris, "Wah, kamu orang Cina kan? Harus bisa ngomong Mandarin! Kok bahasa ibu sendiri tidak tau... bla bla bla.." Intinya memberitahu bahwa saya ini adalah anak yang lepas dari kebudayaan nenek moyang, seperti kacang lupa kulitnya, seperti buah yang entah kenapa jatuh jauh dari pohonnya. Biasanya, generasi tua yang sering menceramahi begitu. Kalau lagi mood, ya saya ladeni sebisanya, memberikan gambaran latar belakang, yang intinya Cina saya sudah kelunturan. Kalau lagi malas, ya saya iya iya-in aja, dengan harapan dia bosen ngoceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sedikit jadi krisis identitas seperti itu, saya secara pribadi belum pernah disakiti hati dan fisik gara-gara masalah perbedaan ras ini. Dan mudah-mudahan saya juga tidak menyakiti orang lain dengan memakai isu ini. Berada ditengah-tengah, tidak benci, tidak juga cinta, membuat saya bisa mengabaikan ras dan tidak terlalu mempunyai afiliasi dan kedekatan dengan ras saya (apapun itu). Dengan tidak mengertinya saya tentang ras saya, lebih mudah bagi saya untuk berkata bahwa saya manusia Indonesia dan penduduk dunia. Bukan berarti menurut saya mengerti dan dekat dengan ras itu tidak bagus, tapi ketika itu menjadi halangan untuk mengenal dan bersahabat dengan penduduk dunia yang lain, ada baiknya kita berhenti sebentar dan berpikir tentang cara kita menggunakan latar belakang kita di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang membuat saya berbagi tentang ini? Hehe lihat saja iklan dari Malaysia di bawah ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="425" height="355"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/UehSJlOQj2I&amp;amp;hl=en"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="wmode" value="transparent"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/UehSJlOQj2I&amp;amp;hl=en" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" width="425" height="355" allowscriptaccess="never"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="never"&gt;&lt;/param&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS. Ada lagi yang jatuh cinta sama giginya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-6196047932786074862?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/6196047932786074862/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=6196047932786074862' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/6196047932786074862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/6196047932786074862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/09/tan-hong-ming-jatuh-cinta.html' title='Tan Hong Ming: Jatuh Cinta'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-8813849947177672769</id><published>2008-09-01T23:40:00.000-07:00</published><updated>2008-09-01T23:42:17.857-07:00</updated><title type='text'>Bulan Puasa 2008</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SLzgNYfWenI/AAAAAAAAB_E/alEk4PSMH6E/s1600-h/muslim.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5241310586869283442" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SLzgNYfWenI/AAAAAAAAB_E/alEk4PSMH6E/s320/muslim.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-8813849947177672769?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/8813849947177672769/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=8813849947177672769' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/8813849947177672769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/8813849947177672769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/09/bulan-puasa-2008.html' title='Bulan Puasa 2008'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SLzgNYfWenI/AAAAAAAAB_E/alEk4PSMH6E/s72-c/muslim.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-3303151600842417974</id><published>2008-08-29T09:17:00.000-07:00</published><updated>2008-08-29T10:34:03.425-07:00</updated><title type='text'>Blog Action Day '08</title><content type='html'>Yak! Apa itu &lt;a href="http://blogactionday.org/"&gt;blog action day&lt;/a&gt;? Menurut websitenya:&lt;br /&gt;&lt;p style="font-weight: bold;"&gt;First and last, the purpose of Blog Action Day is to create a discussion. We ask bloggers to take a single day out of their schedule and focus it on an important issue. By doing so on the same day, the blogging community effectively changes the conversation on the web and focuses audiences around the globe on that issue.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;object height="302" width="400"&gt;    &lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;    &lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;    &lt;param name="movie" value="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=1529825&amp;amp;server=vimeo.com&amp;amp;show_title=1&amp;amp;show_byline=1&amp;amp;show_portrait=0&amp;amp;color=&amp;amp;fullscreen=1"&gt;    &lt;embed src="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=1529825&amp;amp;server=vimeo.com&amp;amp;show_title=1&amp;amp;show_byline=1&amp;amp;show_portrait=0&amp;amp;color=&amp;amp;fullscreen=1" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" height="302" width="400"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://vimeo.com/1529825?pg=embed&amp;amp;sec=1529825"&gt;Blog Action Day 2008 Poverty&lt;/a&gt; from &lt;a href="http://vimeo.com/blogactionday?pg=embed&amp;amp;sec=1529825"&gt;Blog Action Day&lt;/a&gt; on &lt;a href="http://vimeo.com/?pg=embed&amp;amp;sec=1529825"&gt;Vimeo&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sudah mempromosikan Blog Action Day 08 ini dari tanggal 15 Agustus dan semua yang medukung dan mendaftar akan nge-blog di hari yang bersamaan yaitu tanggal 15 Oktober 2008. Sampai saat ini, blog yang terdaftar sudah lebih dari 3200 dari seluruh dunia! Dan Kopi susu adalah salah satunya. Hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temanya tahun ini adalah POVERTY/KEMISKINAN. Kalau ada yang mau post sesuatu yang berhubungan dengan tema ini, silahkan kirim ke kopisusu.austin@gmail.com, atau tinggalkan komentar diposting ini. Dan nanti tanggal 15 Oktober, semua entry tentang poverty akan ditampilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo kita ikut meramaikan Blog Action Day 08!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog Action Day 2008: One issue, thousands of voices.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-3303151600842417974?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/3303151600842417974/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=3303151600842417974' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/3303151600842417974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/3303151600842417974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/08/blog-action-day-08.html' title='Blog Action Day &apos;08'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-204005279240889867</id><published>2008-08-28T13:33:00.001-07:00</published><updated>2008-08-28T13:33:53.785-07:00</updated><title type='text'>SKJ '96</title><content type='html'>A song that is dear to our heart.(Actually, this goes back to '88)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enjoy!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="300" height="110"&gt;&lt;param name="movie" value="http://media.imeem.com/m/NU1Mwf0ubS/aus=false/"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="wmode" value="transparent"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://media.imeem.com/m/NU1Mwf0ubS/aus=false/" type="application/x-shockwave-flash" width="300" height="110" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;a href="http://www.imeem.com/people/ioP8CH/music/e-R6a80n/ntah_sapa_skj1996/"&gt;skj-1996 - ntah sapa&lt;/a&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-204005279240889867?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/204005279240889867/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=204005279240889867' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/204005279240889867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/204005279240889867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/08/skj-96.html' title='SKJ &apos;96'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-6124074414384722333</id><published>2008-08-28T13:15:00.001-07:00</published><updated>2008-08-28T13:16:07.532-07:00</updated><title type='text'>Buang Sampah</title><content type='html'>&lt;object height="344" width="425"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/cwGcj9fepcs&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/cwGcj9fepcs&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" height="344" width="425"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-6124074414384722333?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/6124074414384722333/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=6124074414384722333' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/6124074414384722333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/6124074414384722333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/08/buang-sampah.html' title='Buang Sampah'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-6946913189705381989</id><published>2008-08-27T10:31:00.000-07:00</published><updated>2008-08-27T10:34:49.094-07:00</updated><title type='text'>Guyonan Terminal</title><content type='html'>Oleh: Fadillah Putra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tetang merasakan Indonesia tentunya tidak hanya merasakan yang indah dan menyenangkan saja. Atau yang sedih-sedih saja. Ada ruang diantaranya, kesedihan yang kadang dibuat asik aja oleh para pelaku-pelakunya. Salah satu contohnya adalah para sopir-sopir truk atau bus. Di sela kehidupan mereka yang keras, mereka sering membagikan tawa ke sesama pengguna jalan dengan berbagai tulisan-tulisan “ajaib” di belakang kendaraan mereka. Joke-joke mereka sering dianggap remeh oleh kaum terdidik dengan julukan “guyonan becak’an” atau “guyonan terminal”. Tapi itulah mereka, sebuah peradaban kecil di bawah tanah.&lt;br /&gt;Menurutku fenomena ini juga: Indonesia bangeeett….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s time for relax… inilah beberapa diantaranya yang sempat terdokumentasi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AYU AD 1 NE&lt;br /&gt;NEW FEAR THE ME IS 3 ---&gt; Nyupir demi istri&lt;br /&gt;Ber 2 1 7 an ---&gt; Berdua satu tujuan&lt;br /&gt;CAN'T ARE ROCK ---&gt; Ken Arok&lt;br /&gt;MER - 123 - LUCK ---&gt; Mertua Galak&lt;br /&gt;Anda Butuh Waktu, Kami Butuh Uang, Naik Gratis, Turun Bayar&lt;br /&gt;Ma2ku 1/3 dis ---&gt; Mamaku Seperti Gadis&lt;br /&gt;THE ME anak IS 3 ---&gt; Demi Anak Istri&lt;br /&gt;JANGAN DINIKAHI BILA SEGEL RUSAK&lt;br /&gt;be are the kill us all come pack ---&gt; Biar dekil asal kompak&lt;br /&gt;SO FEAR SHE N THINK ---&gt; Sopir Sinting&lt;br /&gt;BE YOUNG CARE ROCK ---&gt; Biang Kerok&lt;br /&gt;Alone By Must ---&gt; Alon bae Mas&lt;br /&gt;CINTAMU TAK SEMURNI BENSINKU&lt;br /&gt;CINTAMU TAK SETULUS CINTA EMAK GW&lt;br /&gt;Moe K Sue Fear 1/3 Rong --&gt; Muka Supir seperti garong&lt;br /&gt;SPONGE DONG&lt;br /&gt;BURONAN MERTUA&lt;br /&gt;BERSATU DI PANGKALAN BERSAING DI JALANAN&lt;br /&gt;PUTUS CINTA... sudah biasa... PUTUS ROKOK... merana... PUTUS REM... matilah kita...&lt;br /&gt;Cintaku Berat Di Bensin&lt;br /&gt;MAN 7 jur ---&gt; mantu jujur&lt;br /&gt;JUM'AT KELABU ---&gt; Trayek Ps. Jumat - Pd. LabuD&lt;br /&gt;o Now .. Casino ... In Draw ... War Cop DKI&lt;br /&gt;bukan salah ibu mengandung.. salah bapak nggak pake sarung&lt;br /&gt;Tak Sehina yang Kau Duga&lt;br /&gt;UCOK = Uang Cukup Ongkos Kurang&lt;br /&gt;Lupa namanya, ingat rasanya&lt;br /&gt;pergi karena tugas ... pulang karena beras..&lt;br /&gt;Fuck Here Miss Kind!!! --&gt; Fakir Miskin&lt;br /&gt;Goyang Pantura&lt;br /&gt;Pulang Malu Tak Pulang Rindu..&lt;br /&gt;Rindumu Tak Seberat Bebanku&lt;br /&gt;Cool Law Tea Young Kla 10 Must ---&gt; Kulo Tiyang Klaten Mas&lt;br /&gt;”portugal' - purwokerto lewat tegal"&lt;br /&gt;Pertamax "Perjaka Tampil Maximal"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-6946913189705381989?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/6946913189705381989/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=6946913189705381989' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/6946913189705381989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/6946913189705381989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/08/guyonan-terminal.html' title='Guyonan Terminal'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-5366880565731094820</id><published>2008-08-26T16:38:00.000-07:00</published><updated>2008-08-26T16:40:57.582-07:00</updated><title type='text'>Generasi Mestinya</title><content type='html'>oleh: Jeson Martadjaya&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  Indonesia.....&lt;br /&gt;  Pedasnya rujak beubeuk&lt;br /&gt;  Hangatnya tahu tempe sumedang&lt;br /&gt;  Nikmatnya soto babat&lt;br /&gt;  Renyahnya ayam goreng McDonald&lt;br /&gt;  Harumnya bakso bakwan...&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Indonesia.....&lt;br /&gt;  Terbayang teman sekelas waktu SMA&lt;br /&gt;  Teman satu klub sepakbola&lt;br /&gt;  Sahabat karib semenjak SD&lt;br /&gt;  Kerabat dan saudara sepupu&lt;br /&gt;  Dan juga...&lt;br /&gt;  Mama papa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Indonesia....&lt;br /&gt;  Sogok menyogok&lt;br /&gt;  Laskar Jihad......&lt;br /&gt;  Perampok berkapak merah&lt;br /&gt;  Penipu ahli hipnotis&lt;br /&gt;  Penjarahan....&lt;br /&gt;  Pemerkosaan&lt;br /&gt;  Pembakaran hidup-hidup.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Ahh....mestinya....&lt;br /&gt;  Indonesia tempat hidup yang aman....&lt;br /&gt;  Indonesia tidak main sogok-sogokkan&lt;br /&gt;  Indonesia pejabatnya tidak korup&lt;br /&gt;  Indonesia tidak perang agama&lt;br /&gt;  Indonesia melindungi orang dari kedengkian dan diskriminasi&lt;br /&gt;  Mestinya...mestinya...dan mestinya...&lt;br /&gt;  Semua itu hanyalah mimpi!&lt;br /&gt;  Keinginanku yang terdalam dan IMPIAN idealisku belaka..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Tetapi Tuhan...&lt;br /&gt;  Saat Engkau berbisik, "Bantu negaramu."&lt;br /&gt;  Aku berseru "Tidak bisa Tuhan! Uang dan keluarga bahagia adalah prioritasku"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Saat Engkau berbisik, "Jangan korupsi."&lt;br /&gt;  Aku berteriak "Tidak bisa Tuhan! KENYAMANANku lebih penting daripada nasib satu bangsa."&lt;br /&gt;  Saat Engkau bilang, "Bela kaummu dari ketidakadilan."&lt;br /&gt;  Aku menjerit "Tidak bisa Tuhan! NYAWAku lebih penting daripada nyawa sesamaku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Buatku...Amerika adalah tempat pelarian&lt;br /&gt;  Tempatku lari dari impian yang tidak dapataku capai&lt;br /&gt;  Karena aku, takut untuk melepas keegoisanku&lt;br /&gt;  Karena aku...&lt;br /&gt;  Adalah produk dari generasi mestinya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-5366880565731094820?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/5366880565731094820/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=5366880565731094820' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/5366880565731094820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/5366880565731094820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/08/generasi-mestinya.html' title='Generasi Mestinya'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-7443842434205270035</id><published>2008-08-22T20:49:00.000-07:00</published><updated>2008-08-22T20:51:44.174-07:00</updated><title type='text'>Pencuri</title><content type='html'>Oleh: Fadillah Putra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki tua berselempang sarung, duduk penuh siaga di bukit kecil tepian desa. Tangan kanannya menggenggam segumpal kain hitam. Masih jauh dari subuh, tetapi Mahdun terlihat tegar dan bersemangat. Apa yang akan dilakukan Mahdun dibukit kecil tepian desa dengan kain hitam itu?&lt;br /&gt;Ia hendak mencuri pagi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                “Mak. Ayolah, Mak! Ikhlaskan Burhan ke kota, Mak.”&lt;br /&gt;            “Apa kurang enak sambal terasi yang tiap hari emak bikinkan untukmu Han?! Atau sudah tak segar lagi air kelapa belakang rumah?!”&lt;br /&gt;            “Bukan begitu, Mak...”&lt;br /&gt;            “Lalu apa Han? Kau tak sayang Emak lagi? Kau sudah sebal melihat wajah peyot Emakmu ini?!”&lt;br /&gt;            Burhan terdiam. Bukan karena kehabisan akal, tetapi bapaknya yang sejak tadi hanya menonton telah memberi kode padanya untuk menghentikan perdebatan ibu anak itu. Mulut Mahdun bergerak-gerak mengatakan “Sudah, sudah” namun tanpa suara, tangannya seperti menekan-nekan sesuatu kebawah berulang-ulang. Sesaat kemudian, isak tangis Ruminah mengantarkan hempasan tubuhnya di peraduan.&lt;br /&gt;            Burhan adalah anak kedua dari Mahdun dan Ruminah. Ia anak kesayangan emaknya. Tidak seperti empat saudaranya yang lain, Burhan memang pintar merawat emaknya. Saat Ruminah sakit atau pegal-pegal karena terlalu lama di ladang, Burhan selalu memijiti kaki emaknya sambil bercerita lucu tentang guru sekolah, pak RT, teman atau adik-adiknya. Seringkali pula Burhan membuatkan oseng-oseng kangkung campur teri kesukaan emaknya. Ruminah pun tiap pagi selalu membuatkan sambal terasi yang sangat digemari Burhan. Terkadang Mahdun iri juga melihat kemesraan mereka, tapi Mahdun bahagia melihat ada kedamaian yang Burhan dan Rumniah ciptakan dikeluarganya.&lt;br /&gt;            “...anakku sing bagus dewe... Mbesuk gede dadio ksatrio sing gagah prakoso jujur toto susilo... gemuyumu saben isuk sing nyumringahke ati emak, ojo nganti ilang sak lawase...” begitulah senandung yang Ruminah gubah sendiri sebagai pengantar tidur Burhan, si buah hati.&lt;br /&gt;            Tetapi saat ini usia Burhan sudah sembilan belas tahun. Ia ingin ke kota, mencoba peruntungan hidup di rantau, sekaligus menikmati gemerlapan kota seperti sering diceritakan teman-temannya.&lt;br /&gt;            “Sudahlah, Han. Kau kan tahu, emakmu itu paling tidak bisa jauh dari kamu. Cukuplah mas mu yang di kota. Kau di sini saja merawat ladang.” Mahdun mencoba memberi pengertian.&lt;br /&gt;            “Gini lho, Pak. Masak aku mulai kecil sampai sekarang di desa terus. Ya aku pingin seperti teman-teman, ngerti kota kayak apa. Nanti kalau aku ndak betah ya balik lagi to, Pak. Macul lagi sama bapak dan ibu. Tapi ijinkan aku coba-coba dulu ke kota.” kilah Burhan.&lt;br /&gt;            “Yo wis le, kalau kamu ngotot kita atur cara biar ibumu mengijinkan kau berangkat. Sebab, kalau ndak gitu bapak yang kena damprat kau ngilang sak enak udelmu dhewe.” Mahdun memberikan jalan keluar.&lt;br /&gt;            “Terus piye, Pak?” tanya Burhan.&lt;br /&gt;            “Begini caranya le...” tangan Mahdum merangkul pundak anaknya. Mereka berdua berjalan menuju beranda rumah bambunya, terus menyusuri jalan makadam membelah malam. Mereka membicarakan strategi untuk meluluhkan hati Ruminah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                              ***&lt;br /&gt;            “Le, ini emak bungkuskan nasi dan sambel terasi untuk makan dijalan. Terus ini duwit dan anting-anting emak buat sangu kamu. Kalau ada apa-apa jual saja anting emak, yang penting kamu selamat sampai rumah lagi. Nanti tlepon mas mu suruh njemput di terminal. Kamu jangan wira-wiri diterminal, tunggu saja masmu sampai datang. Kamu bawa saja belati kecil bapakmu itu, untuk jaga-jaga kalau ada yang macam-macam. Dua hari lagi kamu harus sudah balik bener lho le. Pokoknya lusa pagi emak tunggu di pagar rumah sampai kamu datang. Ati-ati ya le.” tak henti-henti isak tangis Ruminah menyela nasihat-nasihatnya itu.&lt;br /&gt;            “Iya, Mak. Emak nggak usah kuatir, Burhan akan ati-ati seperti pesan emak. Burhan juga nanti pasti ndak sabar pengen makan sambel terasi emak lagi kok.” hibur Burhan. Tapi tangis Ruminah malah makin menjadi-jadi.&lt;br /&gt;            “Ya sudah, sudah. Itu dokarnya sudah nunggu dari tadi, kasihan Mas Kandar nunggu kelamaan.” Mahdun menyela.&lt;br /&gt;            “Wis ya Mak. Burhan pergi dulu.”&lt;br /&gt;            “Ndang balik yo le...” Ruminah menyembunyikan isak tangisnya di punggung Mahdun.&lt;br /&gt;            Memang Burhan mengatakan pada emaknya hanya akan dua hari dikota, tapi dalam hatinya, kalau memang ada peluang bagus di kota dia akan terus menetap di sana. Dan akan pulang dua minggu sekali. Kata ayahnya kalau dilakukan seperti itu, emaknya lama-lama akan terbiasa. Semalam Mahdun juga sempat berpesan “Kalau di kota kau cuma jadi kuli batu mending dikampung saja, macul”. Ya!” Jawab Burhan setuju.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;                                                                                ***&lt;br /&gt;            “Terminal turun sini! Bus nggak masuk terminal!” suara parau kondektur bus menggelegar.&lt;br /&gt;            Hampir semua penumpang bergegas turun. Burhan tak tahu apa yang harus ia lakukan. Orang disebelahnya turun. Burhan bingung, ia pun ikut turun. Sudah hampir jam sembilan malam. Ditepi jalan itu Burhan kebingungan, dia ingin bertanya tapi malu. Orang-orang yang turun bersamanya tadi dengan tangkas satu persatu naik berbagai angkutan kota beraneka warna. Burhan masih kebingungan. Ia menoleh kanan-kiri mencari telpon umum yang seperti di film-film layar tancap. Tapi tidak ada telpon umum, telpon-telpon umum sudah digantikan Wartel. Ia tak tahu apa itu Wartel. Burhan berjalan sedikit ke kiri. “Ha! Itu dia.” Ia melihat kotak telpon umum. Dihampirinya, namun ia bingung di mana harus memasukkan uang receh seratusan. Memang tidak ada lubang itu, karena telpon koin sudah digantikan telpon kartu atau chip. Burhan bingung lagi. Baru kemudian ia rasakan agak pusing kepalanya, sehingga muncul keinginan untuk sekedar secangkir kopi.&lt;br /&gt;Dilihatnya warung remang-remang diujung pagar beton. Dengan penuh keyakinan Burhan melangkah menuju warung tersebut. Nampaknya ini adalah langkah terakhir yang ia lakukan dengan penuh keyakinan.&lt;br /&gt;            “Makan, Mas?” suara cempreng penjual warung nan gemuk.&lt;br /&gt;            “Ndak mbok, saya mau kopi anget saja.” jawab Burhan singkat.&lt;br /&gt;            “Wah, cah bagus senang yang anget-anget ya?” kelakar mbok gembrot.&lt;br /&gt;            “Iya.” jawab Burhan polos.&lt;br /&gt;            Spontan semua orang seantero warung terpingkal-pingkal. Burhan masih tidak mengerti apanya yang lucu. Ia hanya senyum-senyum saja, lalu melihat sekeliling. Di kursi pendek dekat kompor duduk empat orang lelaki sedang main kartu sambil sesekali mengumpat. Tiga perempuan umur empat puluhan, berkaos ketat hingga nampak lipatan-lipatan perutnya, duduk di bongkahan beton setengah meter samping kanan warung. Di sebelahnya dua orang pemuda hitam legam berambut kemerahan senyum-senyum sambil menunjuki tiga perempuan tadi. Dibelakang Burhan, tertutup kain warung, terdengar suara kemresek, dan bunyi “Ah. Uh. Ah. Uh!” Burhan tak mengerti.&lt;br /&gt;            Lima belas menit, kopi pun tinggal setengah. Burhan bermaksud bertanya pada mbok gendut tentang keberadaan telpon umum. Tapi...&lt;br /&gt;            “Garu’an! Garu’an!”&lt;br /&gt;            Burhan kaget setengah mati. Mendadak sontak semua orang pontang-panting. Dari belakangnya tiba-tiba menyembul seorang lelaki yang langsung kabur tanpa celana. Burhan bingung, ikut lari!&lt;br /&gt;Tak sampai dua meter Burhan ketangkap, orang-orang berbaju hijau mentah menggeledah tas Burhan.&lt;br /&gt;“Ada pisau!” teriak pak Kumis&lt;br /&gt;“Bawa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                  ***&lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;            “Dasar bocah kampung edan! Sana, masuk truk!” bentak pak Kumis.&lt;br /&gt;            Di kantor polisi Burhan ditanya macam-macam oleh pak Kumis. Ia sangat takut, wajahnya pucat pasi seperti pantat sapi pak Renggo di desa. Tak satupun pertanyaan pak Kumis dijawabnya dengan baik. Burhan hanya mampu bilang inggih, mboten, dan kirangan. Ya, hanya tiga kata itu yang sanggup keluar dari mulutnya.&lt;br /&gt;            Burhan dipapah dengan kasar, lalu dijungkalkan kedalam truk bercampur puluhan preman, gembel, pelacur, begundal, begajul dan sebagainya. Lantas, truk bergoyang-goyang melaju entah kemana.&lt;br /&gt;            “Turun! Pada minggat sana!” sentak pak Kumis sesampainya mereka di kelokan jalan aspal seperempat jam perjalanan dari kantor polisi pamong praja.&lt;br /&gt;            Semua orang berhamburan, termasuk Burhan. Ia lari sekencang-kencangnya tak tentu arah. Sampai di dekat gudang tua ia ambruk kelelahan. Tas bekal dari emaknya masih didekap. Ia pun tertidur. Jam setengah dua malam.&lt;br /&gt;            “Brak!” punggung Burhan tiba-tiba disepak sangat keras.&lt;br /&gt;            “Mana duwit mu!” pemuda gondrong menyentaknya.&lt;br /&gt;            Burhan diam, wajahnya kecut. Spontan, ia mendekap tasnya erat-erat.&lt;br /&gt;            “Ambil tasnya!” sentak dua orang teman pemuda gondrong.&lt;br /&gt;            Si gondrong lantas menarik tas dari dekapan Burhan. Burhan melawan. Ia meronta-ronta. “Plak!” tak sengaja kakinya mengenai wajah si gondrong.&lt;br /&gt;            “Bocah asu! Tak pateni kamu!”&lt;br /&gt;            Si gondrong mengambil potongan kayu. Dipukulnya kepala Burhan keras-keras. Teman-temannya ikut menghajar ramai-ramai. Darah Burhan mengucur di sana-sini tak keruan. Tendangan masih terus melaju, perut dada, kepala!&lt;br /&gt;            Burhan tersungkur, tubuh kurusnya berguling masuk selokan kering. Berkelejotan sebentar. Burhan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                           ***&lt;br /&gt;            Sudah tiga bulan Ruminah setiap pagi selalu berdiri dipagar rumah. Sesekali kakinya jinjit-jinjit berusaha dapat melihat jauh keujung gang. Setelah agak siangan ia masuk kegubugnya, lalu ke dapur dan membuat sambal terasi. Dipojok dapur lusuh itu ada sekitar seember sambal terasi yang telah busuk mengonggok.&lt;br /&gt;Selepas senja, Ruminah duduk di dipan beranda rumah sambil bersenandung “...anakku sing bagus dewe... gemuyumu saben isuk sing nyumringahke ati ibu, ojo nganti ilang sak lawase...”&lt;br /&gt;Kalau Mahdun tak membujuknya mati-matian, sampai pagi pasti Ruminah akan terus begitu, utuk kemudian kembali menuju pagar. Adik-adik Burhan telah hampir dua bulan ini ikut anak tertua mereka di kota. Kakak Burhan hingga hari ini pun masih tidak mengetahui di mana keberadaan adik laki-lakinya itu.&lt;br /&gt;Suara gemeletak yang muncul dari deritan tempat tidur Mahdun tiap fajar, terdengar ditelinganya seperti bunyi kiamat. Sudah sembilan puluh hari suara gemeletak itu muncul mengiringi istri gilanya yang tercinta berhambus kepagar. Menunggu kedartangan anak kesayangan yang tak akan pernah tiba. Setiap fajar hati Mahdun seperti disayat-sayat. Air matanya selalu menitik, rasa bersalah menyelimuti. Kalau saja ia tak mengijinkan Burhan pergi, Ruminah tak akan seperti ini.&lt;br /&gt;Kakak Burhan pernah menawarkan untuk memasukkan Ruminah ke rumah sakit jiwa, ladang dijual dan Mahdun tinggal dirumahnya. Mahdun menolak. Janji tiga puluh tahun lalu untuk hidup bersama, masih lekat di lubuk hati Mahdun.&lt;br /&gt;Malam ini Mahdun sudah tak kuasa lagi melihat derita istri tercintanya.&lt;br /&gt;“Besok akan kucuri ‘pagi’! Agar Ruminah dapat kembali waras seperti dulu!” katanya dalam hati.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;            Mahdun sudah siap dengan kain hitamnya. Sebentar lagi fajar menyingsing. Perlahan-lahan dibentangkannya kain hitam itu. Tangan kanannya lurus dengan bahu, sedang yang kiri bersedekap. Keduanya memegang ujung kain, persis seperti matador.&lt;br /&gt;            Satu, dua, tiga detik kilap matahari mulai menyembul.&lt;br /&gt;            “Yap!” satu kali hentak kain hitam mengembang menyelimuti kilap fajar!&lt;br /&gt;            Lalu digulung-gulungnya kain hitam itu sehingga tak sedikitpun celah bagi ‘pagi’ untuk bisa keluar. Mahdun pulang dengan ceria. Terbayang dibenaknya wajah manis Ruminah yang waras dan penuh gelegak emosi seperti dulu.&lt;br /&gt;                Setiba dirumah, ia melihat Ruminah sudah dipagar sembari sesekali menjinjit. Lalu kedapur untuk membuat sambal terasi.&lt;br /&gt;            Esok malamnya, Mahdun kembali keluar dengan membawa kain hitam menuju bukit kecil ditepian desa.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandar Lampung, April 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-7443842434205270035?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/7443842434205270035/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=7443842434205270035' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/7443842434205270035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/7443842434205270035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/08/pencuri.html' title='Pencuri'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-8129268318166711407</id><published>2008-08-19T10:18:00.000-07:00</published><updated>2008-08-19T10:20:38.738-07:00</updated><title type='text'>Menelpon Tuhan</title><content type='html'>Lucu juga nih..&lt;br /&gt;&lt;embed src="http://images.multiply.com/multiply/multv.swf" type="application/x-shockwave-flash" flashvars="first_video_id=t4n4:video:20&amp;amp;base_uri=multiply.com&amp;amp;is_owned=1&amp;amp;security=4pvDo4e7FpLi%2ClQj%2CcrWtA" allowfullscreen="true" wmode="transparent" quality="high" height="420" width="480"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-8129268318166711407?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/8129268318166711407/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=8129268318166711407' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/8129268318166711407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/8129268318166711407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/08/menelpon-tuhan.html' title='Menelpon Tuhan'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-6061239628083130840</id><published>2008-08-16T21:25:00.000-07:00</published><updated>2008-08-16T21:29:22.967-07:00</updated><title type='text'>Nasionalisme: Penting ya?</title><content type='html'>Sabtu petang di ujung semester musim panas. Ketimbang pergi ke downtown, menelpon beberapa kawan untuk menenggak minuman surgawi, atau nonton TV dan menggelembungkan diri dengan potato chips; kuputusin malam ini untuk bersemayam saja di kamarku yang permai. Menuliskan rasa, untuk tempat bermainku yang baru: Kedai Kopi Susu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari keenam belas di bulan Agustus. Pasti di kampungku sekarang sedang meriah-meriahnya anak2 pada lomba panjat pinang, makan kerupuk, membawa kelereng di atas sendok, tak lupa makan-makan bersama tetangga di malam tirakatan. Panggung hiburan dengan musik dangdut dan campursari yang sensasional menambah rasa gegap gempitanya sebuah perayaan. Aku selalu kalah dalam setiap pertandingan waktu itu, saat pulang hanya tubuh lengket berkalang debu yang didapati ibuku ketika membukakan pintu rumah untukku. Masa kecil... seperti baru kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm... besok siang, tanpa kerupuk, tanpa pohon pinang, tanpa upacara bendera, kami di Austin akan merayakannya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perayaan. Perayaan apa?! Kemerdekaan. Merdeka apanya?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan seperti itu kerap terlontar pedas dari mulut para intelektual. Terlebih dengan melihat kenyataan: masih banyaknya penggusuran di mana-mana, anak miskin tidak bisa sekolah, Korupsi, konflik antar suku, aktifis diburu, di siksa dan bahkan dibunuh. (Hari ini belum genap seminggu Romo Benny Susetyo (aktifis HAM sekaligus mentor aku dalam dunia pergerakan terkapar di rumah sakit akibat gebukan ‘orang tak dikenal’). Lalu mereka berkata: “kita belumlah merdeka!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku sekarang pernyataan-pernyataan seperti itu terlalu berlebihan. Sebab negara mana dikolong jagat ini yang’merdeka’ kalau standar kemerdekaan yang dipakai semacam itu. Kolombia sampai hari ini masih terjadi perang saudara, kasus korupsi di PEC sebagai koperasi terbesar di US masih menjadi headline, di Brasil brutalitas polisi terhadap kaum miskin kota Sao Paolo makin sadis, di Rwanda pembantaian suku Tutsi oleh suku Hutu masih menghantui, China dengan kontrol ketat pemerintah atas akses internet, dll. Jadi semua negara di dunia ini tidak [belum] ada yang merdeka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, dari pada ngomongin “kemerdekaan” aku lebih tertarik ngomongin topik usang saja: Nasionalisme! Kenapa usang? Sebab sejak SD sampai kuliah berbagai penataran P4, PSPB, Kewiraan... (sorry kalau istilah2nya terlalu jadul/ kata kawan dari Jogya: Jadul=Janda Gunung Kidul) semuanya udah mencekoki tentang penting dan luhurnya sebuah nilai yang disebut Nasionalisme. Dari beberapa tulisan dan diskusi2 yang berkembang di kalangan mahasiswa-mahaiswa Indo di luar negeri (terutama di Austin) juga sempat mengemuka tentang pentingnya mencintai nasionalitas kita. Mencintai sebuah organisasi yang bernama: Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emang penting ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan adalah alat pencerdasan sekaligus alat pembodohan adalah benar. Contoh, semenjak sebelum keluar dari Indonesia, aku kira agama di dunia itu cuman Islam, Kristen, Katolik, Budha dan Hindu. Tahu juga sih ada agama yang namanya Yahudi, tapi itupun dengan konotasi yang jelek amat. Pengetahuan tentang agama Yahudi itu seolah-olah agama ini sebagai aliran sesat. Tetapi setelah sampai sini, bertemu dengan orang-orang dari Israel dan beragama Yahudi ternyata mereka ya biasa-biasa aja. Pun pendidikan di Indonesia tida pernah mengenalkan ada agama Bahai misalnya. Masih banyak contoh-contoh lain tentang bagaimana pendidikan menjadi alat pembodohan yang bisa kita temui kalau sabar menelisiknya satu persatu. Nah, nasionalisme rupanya juga salah satu proyek pembodohan dalam pendidikan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak literatur di studi-studi politik internasional dan studi postkolonialisme, nasionalisme merupakan sebuah hot topic. Tetapi secara mengejutkan rupanya term ini selalu saja dibicarakan dalam konteks negatif. Bennedict Anderson misalnya, dalam bukunya yang amat kesohor “Imagine Community”, mengatakan bahwa nasionalisme itu adalah produk penjajahan (Western) yang paling besar. Sebab di dalam nasionalisme itu terkandung adanya budaya sentral (modular form) yang mengontrol perkembangan masyarakat pinggiran (periphery). Bagaimana mungkin, katanya, seorang anak di Papua yang gak pernah ketemu dan berkenalan dengan seorang anak di Aceh (bahkan berbahasa dan bergaya hidup sangat berbeda) bisa sama-sama menggenggam identitas yang sama: anak Indonesia?! Itu absurd dan hanya berada pada dunia imajiner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikir2 postkolonial revolusioner semacam Julia Kristeva dan Partha Chaterjee juga sempat menggugat pemimpin-pemimpin yang menggunakan kekuatan term nasioalisme untuk memanipulasi kesadaran rakyat agar mau berperang, adu nyawa demi kepentingan elite.&lt;br /&gt;Nasionalisme juga telah membungkus otak para pengikutnya untuk menuruti sebuah standard normal dari sebuah bangsa tertentu yang seringkali paradoks. Contoh konkretnya, kembali ke soal agama, di Indonesia hanya di kenal 5 agama (sekarang mungkin sudah 6). Dan parahnya, semua agama yang diakui itu adalah agama-agama import, yang secara sistematis dan formal membunuhi keberadaan agama-agama asli bangsa-bangsa di Indonesia. Kasus yng terjadi di Tengger misalnya, para pengikut Ajisaka (yang hidup di tahun 500an Masehi), dipaksa oleh negara untuk memeluk agama Hindu karena alasan yang konyol, “sorry... agama kalian tidak ada dalam daftar!” Hal yang sama juga terjadi di suku Kaharingan di Kalimanatan, Badui dan aliran kepercayaan di Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa (Nation), Negara (State) dan kepentingan elite telah bertumpang tindih yang kemudian memproduksi buku-buku sejarah yang hadir di ruang-ruang sekolah. Yang mungkin juga turut membahana bersama alunan musik dangdut di panggung-panggung 17 Agustusan di kampung-kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia adalah negara bangsa. Itu adalah pernyataan yang selalu di dengung-dengungkan. Ini sekali lagi adalah sebuah bentuk pembelokan dari proses pendidikan formal kita. Kalau ngeliat penjelasan di buku-buku politik (yang paling nonjol Alexander Wendt misalnya) keliatan banget bahwa negara-bangsa (nation-state) itu adalah sebuah negara yang didirikan berdasarkan kesamaan kebangsaan. Dan bangsa itu tidak lain dan tidak bukan adalah bangsa Jawa, bangsa Minang, bangsa Dayak... nggak ada bangsa Indonesia, yang ada adalah Negara Indonesia. Kata si Wendt Indonesia itu bukanlah nation-state tetapi international-state, negara yang terdiri dari kumpulan/beberapa nation. Seperti juga Amerika Serikat, tidak pernah ereka meng-klaim diri sebagai nation-state karena kenyataannya emang bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kenapa elite kita koq ngotot banget mengatakan bahwa Indonesia adalah nation-state? Inilah kepentingan elite yang tadi sempet dibilang sama si Bennedict Anderson, ini pula yang dilakukan para pelaku-pelaku kolonial terhadap koloni-koloni mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa artinya “Mencintai Indonesia”? Apakah ada nasionalisme Indonesia? Apa pentingnya menjaga keutuhan dari Sabang sampai Merauke, dari Kupang samapai ke Talaut? Apa pentingnya teriak-teriak sampai serak nyemangatin Taufik Hidayat? Kalau ternyata semua itu hanya untuk melanggengkan kekuasaan elite?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pentingya Indonesia dapat ratusan emas kalau ratusan juta orang hidup miskin? Apa pentingnya negara besar tapi korupsinya juga lebih besar? Apa pentingnya Garuda tegak perkasa bila masih banyak anak-anak jalanan yang menghirup gas racun dari kaleng lem cap Radjawali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan pertanyaan tentang arti kemerdekaan, ini adalah pertanyaan tentang arti Indonesia.&lt;br /&gt;Pertanyaan tentang “apakah kita sudah mencintai sesuatu yang benar dan dengan cara yang benar pula?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti aku udah bilang sebelumnya, mencintai Indonesia itu nggak lebih dari sekedar mencintai sebuah organisasi belaka. Kayak kita mencitai RT kita, mecintai sekolah kita, atau mencintai blog kita. Masih ngiblat sama si Anderson, kecintaan kita pada komunitas, keluarga, kawan-kawan itu jauh lebih sejati ketmbang kecintaan kita pada negara yang sebenarnya hanyalah imajiner. Ada ratusan negara di dunia ini... ternyata mereka semua “menjadi dan ada” hanya karena sebuah khayalan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku sempat berpikir bahwa daripada capek2 ngomongin nasionalisme yang absurd itu, kenapa nggak ngomong yang konkret-konkret aja; seperti mbantu anak putus sekolah, layanan kesehatan untuk orang miskin, berantas korupsi, jaga kerusakan lingkungan hidup dari para pebisnis serakah, dll. Bukanya melakukan hal-hal itu lebih asik dan nggak ada dilema moral di dalemnya? Bukankah hal-hal riil itu lebih penting ketimbang ngurusin nasionalisme????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ups... masalah belum kelar sampe di situ doang rupanya. Beberapa kawan di blog ini udah nyampein betapa parahnya ketidakpedulian sebagian kita (yang hidup beruntung bisa kebetulan lahir dari rahim orng kaya) terhadap Indonesia. Mereka hidup cuman foya-foya, cengengesan sana-sini, dan hanya akan menangis kalau diputusin pacar. Apa betul kita butuh nasionalisme dalam menghadapi soal-soal seperi mereka ini? Atau tentang aliran duit dari Indo ke US yang tidak mendapatkan pembalikan sepadan karena brain drain, tahun 2004 saja tercatat ada 9,000 mahasiswa Indo di US. Diambil rata2 tuition fee 20,000 dan living expenses 1,500 perbulan (stadard minimum mhs UT Undergrad) makatiap semester ada sekitar $234 Juta ngalir dari Indo ke US!!!! Jadi setahun bisa hampir $1 Miliar! apakah dengan adanya fenomena ini “Nasionalisme” yang semula gak penting jadi penting lagi? Beberapa penulis pro-nasionalisme bilang kalau suksesnya Korea Selatan sama India (yang ini masih dlm proses sih) akibat danya kecintaan para mahasiswa yang kuliah di US di tahun 70an-80an untuk cepat2 balik setelah selesai belajar dan ngebangun negaranya. Jumlah mahasiswa Korea di US ada enam kali lebih banyak dari Indo, itu berarti mereka masukin duit dari Korea ke US juga enam kali lebih banyak, tapi sekarang mereka udah menikmati hasilnya. Sementara kita, apa kembalian yang kita dapet setelah “nyumbang” Amerika segitu gedhe tiap tahunnya?? Itulah kira-kira argumentasi para pro-nasionalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta-fakta kontemporer semacam itu seolah kembali mengukuhkan bahwa nasionalisme bukan lagi soal khayalan atau imajinasi seperti yang dibilang Anderson, nasionalisme udah nemuin dunia realitasnya. Aku setuju, tapi bukan pada alasan itu aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi aku, nasionalisme adalah soal menjadi anggota sebuah organisasi yang baik aja. Nasionalisme bukanya soal “right or wrong is my country” karena itu adalah nativisme. Nasionalisme juga bukan musuhnya internasionalisme (seperti gerakan agama dan kemanusiaan). Nasionalisme bagi aku adalah wilayah otoritas sebuah organisasi yang bernama negara untuk ngedistribusiin sumberdaya yang dia punya dan menyejahterakan anggota-anggota [baca:warga negara] nya. Mencintai negara Indonesia itu: sebagaimana mencintai RT kita, maka ikutan ronda biar ga ada maling masuk kampung. Sebagaimana mencintai sekolah kita, kita jaga nama baiknya biar gak terkenal sebagai sekolah yang tukang tawuran. Sebagai warga sebuah blog yang baik.. yaahh... nulislah sesuatu untuk blognya meskipun ngelantur kesana kemari: yang penting seru!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pizz..Merdeka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Fadhil Putra&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-6061239628083130840?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/6061239628083130840/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=6061239628083130840' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/6061239628083130840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/6061239628083130840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/08/nasionalisme-penting-ya.html' title='Nasionalisme: Penting ya?'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-1569008479163018257</id><published>2008-08-16T19:14:00.000-07:00</published><updated>2008-08-16T21:13:08.453-07:00</updated><title type='text'>63 Tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://hakimtea.com/catatan-hari-ini/tema-dan-logo-63-tahun-negeriku/"&gt;&lt;img class="alignnone size-full wp-image-505" title="Pasang Logo HUT RI ke-63 di Blog Anda" style="BORDER-RIGHT: black 1px solid; BORDER-TOP: black 1px solid; BORDER-LEFT: black 1px solid; BORDER-BOTTOM: black 1px solid" height="250" alt="" src="http://hakimtea.com/wp-content/uploads/2008/08/hut-ri-63-250x250px-2.gif" width="250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;17 Agustus, 63 tahun yang lalu, Bung Karno dan Bung Hatta membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. 63 tahun sudah kita menikmati hidup merdeka dari penjajahan bangsa lain. Sebuah perjalanan yang cukup panjang, dan telah kita lalui dengan banyak airmata dan darah. Di era 1940-an bangsa kita memanggul bambu runcing, parang, dan senjata tradisional lainnya untuk mengusir penjajah Belanda, Jepang, dan antek-antek mereka. Mereka berjuang dengan motto "merdeka atau mati", dengan harapan generasi berikutnya dapat menikmati hidup merdeka dan sejahtera. Satu pertanyaan mengusik benakku: sudahkan bangsa Indonesia benar-benar merdeka?&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Saya teringat pada satu kejadian menarik saat masih tinggal di Surabaya.  Waktu itu saya perlu ke kantor pos besar Surabaya di daerah Jembatan Merah untuk mengambil paket kiriman dari mantan pacar (sekarang suami, red.).  Saat antri, di depan saya berdiri seorang bapak paruh baya dengan pakaian batik yang warnanya sudah memudar, bersandal jepit, dan menggenggam sepucuk surat panggilan.  Saat namanya dipanggil, wajahnya yang semula tampak lelah berubah sumringah.  Tak lama kemudian, petugas menyerahkan sebuah bungkus kardus yang sudah terbuka, isinya (well, saya bisa melihat dengan jelas saat itu) ada sejumlah pakaian, celana jeans, kotak lampu neon, dan sepucuk surat beserta sejumlah foto.  Bapak itu kemudian mencocokkan isi surat (yang ternyata dari anaknya yang menjadi TKW di Singapore) dengan barang-barang di kotak kardus.  Kemudian dia berkata,"Maaf pak, kok &lt;em&gt;&lt;strong&gt;handphone&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; nya tidak ada disini? Anak saya bilang dia kirim handphone, dan dibungkus rapi di kotak bekas lampu neon. Tapi kok nda ada ya pak?"  Si petugas mengecek ulang, dan memang si hp ini tidak bisa ditemukan. "Lha di label kirim tidak disebutkan kalau ada handphone.  Salah anak bapak sendiri, mestinya dia sebutkan disini. Kalau hilang begini ya bukan tanggungjawab kantor pos pak."  Setelah diceramahi mengenai "tata tertib" berkirim barang, si petugas minta bapak itu mengkontak anaknya, lalu kembali lagi lain hari.  Giliran saya, paket (seperti juga paket si bapak itu) sudah terbuka, di "periksa" (bahasa jawanya &lt;em&gt;di odhel-odhel&lt;/em&gt;)  dan di &lt;em&gt;rewrapped &lt;/em&gt;(dengan ongkos dibebankan ke penerima).  Tapi, nasib saya lebih baik, karena isi paket utuh, meski sejumlah CD cover pecah.  Saat saya berbalik, saya lihat bapak lugu itu duduk di lantai, dengan paket terbuka disisinya, menggenggam foto dan surat anaknya, dengan pandangan menerawang jauh, dan... airmata berlinang.  Saya jadi iba.  Saya ikut duduk disisinya dan mencoba mengajaknya bicara.  Dan meluncurlah kisahnya: anaknya terpaksa jadi TKW di Singapore, karena si bapak tak lagi punya lahan untuk bercocok tanam. Seorang pengusaha, dengan backing aparat desa, memaksa sejumlah pemilik lahan untuk menjual tanahnya dengan harga dibawah rata-rata, dengan alasan akan dibangun jalan dan fasilitas umum.  Ternyata yang dibangun adalah kawasan pertokoan dan pasar.  Istrinya mengalami tekanan batin dan sakit.  Anak gadisnya akhirnya menerima tawaran seorang agen untuk menjadi TKW.  Selama setahun dia tak bisa menerima gaji penuh, karena sebagian besar untuk membayar fee si agen.  Dan sekarang, saat dia sudah bisa menabung dan mengirimi orangtuanya handphone, dengan harapan akan memudahkan komunikasi, mimpinya hancur.  Saya ikut prihatin dan sedih. Betapa teganya orang yang berbuat demikian terhadap keluarga miskin ini.  Dengan memanfaatkan celah "pemeriksaan bea cukai", mereka "sortir" barang-barang yang tidak "diklaim" dalam "shipping declaration".  Lalu apa gunanya kita punya mesin X-ray di port dan bandara ya, kalau ternyata akhirnya kita masih pakai teknologi "manual checking" begitu? Heran deh!&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Nah, sekarang, bisakah kita mengaku diri merdeka di tengah-tengah saudara-saudara sebangsa yang hak-haknya terabaikan? Tertindas? Teraniaya? Terbungkam oleh karena sistem yang dibuat oleh bangsa kita sendiri? Saya sendiri malu mengaku diri merdeka, sementara saudara-saudara kita di Papua sana masih memakai koteka, padahal sumber daya alamnya sungguh besar.  Tapi kemana gerangan hasil olah sumber daya alam nasional ini?  Sudahkah pemerintah kita mendistribusikannya secara adil?&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kembali ke bapak lugu tadi, saya hanya bisa memberi direction kemana dia bisa mengadu. Termasuk nomer telpon saya dan telpon seorang rekan wartawan yang mungkin bisa meliput kisahnya.  Tapi, sebagaimana sosok lugu rakyat jelata umumnya, dia menerima kejadian ini sebagai "nasib".  "Saya sudah lega, anak saya baik-baik saja di negeri seberang", demikian ujarnya.  Setelah ucap salam berpisah, dia menuntun sepeda tuanya, dengan paket terikat di belakang, kembali mengayuh perjalanan kembali ke desa berpuluh kilometer jauhnya. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Selamat Hari Proklamasi, pak...&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-1569008479163018257?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/1569008479163018257/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=1569008479163018257' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/1569008479163018257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/1569008479163018257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/08/63-tahun-proklamasi-kemerdekaan.html' title='63 Tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia'/><author><name>Maria Coleman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15908961243250368391</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xKb-IYv1bRE/SKeoIgzrx4I/AAAAAAAAADI/njWH6rR6v1I/S220/self.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-2890568059023986731</id><published>2008-08-16T15:24:00.000-07:00</published><updated>2008-08-16T15:27:01.468-07:00</updated><title type='text'>Kabar dari Austin</title><content type='html'>&lt;p&gt;Pukul 7:30 pagi, menjelang Fall season udara Austin terasa sejuk segar persis seperti di Malang pada bulan-bulan yang sama. Di hari kerja, pagi begini, biasanya saya sudah siap-siap mandi untuk berangkat kuliah pagi. Tapi minggu ini, ditemani kopi Aceh sisa semalam, saya duduk didepan mesin ketik menuliskan “kabar dari Austin” untuk pembaca sekalian yang budiman dan sangat saya rindukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah karena rasa rindu akan Malang yang begitu menyengat atau apa, tapi setelah empat bulan tinggal di Kota Austin, saya merasakan banyak kemiripan antara kota ini dengan Malang tercinta (tentu saja di tengah banyaknya perbedaan). Perasaan ini pulalah yang membuat hati saya tergerak untuk menuliskan beberapa kisah yang sempat singgah di mata dan telinga saya, untuk saya bagikan. Kalau tidak dapat dijadikan sebagai sumber insiprasi, setidaknya tulisan ini dapat menjadi teman menyantap sepiring nasi jagung, pecel dan secangkir teh hangat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Austin memang ibukota nagara bagian Texas, salah satu negara bagan terbesar di US, tapi bukan berarti ia merupakan kota terbesar di Texas. Bisa di bilang ia merupakan kota terbesar keempat di negara bagian ini setelah Houston, Dallas dan San Antonio. Dengan jumlah penduduk berkisar 800 ribu jiwa, menjadikan Austin pantas di sebut sebagai minipolitan. Aktivitas harian masyarakat cukup dinamis tetapi tidak bising, kondisi jalan kota yang cukup sibuk tapi tak ada kemacetan yang berarti serta polusi yang bertaraf sedang di tengah beberapa industri yang berjalan menggerakkan ekonomi kota. Deskripsi di atas sangat mirip dengan keadaan yang ada di Kota Malang, beberapa kalangan pun menyebut Kota Malang sebagai minipolitan. Yakni sebuah kota dengan fasilitas metropolitan minus kepadatan, kebisingan dan keruwetannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti juga Malang, Austin merupakan kota sasaran bagi para penduduk yang mencari tempat bermukim yang nyaman. Udara yang sejuk, kondisi kota yang masih relatif rindang, tempat wisata alam yang segar dikombinasi dengan fasilitas modern seperti pusat perbelanjaan dan layanan finansial yang nyaman. Hal ini pulalah yang menyebabkan bisnis property di Austin juga merupakan salah satu sektor bisnis yang paling menggiurkan bagi para investor utamanya di bidang properti. Rumah yang kami sewa memiliki tiga kamar, satu kamar mandi, ruang tamu dan dapur, untuk itu kami harus membayar $1195 perbulannya atau sekitar Rp 11 juta rupiah! Sebelumnya, waktu tinggal di apartemen dengan ukuran kamar yang sangat kecil (+/- 3,5 m2) - hampir sebentangan tangan saja - saya harus merogoh uang beasiswa hingga $430 perbulan (+/- Rp. 4 juta). Itu semua belum termasuk jaringan internet, listrik, air dan sampah, yang kira-kira perbulannya total harus membayar Rp. 500 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar tak masuk akal? Tapi jangan salah, kondisi dan fakta-faka makro ekonomi jelas harus di pertimbangkan, misalnya standard gaji minimum di sini berkisar $1,000 (dengan asusmsi $6/jam fulltime) atau Rp 10 juta sedangkan di Indo hanya Rp 700 ribuan. Sebungkus rokok Marlboro di sini berkisar Rp 50 ribu perbungkus. Dsb dst..  tetapi setidaknya itulah ilustrasi bagi kawan-kawan yang berkeinginan sekolah ke Austin dengan biaya sendiri. Atau bagi mereka yang coba-coba berkalkulasi berapa banyak duit yang harus di rogoh para orang tua yang menyekolahkan anaknya di US. Atau lebih jauh lagi, mungkin bisa membantu menjawab rasa penasaran berapa banyak duit Indonesia yang di sedot US tiap bulannya dengan bisnis pendidikan yang mereka jalankan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya karena suasana kota yang sejuk dan nyaman. Secara sosial, suasana akademik dan kedewasaan cara beripikir dan intelektualitas masyarakat Austin cukup tinggi. Buktinya adalah ditengah konservativisme Texas yang cukup terkenal, Austin adalah sebuah perkecualian. Contohnya, konservativisme masyarakat Texas umumnya tercermin dari sikap yang kurang welcome dengan pendatang, rasisme, US sentris, dan fanatisme agama. Sikap-sikap konservatif tersebut sukar ditemui di Austin, sehingga membuat Austin sangat nyaman bagi kulit putih, hitam, kuning, maupun sawo matang yang agak kusam seperti saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa masyarakat Austin begitu berbeda dengan masyarakat Texas pada umumnya? Sebagian orang yang saya temui di sini dengan mantap menyebut karena adanya kampus-kampus (terutama UT Austin) yang sudah hidup dan bergesekan dengan masyarakat lebih dari 100 tahun. Hmm... bagaimana dengan keberadaan Universitas Brawijaya, Unmer, Unisma, UMM, dsb di Kota Malang. Tentu telah pula memberi dampak positif baik secara ekonomi dan sosial pada masyarakat Malang pada umumnya, toh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau di Malang kita punya Waduk Selorejo, Payung, Kebun Teh Wonosari, Wendit, dll, di Austin mereka punya Town Lake (Barton Spring), sumber mata air yang dikelola menjadi kolam renang, ada jogging track dan kano/persewaan sampan.... ini pula yang membuat di setiap weekend jalur dari kota-kota besar terdekat seperti San Antonio maupun Houston ke Austin cukup padat, sebaliknya pada minggu sore, banyak kendaraan yang meninggalkan Austin menuju kota-kota tersebut. Kalau anda sulit membayangkan kondisi ini, ingat-ingat saja bagaimana setahun lalu, sebelum malapetaka lumpur Lapindo terjadi, di jalur Malang – Surabaya mulai dari Singosari sampai Lawang selalu terjadi kemacetan di Jumat petang atau Sabtu pagi dari utara ke selatan, sebaliknya terjadi pada Minggu sore atau Senin pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedanya hanya terletak pada fasilitas jalan saja, karena di Amerika ada jalan tol yang sifatnya ‘intercity’ (antar kota) dan ‘interstate’ (antar negara bagian). Sehingga selalu ada laternatf bagi penguna jalan untuk memilih apakah akan memakai jalanan kota atau masuk jalan tol. Sejauh pengetahuan saya dalam mengunakan jalan tol di Austin gratis. Karena jalan disediakan oleh pemerintah dan bukan merupakan salah satu sektor bisnis seperti di indonesia. Kondisi jalannya sendiri sebenarnya tidak lebih baik dibandigkan jalan tol Gempol-Bunder, malah saya rasakan jalan tol Gempol-Bunder jauh lebih mulus dibandingkan jalan tol di sini. Memang cara yang lebih murah dan efesien untuk kasus Malang menghadapi efek bisnis wisata dan kemacetan ini adalah pembangunan ringroad atau flyover di tengah tersendatnya pembangunan jalan tol Malang – Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Townhall meeting atau pertemuan masyarakat kota untuk membahas topik-topik tertentu terkait dengan problematika yang ada di kota dan berkaitan dengan kepentingan umum, juga sering terjadi. Pengumuman tentang adanya townhall meeting ini tersebar melalui berbagai fasilitas, seperti koran lokal, radio, flyer, dan saya juga sering mendapat email tentang kegiatan ini (mungkin karena saya mengambil jurusan kebijakan publik maka jurusan saya mendaftarkan email kami ke administasi kota) sayangnya, hingga saat ini saya belum sempat mendatangi town hall meeting tersebut karena masih harus berurusan dengan menumpuknya kuliah, tugas, kuis, makalah, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anda berjalan-jalan ke Splendid depan Balai Kota Malang tentu anda akan merasa gembira karena dapat melihat burung aneka rupa dan tupai-tupai yang lucu. Di Austin anda akan menemui suasana seperti di Splendid tersebut hampir di setiap sudut kota. Perbedaannya cuma satu saja, kalau di Splendid burung-burung dan tupai itu di dalam kurungan, kalau di sini mereka bebas beterbangan dan berlarian dijalan, taman kota bahkan pekarangan rumah kita. Untuk mendengarkan kicauan burung yang indah saya tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam hingga ratusan ribu atau bahkan jutaan. Saya cukup bawa kursi plastik saya ke patio (pekarangan belakang rumah), secangkir kopi dan buku kesukaan, cukup; lalu burung-burung itu akan berkicauan silih berganti menemani teduhnya suasana sore atau pagi hari saya. Tapi hati-hati kalau bawa roti atau snack, kalau anda lengah si tupai-tupai nakal bisa loncat dan hup! Mengambilnya dari meja anda. Ini bukan rekaan, ini benar-benar terjadi. Bahkan menurut sahabat yang tinggal di daerah barat kota (far west), sekitar 7 kilometer dari downtown, pada malam hari rusa liar masih berkeliaran di pekarangan-pekarangan rumah atau jalan-jalan kecil di lingkungan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Penyatuan yang sempurna antara manusia, kota, burung,rusa dan tupai-tupai. Mungkin sebagian kita akan berpikir bahwa itu tidak mungkin terjadi di Indonesia, atau di Malang. Orang-orang kita pasti akan menembaki tupai dan burung-burung itu kalau mereka berseliweran di kota. Atau mereka akan menangkapnya lalu menaruhnya dalam kurungan. Pertanyaan saya, sejak kapan sebenarnya masyarakat kita menjadi begitu kejam terhadap binatang-binatang lucu ini? &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Masih banyak cerita yang hendak disampaikan, masih banyak kerinduan yang hendak dikenang, atau suka dan derita yang hendak dibagi. Dari Austin, Malang terasa begitu dekat untuk dilihat. Bukan untuk dijiplak, dicangkok apalagi (istilah anak-anak sekarang) di-copy paste, atas apa yang terjadi di Austin dengan Malang. Bukan pula Amerikanisasi yang hendak dicapai, sekedar berbagi cerita saja; ketimbang melamun saat sedang menyantap nasi jagung dan teh hangat... &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Oleh: Fadil Putra&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-2890568059023986731?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/2890568059023986731/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=2890568059023986731' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/2890568059023986731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/2890568059023986731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/08/kabar-dari-austin.html' title='Kabar dari Austin'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-1952717203084496528</id><published>2008-08-14T20:21:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T20:22:24.371-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>A large gift makes you feel small enough to embrace the need for a larger being who guides through a journey larger than life. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setra&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-1952717203084496528?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/1952717203084496528/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=1952717203084496528' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/1952717203084496528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/1952717203084496528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/08/large-gift-makes-you-feel-small-enough.html' title=''/><author><name>Setra Yappi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10046844846254499718</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-6651888321026140709</id><published>2008-08-13T21:35:00.000-07:00</published><updated>2008-08-13T21:39:58.370-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Transportation'/><title type='text'>Living by Public Transport</title><content type='html'>Most of us spend our lives travelling, to and fro, in private cars. Such vehicles have been embedded in part of our lifestyle that it is difficult to think about living without one. Most of us in Indonesia have our own cars, some citing that the public transport is not safe, or it is much more comfortable for us to go anywhere we want on a snap. Such is my reactions to anyone who challenges this view of personal freedom. But I don’t see any reason to be logically basing all these arguments, because public transport can and should be an integral part of our lives.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;First of all, we should look at the underlying reasons for wanting a personal car. While much differs, I could see a few different reasons, with each applying to a specific culture (in this case, Indo and US). Fear of taking public transport due to security is prevalent in Indo especially in Jakarta. I personally have heard stories of my cousin having been threatened at knife point for money. For safety reasons, we should not use our mobile phones while riding Angkot (angkutan kota) or you will have to part with your beloved phone. At night, situations can be worse, with gangs ambushing some innocent people due to mistaken identity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another would be the time constraint that one needs to go from one place to another. Assuming public transports as inefficient, as in many parts of the world, you would waste a lot of time waiting in the bus stands or train stations just to get to your destination. Freedom is also one of them. Going to wherever you want whenever you want seems to give a lot of Americans that feeling, which we as Indonesian students in America inherited, or at least been heavily exposed to.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finally, there is the comfortability factor. Being public transportion, obviously every vehicle is designed to carry as much people as possible. Some may cringe on the fact that they are sharing a seat with a “tramp sitting next to you and vomiting on you” (quote taken directly from Top Gear Season 10 Episode 1). While there is usually no vomit involved, there are homeless people riding on the bus. After all, it is public transportation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Overall, these reasons reflect our view of being in public, and ultimately can point out what is our worldview. But, I am not going to cover that section (leave it to Peter or Aldo to create one). Instead, I am going to focus on examples in hopes of debunking the notion that public transportation is undesirable.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The first brilliant example is of course Singapore. People who have studied there or just holidaying there will notice one commonality: lots of buses. Buses run generally on time, and the MRT system is not bad either. Not to say Japan of course, with its punctuality to the minute, Singapore’s transportation system has been above par on many levels. The amount of routes and schedules prompted the printing of a small book much like a phrase book that details the route all the buses travel, the approximate time the bus will reach that particular point, and even the fare (not that it matters much now) from one place to another. As a city smaller than New York, it is pockmarked with bus and MRT stations. However, unlike the subway system in New York, it is much easier to navigate in the jumbles of routes and roads and whatnot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The second example is Europe. Particularly Switzerland. Again, as Top Gear said in Season 5 Episode 8, the car had met its match in the Swiss public transport. It is unbelievably punctual. Very reliable, and at the same time clean. A tourist will not have to worry about the language barrier as well because the system is in a myriad of languages. An even though Swiss itself is smacked in the middle of the Alps, there is no shortage of tunnels for trains, railway tracks, and bridges for trains. All in all, it is a haven for public transportation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Why then, have these two different examples worked? Do they not have to contend with all of the issues above? Yes, they do. But instead of relegating public transport to a lower position, they have made a conducive environment so that the use of public transportations is encouraged. Both Singapore and Switzerland have tough vehicle laws that involve tax on purchasing vehicles, road tax, fuel tax, and other taxes that Americans cannot even comprehend. While this may border on infringement of liberty, the government gives them something else in return: efficient, relatively cheap, easy to ride, and clean public transportation. Therefore, there are no reasons as to why anyone would want a car anymore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The necessary infrastructures are not available in Indonesia and America to contend with this issue. This is a government effort that is needed to spearhead the movement to build and provide efficient and cheap public transportation system. In Austin, we have the UT shuttle. But of course, that is theoretically only for UT students. But, more crucially, the people do not have the culture necessary to embrace public transportations in their daily lives. What is at stake now is your own money. Do you want to pay more for fuel prices, service your car, and pay for insurance? Or you can just take the bus and pay a small fee to get there.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In my opinion, the public transportation still has a lot of ways to go. This inefficiency shown in the waiting time is again due to consumer demands. So unless there is a sufficient demand for the transportation services, they are not going to upgrade their buses, extend routes, and much less increase the frequency of the services. How do we create that demand? You can write and speak about them like I have just done. Or you can get on the bus, just as I always do.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By: Jeffrey Tanudji&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-6651888321026140709?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/6651888321026140709/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=6651888321026140709' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/6651888321026140709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/6651888321026140709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/08/living-by-public-transport.html' title='Living by Public Transport'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-4907515160445485977</id><published>2008-08-13T10:27:00.000-07:00</published><updated>2008-08-13T10:32:06.837-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='indonesia'/><title type='text'>Kota kecilku</title><content type='html'>Satu yang tak bisa lepas dariku&lt;br /&gt;Ingatan masa kecilku&lt;br /&gt;Kota kecilku, tanah airku&lt;br /&gt;Kuingin kembali, kuingin pergi&lt;br /&gt;Entah bagaimana caranya ku membagi diri...&lt;br /&gt;Kota kecilku, kapankah kau berkembang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku suka ketenanganmu&lt;br /&gt;Aku sebal kekuranganmu&lt;br /&gt;Aku pergi bukan karena benci&lt;br /&gt;Tapi aku ingin melihat dunia&lt;br /&gt;Jagad raya yang luas, bebas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang aku merindukanmu&lt;br /&gt;Suara-suara yang tak terdengar&lt;br /&gt;Tempat-tempat yang akrab di hati&lt;br /&gt;Tapi aku juga ingin tenggelam dalam keramaian kota&lt;br /&gt;Mencari jati diriku dalam lautan manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersabarlah kota kecilku...&lt;br /&gt;Aku akan kembali&lt;br /&gt;Setelah kutemukan jati diriku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by Melissa Anggraini 05.02.03&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-4907515160445485977?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/4907515160445485977/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=4907515160445485977' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/4907515160445485977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/4907515160445485977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/08/kota-kecilku.html' title='Kota kecilku'/><author><name>Melissa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06913206862589358033</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-7471739077467375456</id><published>2008-08-08T17:26:00.000-07:00</published><updated>2008-08-08T18:27:52.077-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='angka'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mitos'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='888'/><title type='text'>080808</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cK32P6USC-0/SJzycPKgp5I/AAAAAAAAAN8/1SbP3vfXyL8/s1600-h/888.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5232323434018547602" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_cK32P6USC-0/SJzycPKgp5I/AAAAAAAAAN8/1SbP3vfXyL8/s320/888.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Saya barusan selesai membaca harian-harian Indonesia. Koran Jawa Pos memberitakan setidaknya 54 bayi lahir di 8 rumah sakit di sekitar Surabaya pada hari ini, tanggal 8 bulan 8 tahun 2008 atau lebih ngetop dengan triple 8 (080808). Puluhan pasangan menyatakan janji perkawainan pula pada hari ini. Wow! Bisa kita bayangkan berapa puluh bayi baru akan lahir tahun depan.&lt;br /&gt;Hari ini ratusan juta pasang mata di seantero dunia tertuju ke Beijing. Ya. Acara pembukaan Summer Olympic dimulai malam ini (Central Time) atau siang hari waktu Indonesia Barat. Bagi masyarakat Cina, angka 8 dianggap berpetuah, karena bunyinya mirip dengan kata “makmur” dalam bahasa Mandarin dan Kanton. Di Amerika, jaringan hotel ternama, Super 8, bahkan memasang ‘super deal’ sebagai promosinya. Belum lagi satu organisasi unik, bernama “Expolitic Institute” yang menyatakan bahwa hari ini seluruh individu diseluruh penjuru galaksi memperingati lahirnya “Galactic Freedom Day”. Banyak orang mempertaruhkan uang di meja judi dengan memasang angka 8.&lt;br /&gt;Fenomena yang sama terjadi setiap tahun. Seperti tahun lalu yang jatuh pada tanggal 7-7-07. Las Vegas penuh dengan pejudi, senior maupun amatiran, yang memasang angka keberuntungan, yang di Amerika populer disebut “lucky number seven” ini. Hasilnya? Tak satupun yang menang dengan angka itu. Fenomena yang sama akan terjadi lagi tahun depan, tanggal 09-09-09. Karena bagi masyarakat Cina, angka 9 dekat dengan makna “panjang umur”. Dan, sekali lagi meja judi dan lotere akan mengeruk untung besar lagi.&lt;br /&gt;Bagaimana dengan “nasib” angka-angkat lain yang kurang beruntung? Seperti angka 4 yang dianggap sial karena bunyinya sama seperti kata “mati”, atau angka 13? Yah, sejauh-jauhnya angka ini akan dihindari. Jadi, maklum saja kalau di sebuah gedung di Cina tidak ada lantai bernomer 4, atau 14, atau 24. Atau di perumahan-perumahan di Surabaya, jarang ditemui rumah bernomer 13. Perlu bawa peta biar tidak tersesat. He..he..&lt;br /&gt;Sebenarnya kalau mau dinalar, tidak ada yang namanya angka keberuntungan, angka ajaib, hari baik, dan seterusnya. Itu adalah salah satu upaya marketing universal yang memanfaatkan sifat konsumerisme manusia. Dan tak bisa dipungkiri, upaya marketing ini sukses besar, terutama bagi mereka yang mengandalkan hidup pada ‘keberuntungan’ semata dan menolak realitas. Bagi saya semua hari adalah baik, semua angka adalah baik, tergantung kita sendiri bagaimana memanfaatkan setiap detik hidup yang kita jalani ini dengan mendayagunakan apa yang kita miliki untuk mencapai kebahagiaan lahir batin. Setuju??&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-7471739077467375456?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/7471739077467375456/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=7471739077467375456' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/7471739077467375456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/7471739077467375456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/08/080808.html' title='080808'/><author><name>Maria K. Coleman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17715674066252639696</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://www.somos-iguales.com/images/infobox/javawedding.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_cK32P6USC-0/SJzycPKgp5I/AAAAAAAAAN8/1SbP3vfXyL8/s72-c/888.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-723705775363034455</id><published>2008-08-08T09:59:00.000-07:00</published><updated>2008-08-08T10:23:51.944-07:00</updated><title type='text'>Bandung atau San Marcos?</title><content type='html'>&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5232193120842137554" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SJx77AwJv9I/AAAAAAAAB8U/bMmoW45SFE0/s320/outlet1.JPG" border="0" /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5232193116739082146" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SJx76xd6F6I/AAAAAAAAB8M/3w5jGIMBF1M/s320/outlet2.JPG" border="0" /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5232193116885120642" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SJx76yAudoI/AAAAAAAAB8E/Woka3wJ_X9w/s320/outlet3.JPG" border="0" /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SJx762qNDKI/AAAAAAAAB78/KoNbEUx9tGw/s1600-h/outlet4.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5232193118132833442" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SJx762qNDKI/AAAAAAAAB78/KoNbEUx9tGw/s320/outlet4.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Saya tau ini adalah bagian dari konsumerisme, yang kadang bisa bagus, tapi banyak juga sisi jeleknya. Tapi tidak bisa dipungkiri, saya kangen belanja di Bandung!!!!! Lain rasanya dengan belanja di Round Rock Outlet atau di San Marcos...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Gambar diambil dari: &lt;a href="http://the-fool-found-a.blogspot.com/"&gt;Isman H. Suryaman's Weblog&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-723705775363034455?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/723705775363034455/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=723705775363034455' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/723705775363034455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/723705775363034455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/08/pesona-bandung.html' title='Bandung atau San Marcos?'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SJx77AwJv9I/AAAAAAAAB8U/bMmoW45SFE0/s72-c/outlet1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-5213399985774040628</id><published>2008-08-06T08:54:00.000-07:00</published><updated>2008-08-06T10:31:55.895-07:00</updated><title type='text'>Indonesia vs. Inggris (Bagian 1)</title><content type='html'>Sering kan kita lihat di Indonesia banyak tanda-tanda dalam berbahasa Inggris yang salah penulisannya. Macam-macam jenisnya, bisa ejaannya, tata bahasanya, salah pemakaian kata, dan sebagainya. Seperti ini nih, contohnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231434884101440194" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SJnKT0x0AsI/AAAAAAAAB6s/OrhWmYlN5aU/s320/under+contraction.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah sebuah tanda di pintu hotel di daerah Bandung. Yang bener aja,&lt;em&gt; &lt;/em&gt;Mas? Hotelnya mau melahirkan, ya? Kok, pakai kontraksi-kontraksi segala?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, melihat bahasa Inggris yang salah seperti itu sih, biasanya saya ga terlalu ambil pusing. Lagian, cuma tanda kecil saja, cuma diprint di kertas HVS dan ditempel seadanya. Ya, mungkin aja si Mas yang bikin, guru bahasa Inggrisnya pas di sekolah dulu kurang bagus, atau bisa jadi dia salah lihat kamus. Dimaklumi lah, namanya juga bahasa asing, bukan bahasa ibu kita sendiri. Saya sendiri juga suka salah-salah, kok, kalau menulis dalam bahasa Inggris; selain kata-katanya jauh lebih beragam dibandingkan dengan bahasa Indonesia, banyak dari kata-kata itu yang memang mirip-mirip. Yah, "construction" sama "contraction", ga jauh beda kan? (Tos dulu dong, Mas!!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, tapi terkadang, ada tanda-tanda yang mewakili banyak orang. Isi dari pernyataan itu pun diyakini banyak orang. Dan, mau sebagus apa pun pernyataanya, kalau digubah ke bahasa Inggris dan jadi salah, yah, jadi tidak terdengar bagus lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231434874497523986" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SJnKTRAD4RI/AAAAAAAAB6U/DGxd61IhtzE/s320/Demo.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Setengah dari diri saya ingin bertepuk tangan, menyemangati bapak-bapak ini, "Bagus, Pak! Memang harus sekarang dan memang harus saya!!!" Tapi sayang yang setengah lagi sedikit ingin mentertawakan. Maaf, ya, Pak, sungguh saya kagum dengan usahanya untuk berdemo, memperbaiki apa yang tidak baik. Saya sendiri belum pernah ikut turut ke jalan dan berdemo. Tapi, terus terang pesan yang serius dan menggugah hati pun, bisa terdengar konyol kalau salah diterjemahkan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, yang jauh lebih parah adalah pesan-pesan berbahasa Inggris yang salah, yang disampaikan oleh pemerintah atau badan-badan pemerintah. Bagaimana ya, seharusnya pemerintah kalau mau dihormati dan dipandang tinggi, tidak boleh membuat kesalahan-kesalahan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SJnOjvzJgWI/AAAAAAAAB7M/7IqCIzS2UcI/s1600-h/airport.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231439555689283938" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SJnOjvzJgWI/AAAAAAAAB7M/7IqCIzS2UcI/s320/airport.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ini adalah papan pesan yang berada di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Bukannya cuma salah, tapi juga membingungkan bagi orang-orang asing. Dalam bahasa Indonesia, papan ini berbunyi, "Bila Anda melihat sesuatu yang mencurigakan atau akan mengganggu keselamatan penerbangan, segera hubungi kami."  Mungkin orang Indonesia bisa lebih akurat dalam menebak maksudnya, tapi saya membayangkan orang-orang asing mengernyitkan dahi untuk beberapa saat di depan papan ini. Dan ketika si "orang mencurigakan" sudah lewat jauh dari pandangan si bule, baru deh dia mengerti artinya. Yah, basi dong. Bukannya pesan ini lumayan penting, ya? Kalau ditulis secara salah begini, pesannya jadi tidak efektif, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231434882767829490" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SJnKTvz2ufI/AAAAAAAAB6k/n_WUXD4r0WU/s320/narkoba.jpg" border="0" /&gt;Kalau yang ini adalah papan pesan dari pemerintah Kabupaten Cianjur. Bukan cuma tidak efektif lagi, tapi justru bertentangan dengan maksud awalnya!!!!! Aduh, bahaya sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melihat papan ini, isu salah menerjemahkan ini berubah dari sesuatu yang tadinya ditertawakan, menjadi sesuatu yang lebih serius. Apakah sungguh pemerintah menyuruh menyembunyikan Narkoba? Tentu, tidak! Tapi, bagi orang-orang asing, cuma bagian "Hide drug" saja yang mereka mengerti. Salah siapa jadinya kalau ada yang menyembunyikan? Saya jadi berpikir, apa petinggi-petinggi negara ini tidak memastikan terlebih dahulu artinya? Atau, mereka asal jadi saja dan cepat-cepat pasang? Apa buat mereka pesan-pesan ini tidak sepenting itu sehingga tidak perlu dicek berulang-ulang sebelum benar-benar dipasang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, kalau memang tidak perlu, tidak usah lah kita menulis pesan-pesan yang ditujukan untuk masyarakat memakai bahasa Inggris. Kalau memang perlu, pastikan dulu kalau terjemahannya benar. Bukannya apa-apa, tapi kalau malah jadi membingungkan, mendingan jangan dipasang. Pesan-pesan masyarakat dalam berbahasa Inggris ini sangat penting, menunjukan citra pemerintah, dan menunjukan citra Indonesia bagi orang-orang asing. Seperti moto kebanyakan tukang kayu, "Ukurlah dua kali, potonglah satu kali," begitu juga halnya dengan pesan-pesan ini. Pastikanlah pesannya benar berkali-kali, sebelum dipampangkan ke masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mungkin alternatif solusi yang lain, sengaja untuk membuat bahasa Inggris versi Indonesia, seperti apa yang negara tetangga kita punya??? Mungkin Indolish akan menyelesaikan masalah ini!!&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SJnOkDVU__I/AAAAAAAAB7U/pZ9R_CfaAjs/s1600-h/singlish.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231439560932917234" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SJnOkDVU__I/AAAAAAAAB7U/pZ9R_CfaAjs/s320/singlish.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SJnK11qZUfI/AAAAAAAAB68/5xxCj1oHYOI/s1600-h/spaceball.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231435468454318578" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SJnK11qZUfI/AAAAAAAAB68/5xxCj1oHYOI/s320/spaceball.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-5213399985774040628?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/5213399985774040628/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=5213399985774040628' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/5213399985774040628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/5213399985774040628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/08/indonesia-vs-inggris-bagian-1.html' title='Indonesia vs. Inggris (Bagian 1)'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SJnKT0x0AsI/AAAAAAAAB6s/OrhWmYlN5aU/s72-c/under+contraction.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-3303693069629632446</id><published>2008-08-02T20:12:00.000-07:00</published><updated>2008-08-02T20:14:46.716-07:00</updated><title type='text'>Petualangan Kaum Muda Indonesia</title><content type='html'>&lt;div id=":xb" class="ArwC7c ckChnd"&gt;&lt;div dir="ltr"&gt;Belajar di luar negeri: kesempatan bagi kaum muda Indonesia yang mampu "membeli" pendidikan dengan kualitas yang diidam-idamkan, baik dengan biaya sendiri ataupun beasiswa. Tetapi sayang, saat meninggalkan tanah air, bukanlah identitas Indonesia yang dibawa, melainkan budaya yang dianggap nyaman untuk diadopsi, yaitu trend yang banyak dipengaruhi oleh ukuran "coolness." Pudarnya kebanggaan akan negara sendiri, perbedaan etnis, dan motif pribadi menjauhkan kaum intelektual muda dari nasionalisme.  &lt;p&gt;Nasionalisme, kata yang hampir asing dari kacamata seorang mahasiswa luar negeri seperti saya. Semenjak kecil, kata "nasionalisme" hanyalah bagian dari bacaan di buku-buku pelajaran. Walaupun dijejali dengan ini selama bertahun-tahun di sekolah, tiada nilai kebangsaan membekas. Ingatan masa remaja banyak dipenuhi oleh bujukan orang tua akan "pentingnya" menemukan keamanan dalam arti literal atau finansial dengan keadaan Indonesia yang terlihat semakin memburuk setelah krisis moneter 1998. Jika keamanan ini tak ditemukan di Indonesia, berarti negeri orang lah yang menjadi solusi. Dengan pandangan seperti ini yang dipupuk saat pikiran seorang remaja dibentuk, yang timbul adalah kritik-kritik keras tentang Indonesia tanpa adanya usaha untuk menyelidiki seluk beluk negara sendiri. Lalu, kesempatan datang untuk saya bersekolah di luar negeri yang dibawa adalah "kartu identitas" di mana tercantum Indonesia hanya sebagai kependudukan dan bahasa. Terlampau sombong, saya menjunjung tinggi idealisme yang terdapat di negara-negara tempat saya singgah sebagai pelajar seperti Amerika Serikat dan Australia. Kesempatan untuk mendapatkan kependudukan di luar negeri benar-benar diincar. Sebagai pelajar, pilihan jurusan pun dipengaruhi oleh prospek pekerjaan di negara yang bersangkutan. Sebagai pelajar yang ambisius, keinginan meraih sukses di negeri orang sangat kuat. Melihat teman yang bisa sukses di sana, munculah kekaguman; tetapi saat melihat teman yang pulang ke tanah air, dalam hati saya bertanya, "mau cari apa di tanah gersang dan korup seperti di Indonesia?" Sayangnya, saya tidak sendirian. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;"Coolness" telah menjadi tolak ukur suatu nilai budaya yang dipakai kaum muda dan adalah jurang pemisah antara jiwa muda dan nasionalisme. Tolak ukur ini mungkin sebagian besar dipakai berdasarkan rasa percaya diri pada kaum muda yang muncul saat mengadopsi nilai tersebut. Nilai-nilai budaya yang sering dibandingkan ukuran coolness-nya biasanya adalah cara berpakaian, gadgets (barang-barang elektronik), sampai cara berbicara ataupun cara hidup secara menyeluruh (lifestyle). Di kota-kota yang berkesempatan untuk berkembang bersama globalisasi, anak-anak muda terlihat mengikuti jaman dengan pengaruh-pengaruh luar seperti lifestyle "ngafè", clubbing, atau yang sangat &lt;i&gt;simple&lt;/i&gt; seperti film dan musik mancanegara. Fakta ini tidak harus ditranslasikan sebagai ungkapan rasa malu kaum muda akan budaya Indonesia yang asli, tetapi karena level coolness yang tak ditemukan pada budaya sendiri mengarahkan kami pada nilai-nilai budaya yang dilihat di media. Inilah yang dibawa saat bertolak dari Indonesia untuk belajar di negeri orang. Saat bertemu nilai budaya yang lebih "cool" di negara tersebut, hilanglah kebanggaan atas negara sendiri dan akhirnya identitas kaum muda dapat dipertanyakan. Salah satu implikasinya, beberapa Permias (Pesatuan Mahasiswa Indonesia di AS) akhirnya terjerat dengan operasi yang didasarkan atas &lt;i&gt;fun&lt;/i&gt;, sedikit yang mempertahankan nilai budaya nasional dalam kegiatan-kegiatannya dan lebih sedikit lagi yang berani menunjukkan kultur pada masyarakat lokal di sana. Di Australia, saya pribadi belum menemukan wadah untuk apresiasi budaya, yang ada hanya pertemanan antar pelajar setanah air, dan tak lupa &lt;i&gt;fun&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Paradoks: tidak seharusnya saya kaget tentang mereka yang berencana pulang ke Indonesia. Mendengar kisah hidup teman sebangsa, Indonesia bukanlah tujuan mereka, melainkan orang tua atau bisnis yang memberi arah hidup untuk selanjutnya. Dengan sedikit pilihan (atas permintaan orang tua dan sulitnya mendapat visa atau pekerjaan di luar), teman-teman melihat Indonesia sebagai lahan subur untuk meraup keuntungan dengan bisnis. Tentu saja ini bukan hal yang sepenuhnya buruk. Indonesia membutuhkan mereka yang dapat membangun fondasi ekonomi Indonesia supaya lebih kokoh. Tetapi, ketika bisnis yang dibicarakan, hal-hal lain seperti kesejahteraan buruh, konservasi lingkungan, tantangan untuk memerangi birokrasi yang mahal (alias korupsi) dalam berbisnis tidak didiskusikan. Dengan dasar manusia yang menjunjung tinggi kepentingan sendiri, kurangnya informasi tentang keadaan Indonesia sering disalahkan hanya pada pemerintah. Kalau diselidiki lebih jauh, ketika informasi ini sudah disampaikan, kaum muda malah berbalik karena mengedepankan rasa ketidakmampuan untuk membuat perubahan dalam skala besar. Yang terasa mungkin dilakukan hanya meningkatkan standar hidup sendiri atau keluarga tanpa batas.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saya adalah produk &lt;i&gt;pluralism&lt;/i&gt; di Indonesia. Dengan etnis Tionghoa, saya dilanda kebingungan. Saat ditanya oleh teman-teman lokal di sana akan identitas, jawaban saya adalah "Chinese Indonesian." Lebih bingung lagi saat dipertanyakan akan nilai-nilai budaya Chinese yang tak saya miliki secara &lt;i&gt;whole&lt;/i&gt;, contoh paling mudah: bahasa. Gerakan multietnik sudah terjadi secara diam-diam. Saya harus bertanya pada diri sendiri, apakah mungkin persatuan dapat muncul jika saya terus menekankan identitas etnis sebelum menyebutkan "Indonesia"?  Tak terlupa, tahun-tahun terakhir dipenuhi gerakan-gerakan etnis atau regional yang meminta kemerdekaan dari pemerintahan Indonesia. Faktor-faktor seperti ketidakpuasan akan hak-hak etnis, perbedaan yang ditekan pada masa Orde Baru, pembangunan yang tidak merata menjadi dasar serangan-serangan. Penurunan bendera Indonesia hanya salah satu contohnya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kaum intelektual muda yang berpotensi untuk berpikir bukanlah jumlah yang kecil. Banyak mereka yang berpetualang meraih gelar Doktor atau memenangkan kejuaran tingkat internasional. Tidak terlupa, mereka yang di luar negeri mengecap pendidikan di sekolah-sekolah ternama, walaupun hanya untuk gelar sarjana atau master. Bukan tidak mungkin potensi untuk memperbaiki segala aspek bernegara dapat dikembangkan dengan dibantu oleh nasionalisme. Pertanyaannya, apakah kaum terdidik ini hanya melihat apa yang ditawarkan oleh Indonesia atau mereka ternyata melihat apa yang dapat mereka tawarkan pada masyarakat Indonesia yang masih membutuhkan kaum pelopor dan pejuang bangsa? Pilihan yang kedua tampak sangat ideal, maka tampak sulit dicapai. Jika benar ini sulit, nasionalisme juga akan tampak sulit untuk dipupuk di benak kaum muda. Jika tidak benar, karakter nasionalisme memang terbukti eksistensinya&lt;i&gt; &lt;/i&gt;di beberapa negara lain. Saya harus salut pada mereka yang pulang dan membawa pendidikan mahal mereka untuk ambil bagian dalam pembangunan, bukan untuk motif personal. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tulisan ini memang tampak tidak relevan dengan keadaan Indonesia secara umum, terutama masyarakat kelas menengah ke bawah. Secara statistik, mungkin hanya kurang dari 5% kaum muda yang mendapat kesempatan untuk belajar di luar negeri. Beberapa pembaca mungkin segan mempertimbangkan fakta ini jika kesenjangan sosial diidentifikasi. Sebaliknya, media tulis terkadang menceritakan kisah-kisah TKI atau TKW yang segan pulang ke Indonesia. Alasan yang paling utama adalah gaji yang memberi keamanan finansial. Mereka tak dapat menepis kekhawatiran mereka akan sulitnya mendapat standar hidup yang sama di negeri sendiri. Media yang memuat pun tak dapat menepis fakta yang sama. Ternyata bukan cuma mereka yang beruntung saja memilih kehidupan yang layak (atau lebih mudah) daripada perjuangan di Indonesia. Dampaknya, tidak diragukan lagi, adalah pesimisme dari berbeda kalangan ekonomi yang menggerogoti nasionalisme. Presentasi pelajar di luar negeri (atau di Indonesia sekalipun) yang bisa dibilang sangat kecil memiliki potensi besar untuk memiliki satu visi yang kokoh untuk menjadi kelompok pemikir atau pelopor. Visi yang sama dan kokoh di antara kaum muda dengan berbagai latar belakang ekonomi dan budaya apalagi kalau bukan dimotivasi oleh nasionalisme. Di Indonesia khususnya, nasionalisme bukan hanya identik dengan kebanggaan, tetapi juga kemampuan untuk mengesampingkan perbedaan untuk menjunjung tinggi rasa "sebangsa dan setanah air" dan menuju garis finis yang sama.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;The "cool culture", supremasi kepentingan pribadi, dan identitas etnis telah melahap kaum muda bulat-bulat. Produk dari potensi kaum muda adalah karya di negeri orang dan kritik keras dari kejauhan, tanpa aksi. Kekayaan budaya terpuruk dengan sedikitnya kaum penerus. &lt;i&gt;Social capital&lt;/i&gt; antar etnis yang sangat dibutuhkan sebagai pilar NKRI tak dipupuk. Nasionalisme, apalagi &lt;i&gt;nation building&lt;/i&gt;, terlihat jauh di seberang lautan. Siapa hendak menyeberang?     &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setra&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-3303693069629632446?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/3303693069629632446/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=3303693069629632446' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/3303693069629632446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/3303693069629632446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/08/petualangan-kaum-muda-indonesia.html' title='Petualangan Kaum Muda Indonesia'/><author><name>Setra Yappi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10046844846254499718</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-3287297605902940879</id><published>2008-07-31T21:24:00.000-07:00</published><updated>2008-07-31T21:32:25.986-07:00</updated><title type='text'>Komunitasku</title><content type='html'>Oleh: Handi Chandra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heyii Austinites,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mau bagi-bagi perenungan tentang komunitas aja. Selamat menikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika…&lt;br /&gt;kebersamaan menjadi biasakasih, percaya, dan keterbukaan makin langka&lt;br /&gt;umur dan senioritas bukanlah masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika…&lt;br /&gt;hubungan diidamkan&lt;br /&gt;keberadaan hanyalah bayaran dimukadi&lt;br /&gt;jaman serba cepat ini, waktu menjadi komitmennya. .&lt;br /&gt;yes, it takes time!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika…&lt;br /&gt;realita dan pengorbanan memberi bentuk&lt;br /&gt;mahalnya nyaman dan harmonis masih sanggup dibayar&lt;br /&gt;apa adanya… jujur… sepeser pun tidak keluar&lt;br /&gt;konflik tidak apa asal ada penyelesaiannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas&lt;br /&gt;satu prinsip&lt;br /&gt;satu hati, visi dan arah&lt;br /&gt;satu pikiran, tujuan, misi,&lt;br /&gt;persatuan tapi tidak keberagaman, kesatuan tapi tidak kesamaan&lt;br /&gt;semuanya kaya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitasku bertumbuh…&lt;br /&gt;ku mengenal diri…&lt;br /&gt;teruji dalam ruang, waktu…&lt;br /&gt;gaya hidupku seperti ini dan budaya kita…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas&lt;br /&gt;antara aku, kamu&lt;br /&gt;hidup mana yang ingin kamu sentuh sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- terima kasih untuk teman saya, bacaan dan pembaca juga&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-3287297605902940879?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/3287297605902940879/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=3287297605902940879' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/3287297605902940879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/3287297605902940879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/07/komunitasku.html' title='Komunitasku'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-6809370317410927700</id><published>2008-07-31T20:48:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T16:57:48.605-08:00</updated><title type='text'>Arisan Ala Ibu-ibu di Texas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SJNwtJpcvXI/AAAAAAAAB6A/N5jRQmgxUaY/s1600-h/maria.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SJNwtJpcvXI/AAAAAAAAB6A/N5jRQmgxUaY/s320/maria.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229647513293471090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Maria Coleman, 13-Mei-2008 (dimuat di &lt;a href="http://www.kabarindonesia.com/"&gt;www.kabarindonesia.com&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu pagi yang indah, matahari bersinar cerah, tiada mendung sedikit pun di langit. Pagi itu, Brushy Creek Lake Park, sebuah taman umum di kota Cedar Park, Texas, masih tampak sepi pengunjung. Di sejumlah area berdiri gazebo yang disediakan bagi keluarga yang ingin mengadakan pesta ulang tahun atau pertemuan non-kasual bersama teman dan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan suamiku berjalan seputar taman mencari tanda berupa balon warna warni, seperti yang tertulis di undangan via email yang kuterima. Lalu kulihat lambaian tangan beberapa orang wanita berwajah Asia. Nah, tak salah lagi, pasti ini tempatnya. Kami berjalan mendekat, dan seorang dari mereka menyongsong kami dengan wajah gembira. "Halo, selamat datang! Apa kabar? Kenalkan, ini Esa. Anda siapa?" Lalu mulailah perkenalan kami dengan komunitas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Arisan dan Pot Luck&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas Indonesia ini populer dengan sebutan Arisan and Pot Luck. Apa itu "Pot Luck"? Esa Adamson-Rhinevault, yang akrab dipanggil Esa, sang koordinator komunitas menerangkan, "Awalnya karena saya senang sekali mengumpulkan teman-teman untuk saling bertukar informasi sambil makan-makan." Setiap anggota boleh (dan diharapkan) membawa masakan dan minuman ala Indonesia. Makanan dan minuman ini nantinya akan dinikmati bersama anggota yang lain. Cara ini populer disebut "pot luck" di negeri Paman Sam. Butet, yang saat itu datang membawa tape uli buatannya, tak bisa menahan diri untuk mencicipi telur balado buatan Tina Chute, yang saat itu datang bersama puteranya, Nathan. "Serasa berada di kampung halaman", katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agenda utama komunitas ini sebenarnya adalah arisan dengan tarikan sebesar $50.00 per orang. Tapi, jelas Esa, tidak semua anggota diwajibkan ikut serta dalam arisan yang total anggotanya sekarang mencapai 12 orang. "Semua orang Indonesia yang tinggal di sekitar Austin, Texas, boleh datang dan ikut arisan ini dengan jaminan jujur dan tanggung jawab untuk bayar setiap bulannya sampai yang menang terakhir," demikian Esa menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan diadakan setiap bulan dengan lokasi berbeda, tergantung siapa yang menang arisan. Anggota komunitas ini adalah wanita-wanita Indonesia yang bekerja di Amerika atau menikah dengan warga negara Amerika. Dari segi jangkauan wilayah, anggota komunitas ini tersebar di berbagai kota di Texas. Merry McCromack yang pagi itu datang dengan anak dan suaminya dari San Antonio, Texas, begitu hanyut dalam obrolan, "Sampai saya lupa kalau bawa anak..ha..ha..," guraunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang tidak ingin ambil bagian dalam arisan, mereka bisa menambah wawasan dengan saling tukar informasi tentang berbagai hal, mulai dari resep masakan sampai info lowongan kerja. "Saling mengenal satu sama lain dan mempererat tali silaturahmi antar saudara setanah air, itulah sebenarnya tujuan utama komunitas ini," demikian Esa menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang arisan tidak harus menjadi tuan rumah untuk acara arisan bulan berikutnya. Dia bisa minta Esa sebagai koordinator untuk menentukan tanggal dan tempatnya. Demi alasan praktis, acara bisa diadakan di taman-taman kota, yang umumnya dilengkapi dengan fasilitas meja dan kursi taman, barbeque pit (memanggang daging sambil rekreasi di taman sangat digemari di Amerika), fasilitas olah raga dan kolam renang atau danau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari bergerak naik, piring-piring saji di meja tampak bersih, tak ada makanan tersisa. Tibalah saat untuk kembali ke rumah, kembali ke rutinitas biasa. Wajah-wajah gembira saling berpelukan dengan salam hangat, "Sampai berjumpa di arisan bulan depan..."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-6809370317410927700?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/6809370317410927700/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=6809370317410927700' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/6809370317410927700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/6809370317410927700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/07/austin-cinta-indonesia.html' title='Arisan Ala Ibu-ibu di Texas'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SJNwtJpcvXI/AAAAAAAAB6A/N5jRQmgxUaY/s72-c/maria.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-5017862318219409547</id><published>2008-07-30T23:09:00.000-07:00</published><updated>2008-07-30T23:12:56.201-07:00</updated><title type='text'>Cerita Indonesia</title><content type='html'>By: Vidia Paramita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I was studying for a test this morning. As usual, the Internet, the door to a world where all knowledge is yours and all imaginations are virtually realized, tempted me. It's really amazing what information you can get on the Internet, isn't it? And it's really amazing that I rarely able to resist opening up one window even though I fully aware that it'll take me to many others and finally cost me 2 hours of sleep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okay, back to what I wanted to say. I went browsing for a while, and came across this blog co-authored by Aris Heru Utomo, &lt;a href="http://www.kapucino.org/" modo="false"&gt;Fahrizal Leksa&lt;/a&gt;, and &lt;a href="http://blog.imanbrotoseno.com/" modo="false"&gt;Iman Brotoseno&lt;/a&gt;. I honestly don't know who they are, and I'll take the risk of standing guilty on the charge of social ignorance if they happen to be some famous people. Do tell me if you know who they are. Their blog was released at the start of this year, so it's pretty new. It's called &lt;a href="http://www.blogger.com/www.ceritaindonesia.wordpress.com"&gt;Cerita Indonesia&lt;/a&gt;, which means The Story of Indonesia.The concept is simple and interesting; using pictures to convey historical moments. They just add a caption or a short paragraph below it as an explanation. There's not much facts or details, but as commonly said, picture says a thousand words. And I'm more of a visual person anyways, so it works out to be perfect for me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It's really interesting that as I read the entries one by one, I realized that... man, I don't know anything about my own country. Well, I know some things bout the 1998 racial riot, the corruption, Orde Baru, Poso riot, etc etc. But I don't know any of them deep enough to actually understand what's happening in my country. I'm a little ashamed, as I often think of myself as having that patriotic soul. But, here I am enjoying an untypical Indonesian life, and acting all apathetic about what's happening back home. So, it's great that once in a while I'm reminded about the realities and facts of my country and reminded to stay grounded to my roots.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There is &lt;a href="http://ceritaindonesia.wordpress.com/page/4/"&gt;one gory picture&lt;/a&gt; on the blog that made me sick to my stomach. It depicted the riot between two ethnics in Central Borneo where the Madura people as the immigrants where chased after and killed by the native Dayak people. For those who dare not see the picture, it's basically showing a Dayak person parading the head of a Madura man that was beheaded. I usually tend to give my empathy to the losing side, in this case, the Madura people. I tend to support the weaker party, just to see if they could rise to the occasion and do something to turn the table around. But, as I think more about it, I realized that in this war, both sides are weak. And it's possible that the Dayak people is even more vulnerable. It takes a lot of anger and a lot of oppression for a person to hurt others. So, I couldn't imagine how oppressed the person in the picture was such that he reached the point of killing, and was actually numb towards his own sadistic action.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That's a little bit of what's happening in a small part of Indonesia. Other parts have their own unique story. Some are equally sad, some are not as bad. But they all share a history that moulds the country to become what it is right now. So, if you want to know a little more about Indonesia, check the blog out. It's history in a more interesting package than the usual history textbook.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-5017862318219409547?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/5017862318219409547/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=5017862318219409547' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/5017862318219409547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/5017862318219409547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/07/cerita-indonesia.html' title='Cerita Indonesia'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5003914332436136019.post-5208703250061805440</id><published>2008-07-30T20:18:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T16:57:49.758-08:00</updated><title type='text'>Indonesia in 7 Wonders of Nature</title><content type='html'>By: Vidia Paramita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I got an email from a friend about the &lt;a href="http://www.new7wonders.com/classic/en/index/"&gt;New 7 Wonders of Nature&lt;/a&gt;. This project will continue on until the end of this year and by the end we would have our 7 wonders of nature by popular votes. Indonesia proudly presents her three nominations for the wonders: Komodo Island, Lake Toba, and Krakatau Volcanic Island. Join in and vote for Indonesia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229050694127344834" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SJFR5s_4XMI/AAAAAAAAB5Q/jR6T9MvwDJA/s320/ntt_komodo_tnkpic01_jpg.jpg" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;Komodo Island &lt;/p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229050698114468162" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SJFR572fCUI/AAAAAAAAB5g/OzpMx-DbGkI/s320/lake-toba-274268-sw.jpg" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;Lake Toba&lt;/p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229050697273087890" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SJFR54t4l5I/AAAAAAAAB5Y/9WSA3ejD63s/s320/krakatau_52905.jpg" border="0" /&gt; &lt;p align="left"&gt;Krakatau Volcanic Island&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the current list of 77 wonders, Komodo Island ranks pretty high at 23, but the other two are not doing so good at 41 and 40. It's shocking and embarassing for me at the same time, seeing that Bukit Timah Nature Reserve of Singapore beats us as it sits at rank 38. I just don't think that it represents the truth. What it basically means is the Singaporeans have a lot more access to the Internet and technology that they can cast more votes than the Indonesians.You may have caught a slightly bitter tone there, but truthfully, I do love Singapore. Having been there for 4 years and gone through the lifestyle and the education system, I consider myself partly Singaporean. And I would be rude and selfish not to thank them for raising me up to become what I am right now. Some of my most amazing friendships were nurtured in Singapore and I am most thankful for them. So, I am not gonna blame and curse that lovely little island for doing an excellent job on strengthening their human resource.&lt;/p&gt;I'm just sad, I guess, seeing my country falls behind albeit its unbelievable natural resources and heavenly getaway spots. I echo the message from "&lt;a href="http://www.cwtv.com/shows/beauty-and-the-geek"&gt;Beauty and the Geek&lt;/a&gt;" reality show, "brain and brawn should go side by side." Indonesia is like the blonde hotel heiress; lost in her richness, totally unprepared for the responsibility to manage her wealth. But, we've been lost for decades. we've fooled around quite some time, and we've fallen uncountable times. Aren't we supposed to buck up already and try not to stay behind in our class this time?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And it's pretty scary that as I wrote with a fiery soul, a frustrated heart, and a somewhat patriotic mind, I realized that in not so distant future my generation is going to take over. It's not gonna be all blaming and complaining anymore, because I'm gonna be a part of the generation that runs the country. If there's anyone to blame, it would largely be me, us, my generation. Hmm... that's something to chew on for a while...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5003914332436136019-5208703250061805440?l=kopisusu-austin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/feeds/5208703250061805440/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5003914332436136019&amp;postID=5208703250061805440' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/5208703250061805440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5003914332436136019/posts/default/5208703250061805440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kopisusu-austin.blogspot.com/2008/07/indonesia-in-7-wonders-of-nature.html' title='Indonesia in 7 Wonders of Nature'/><author><name>Vidia Paramita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03484203712267036162</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-1DFvIsPP9H4/TcqjiOq2E8I/AAAAAAAAHcE/0U_kEfsJ7Cs/s220/vid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_yr_ptPsm2AE/SJFR5s_4XMI/AAAAAAAAB5Q/jR6T9MvwDJA/s72-c/ntt_komodo_tnkpic01_jpg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
